Thursday , 24 August 2017
update
Kisah Syuhada; Seni Menjemput Kematian

Kisah Syuhada; Seni Menjemput Kematian

Judul: Hikayat Syahid Paling Wangi
Penulis: AF. Rozi
Tebal: 212 hlm
Penerbit: Sabil
Cetakan: Pertama 2014
ISBN: 978-602-255-723-4
Mati adalah salah satu hak prerogratif Tuhan. Ia adalah dicabutnya nyawa seseorang oleh Malaikat pencabut nyawa dan kembalinya roh kepada Tuhannya. Dua hal tersebut berhubungan dengan amal (perbuatan) seseorang selama hidupnya. Jika dalam hidupnya ia beramal baik maka akan dimudahkan jalan pencabutan nyawanya, dan rohnya tenang di sisi-Nya. Sebaliknya, jika dalam hidupnya ia beramal buruk maka akan dipersulit jalan pencabutan nyawanya, dan rohnya sengsara.
            Peristiwa mati tidak bisa dihindari. Ia datang pada waktu yang sudah Tuhan tentukan. Ia juga datang kepada siapa dan di mana saja karena setiap makhluk hidup akan mengalami mati. Namun, ada beberapa macam mati. Ada makhluk yang mati secara wajar dan ada makhluk yang mati secara tidak wajar. Kematian yang terakhir disebut mati syahid. Yaitu, mati karena memperjuangkan agama.
            Buku Hikayat Syahid Paling Wangi hadir mengisahkan 27 biografi singkat syuhada. Di dalamnya terdapat kisah-kisah bagaimana cara mereka menjemput kematian (the art of dying). Sumayah binti Hayyat adalah seorang budak yang keislamannya sangat dibenci oleh kaum kafir Quraisy. Mereka menyiksa Sumayah dengan siksaan yang sangat pedih. Namun, Sumayah tabah dan teguh pendiriannya dalam bertauhid kepada Allah Swt. Merasa putus asa menghadapi ketabahan dan kesabaran Sumayah, kaum kafir Quraisy pun membunuhnya. Mereka menghunjamkan tombak ke arah kemaluan Sumayah. Ia pun menjadi syahidah pertama. (hlm. 19)
            Mati syahid adalah mati yang indah meski di sisi manusia menimbulkan  air mata. Namun, di sisi Allah Swt. syuhada mendapat kedudukan mulia. Dan, Allah Swt. menjamin surga untuk mereka.
            Abdullah bin Jahsi berkeinginan dirinya mati syahid. Sebelum menghadapi pertempuran, malamnya ia berdo’a kepada Allah Swt. untuk memberinya kekuatan dalam menghadapi musuh-musuhnya. Ia juga bersedia musuhnya menyerangnya memotong hidung dan telinganya. Ia dan temannya, Sa’ad, saling mengamini do’a masing-masing. Esoknya, pertempuran berlangsung sengit. Do’a keduanya dikabulkan oleh Allah Swt. Sa’ad memperoleh kemenangan dan ghanimah yang banyak. Sedangkan, Abdullah menemui syahidnya dengan hidung dan telinga terpotong. Tubuhnya tercincang seperti jasad pamannya, Hamzah bin Abdul Muthalib. (hlm. 25-26)
            Dalam perang uhud, Hamzah bin Abdul Muthalib menemuisyahidnya. Dalam perang tersebut ia berhasil membunuh 31 orang kafir Quraisy. Suatu saat, ia tergelincir sehingga terjatuh ke belakang dan tersingkaplah baju besinya. Saat itu, ia langsung ditombak dan disobek perutnya. Hatinya dikeluarkan oleh Hindun untuk dikunyah namun ia memuntahkan karena tidak bisa menelan. (hlm. 32)
            Syuhada mengalami kematian tragis. Mereka disiksa dengan keras oleh musuh-musuhnya. Namun, itu tidak seberapa karena mereka ikhlas dalam menegakkan agama Allah Swt.
            Abbad bin Bisyr, mati dalam keadaan tragis. Ia salah satu sahabat yang dikenal dengan suara emasnya. Bahkan, Rasulullah Saw. menyatakan suaranya seperti suara Jibril ketika menyampaikan wahyu. Ia mati dalam perang melawan fitnah yang berasal dari Musailamah al-Kadzab, setelah Rasulullah Saw. wafat. Abbad gugur sebagai syuhada yang berlumuran darah. Tubuhnya penuh dengan luka pedang, tusukan tombak dan panah. Saking parahnya, para sahabat hampir tidak mengenalinya, kecuali mereka yang mengetahui tanda-tanda di tubuhnya. (hlm. 133)
            Berbagai peristiwa menjadi penyebab kematian syuhada. Umat Islam merasa kehilangan saudaranya. Karena, mereka adalah saudara seiman dan seislam. Hidupnya digunakan untuk menegakkan Islam. Mereka mengalami kematian yang wangi dan indah, dan ditangisi umat Islam yang lain.
            Ketika Hasan wafat, kaum muslimin, baik wanita maupun laki-laki, berkumpul di rumahnya. Mereka menangisi kepergiannya dan mengantarkan ke pemakaman Baqi’. (hlm. 165)
            Kisah-kisah dalam buku karya AF. Rozi ini mengantarkan kita pada masa silam di mana syuhada tidak gentar dalam menegakkan agama Islam. Banyak tokoh Islam gugur dalam beberapa peperangan. Selain perang, ada juga yang dibunuh oleh musuhnya di luar peperangan. Mereka adalah para pejuang kebenaran.
            Buku ini sarat dengan hikmah. Membacanya kita akan terseret pada kesadaran untuk berintospeksi diri betapa kecil perjuangan kita pada zaman sekarang dibanding perjuangan mereka dulu. Mereka adalah pahlawan agama Islam. Buku terbitan Sabil ini berisi seni syuhada dalam menjemput kematiannya.
            Selain tokoh-tokoh besar dalam buku ini masih banyak tokoh lain yang juga mati syahid. Semoga buku ini menjadi perangsang para penikmat sejarah untuk menuliskan tokoh-tokoh lain, sehingga menjadi referensi tambahan bagi kita pada zaman sekarang. Selamat membaca!
Peresensi: Elliya Nuril Karimah, Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Dinamika Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA) Guluk-Guluk Sumenep Madura Jawa Timur
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top