Tuesday , 18 December 2018
update
Kisah Ikrimah, Sang Anak Abu Jahal

Kisah Ikrimah, Sang Anak Abu Jahal

buku gramed (3)

Judul buku: Ikrimah: Penentang Jadi Pembela

Penulis: Abdul Latip Talib

Tebal: xviii + 260 halaman

Penerbit: Madania Prima (kelompok Penerbit Salamadani)

Tahun terbit: 2008

Pernah dengar sahabat Nabi Muhammad SAW yang bernama Ikrimah? Mungkin saja namanya bagi sebagian kita tak sekondang Abu Bakar, Umar, Utsman, atau ‘Ali. Tapi, percayalah bahwa setiap pribadi sahabat Rasulullah memang “unik”. Bersama keimanan mereka yang sudah menghunjam, selalu ada kepribadian khas pada masing-masing sahabat Nabi tersebut. Bagi saya, Ikrimah adalah salah satu sahabat Nabi yang unik dan layak kita lacak lika-liku kehidupannya.

Buku berjudul Ikrimah: Penentang Jadi Pembela ini adalah salah satu referensi asyik untuk menyelami kisah hidup sahabat Nabi yang satu ini. Buku terbitan Madania Prima (kelompok Penerbit Salamadani) ini secara apik mengajak pembaca ikut dalam petualangan seru Ikrimah. Penulis dengan cerdas mengemas kisah Ikrimah ini dalam bentuk novel yang merupakan satu dari rangkaian seri bertajuk Islamic War Lord Series.

Mengapa Ikrimah bisa disebut sahabat yang unik? Pertama, Ikrimah adalah anak kandung Abu Jahal. Seantero dunia mengenal Abu Jahal dan Abu Lahab adalah duo pemimpin Quraisy yang amat membenci Rasulullah. Abu Jahal bahkan mati dalam keadaan masih kafir di medan Perang Badar. Hal unik kedua yang melekat pada Ikrimah ialah perjalanan panjangnya menuju hidayah. Dialah salah seorang dari kalangan petinggi Quraisy yang yang terakhir kali masuk Islam pasca-peristiwa Fathu Makkah. Ketiga, dialah yang boleh disebut sebagai salah satu perantara kemenangan pasukan Islam dalam Perang Yarmuk melawan imperium Romawi.

Pada mulanya, dalih sebagai keturunan Abu Jahal membuat Ikrimah amat membenci Rasulullah dan semua hal terkait dengan beliau. Selain karena keyakinan bahwa Islam adalah gangguan bagi ideologi Jahiliyah yang diyakininya, Ikrimah juga punya dendam pribadi kepada Rasulullah. Dia menganggap bahwa Rasulullah adalah orang yang paling bertanggung jawab terhadap kematian ayah Ikrimah, Abu Jahal.

Dendam itu kemudian berbuah kerasnya hati Ikrimah. Ini dibuktikan dengan ngototnya dia untuk melawan Rasulullah dan kaum muslimin sesaat sebelum Fathu Makkah. Bersama sahabat-sahabat setianya, Ikrimah sempat mencegah pasukan yang dipimpin Khalid bin Walid sebelum masuk Makkah. Namun takdir Allah menghendaki pasukan Khalid mengungguli gerombolan Ikrimah. Alih-alih menyerah menerima kekalahan, Ikrimah dan sisa pengikutnya malah kabur dari Makkah. Tekadnya sudah bulat waktu itu: terus melawan Rasulullah demi merebut kembali kota suci Makkah. Meski pada akhirnya Ikrimah tinggal seorang diri mencari dukungan ke banyak tempat, dia tetap kekeuh pada prinsip.

Karena Allah berkehendak lain, Ikrimah pun mendapatkan hidayah. Proses itu memang tidak singkat. Ikrimah terbuka hatinya setelah selamat dari badai topan di kapal dan dialog dengan Raja Habsya. Ceritanya, setelah berkelana mencari pendukung, Ikrimah memutuskan pergi ke negeri Habsya. Dengan menumpang sebuah kapal, berlayarlah dia. Dalam perjalanan laut itu, badai topan dahsyat menimpa kapal yang ditumpangi Ikrimah. Karena takut mati, dia pun berdoa dengan menyebut nama Latta dan Uzza (nama tuhan dari berhala zaman Jahiliyah). Badai topan tak berhenti. Karena mengikut seorang penumpang kapal yang ternyata seorang muslim, Ikrimah pun berdoa:

Ya Allah, aku berjanji sekiranya Engkau menyelamatkanku dari bencana ini, aku akan kembali ke Makkah untuk bertemu dengan Muhammad. Aku akan meletakkan tanganku di atas tangannya untuk meminta ampun dan meminta maaf. Semoga dia seorang yang pemaaf.” (hal. 85)

Dengan izin Allah, badai pun berhenti setelah Ikrimah berdoa dengan ikhlas dan sungguh-sungguh. Maka, dalam hati mulai timbul tekad untuk menyerah, meminta maaf, dan masuk Islam. Namun, karena janji mengawal kapal sampai ke tujuan, Ikrimah melanjutkan perjalanan menuju Habsyah.

Mengetahui ada orang dari Makkah yang datang, Raja Habsyah mengundang Ikrimah datang ke istana. Di sanalah dia berdialog dengan si raja yang ternyata penasaran dengan kabar adanya Nabi dari Makkah. Setelah Ikrimah menjelaskan ciri-ciri Rasulullah Muhammad, Raja Habsyah berkata kepada Ikrimah:

Sampaikan salam saya kepada Muhammad. Katakan kepadanya, saya mengakui dia memang seorang nabi. Tidak lama lagi saya akan mengutus satu rombongan untuk mengantarkan hadiah kepadanya” (hal. 88)

Ikrimah menjadi semakin mantap atas keputusan yang akan diambilnya. Berlayarlah dia kembali ke Makkah hendak menemui Rasulullah. Perasaan bencinya kini sudah berganti menjadi cinta kasih.

Singkat cerita, Ikrimah masuk Islam beberapa hari setelah bertemu Rasulullah. Dia benar-benar mengucap syahadat usai mengalami satu kejadian “aneh” lainnya, yaitu diselamatkan nyawanya oleh Allah melalui perantara pohon Salameqi (hal. 148-156). Mulai hari itulah, dia laksana terlahir kembali dengan semangat baru.

Kemudian, menyadari keterlambatannya masuk Islam, Ikrimah membayarnya dengan selalu ikut dalam peperangan melawan musuh Rasulullah. Hingga setelah wafatnya Rasulullah dan pemerintahan dipegang Khalifah Abu Bakar, Ikrimah selalu berada di barisan terdepan dalam membela agama Allah. Bahkan beberapa kali khalifah mengangkatnya menjadi pimpinan dan panglima di wilayah atau misi perang tertentu.

Puncaknya, Ikrimah bergabung dalam pasukan yang dipimpin Khalid bin Walid dalam Perang Yarmuk melawan Romawi. Saat kaum muslimin hampir kalah, Ikrimah tampil di hadapan pasukan muslimin dan menyeru:

Pada hari ini, saya akan menggempur tentara Romawi sampai saya syahid. Siapa di antara kalian yang berani mari bersama saya?” (hal. 254)

Dalam waktu singkat, 400 orang tentara Islam berani mati menyertai Ikrimah. Keberanian itu kemudian menyulut semangat pasukan kaum muslimin untuk kembali berperang. Tentara Romawi pun kocar-kacir lantaran serangan pasukan berani mati itu. Romawi berhasil dikalahkan.

Heroisme Ikrimah tak berhenti di sana. Karena mendapat luka parah, Ikrimah bersama Al-Harits bin Hisyam dan Ayyash dirawat di dalam sebuah tenda. Ikrimah tersenyum puas di tengah rasa sakit yang menderanya. Khalid bin Walid terus menghibur Ikrimah dengan menceritakan balasan surga bagi orang yang syahid. Hingga akhirnya kisah itsar (mendahulukan orang lain) menjadi episode terakhir perjalanan hidup Ikrimah. Sesaat sebelum meninggal, ketiga pahlawan Islam itu sama-sama merasa haus dan ingin minum. Namun, Ikrimah yang lebih dulu menerima air malah memberi kepada saudara yang berada di sebelahnya. Akhirnya, ketiganya syahid saat belum sempat menenggak air tersebut.

Demikian riwayat singkat Ikrimah yang dibahas detail dalam novel setebal 260 halaman ini. Tak hanya menyuguhkan episode panjang Ikrimah di medan perang, salah satu kelebihan lain buah karya Abdul Latip Talib ini ialah menampilkan kisah kesetiaan istri Ikrimah yang bernama Atikah. Di tengah petualangan suaminya, Atikah bisa menjaga diri dan membuktikan cintanya pada sang suami.

Adapun sedikit kekurangan novel ini, menurut hemat saya, hanya terletak pada penggunaan jenis kertasnya dan sedikit kesalahan penulisan ejaan (mistyping). Namun demikian, novel terbitan tahun 2008 ini tetap layak menjadi salah satu referensi kita dalam kajian shirah sahabat Rasulullah. Terlebih lagi penulis juga menyertakan daftar pustaka di bagian akhir novel. Otomatis ini menjadikan poin plus dibanding karya lain yang sejenis. Selamat membaca.

Nur Afilin

 

Leave a Reply

Scroll To Top