Wednesday , 17 January 2018
update
Konsekuensi Cinta

Konsekuensi Cinta

عَنْ أَنَسٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ، حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ»

Dari Anas, dari Nabi SAW bersabda, “Tidak sempurna keimanan seseorang dari kalian, hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai untuk dirinya sendiri” (Shohih Al-Bukhory hadits no. 13)

Ukhuwwah adalah terikatnya hati dan nurani dengan ikatan aqidah. Sedangkan aqidah sendiri adalah semulia-mulianya dan sekokoh-kokohnya ikatan. Ukhuwwah adalah saudara keimanan sedangkan perpecahan adalah saudara kembar kekufuran. Begitulah Sang Imam menjelaskan tentang hakikat ukhuwwah dalam majmuátur rasail. Itulah yang tampaknya terjadi pada suku Aus dan Khazraj, dulu mereka suka berperang, berbunuh-bunuhan tapi ketika cahaya keimanan itu datang menembus hati-hati kecil mereka, mereka pun akhirnya bersatu sekokoh batang-batang kurma yang meninggi dalam naungan teduh atmosfer keimanan.

Beliau kemudian melanjutkan bahwa yang paling rendah dari sebuah cinta kasih adalah salamatush shodr (lapang dada) dan yang paling tinggi adalah iitsar (mendahulukan kepentingan saudaranya yang lain atas dirinya pribadi). Tampaknya ini adalah hal yang harus menjadi renungan bagi kita semua. Mungkin kita akan mengalami gesekan pemikiran, perbedaan pendapat dengan macam-macam karakter dari sahabat kita. Ada yang temperamental, ceroboh, keras kepala dan sederet hal-hal yang tidak menarik lainnya. Saat itu kita mungkin sangat ingin marah atas perilaku yang amat sangat tidak mengenakkan hati kita itu. Tapi tahanlah kawan! Tahan lisan kita dari omongan yang tidak pantas kita lontarkan terhadap sahabat kita! Jangan sampai kejadian Abu Dzar Al-Ghifary terhadap Bilal bin Rabah terulang kembali. Abu Dzar mengatakan kepada Bilal dengan perkataan yang cukup kasar “Hai, anak budak hitam” hanya karena menurut penilaian pribadi Abu Dzar bahwa Bilal kurang bisa menjalankan amanah. Tapi seketika itu Rasulullah pun marah seraya mengatakan kepada Abu Dzar “ Sungguh di dalam dirimu masih terdapat sifat jahiliyah”. Konsekuensi cinta membuat Abu Dzar langsung menjatuhkan kepalanya ke tanah dan meminta kepada Bilal agar Bilal bersedia menginjak kepalanya dengan harapan hal itu bisa menjadi tebusan atas kata-kata kasarnya tadi. Tapi karena sebuah konsekuensi cinta pula, Bilal juga tidak mau melakukan hal tersebut dan dia dengan sikap marah bercampur haru mengatakan “Aku memaafkan Abu Dzar ya Rasulullah, biarlah urusan ini tersimpan di sisi Allah sebagai kebaikanku kelak”. Begitulah kata-kata, kalau sudah terlontar maka ia tidak akan bisa ditarik kembali sebagaimana anak panah yang terlepas dari busurnya. Ketika sudah seperti itu, cintalah obatnya, cinta karena Allah tentunya.

Merasa tersakiti memang seringkali muncul ketika kita berinteraksi dengan orang lain. Kita sering menuntut agar orang lain memahami kita tapi sayangnya kita tidak bisa memahami mereka. Konsekuensi cinta dalam ukhuwwah mengharuskan pelakunya tidak hanya mendasari kecintaan terhadap saudaranya hanya pada mengenal biodata atau riwayat hidupnya, tapi harus ada romantisme cinta yang lebih. Tidak cukup mengenal tapi juga harus memahami, tidak cukup memahami tapi harus memunculkan kesadaran penuh untuk saling menolong dan juga tidak sekedar saling menolong tapi berlanjut kepada senasib sepenanggungan (saling menanggung).

Berlapang dada atas sikap yang tidak baik sahabat kita itu baik. Kita bisa memahaminya lebih dari mereka memahami kita itu dianjurkan. Tetap sabar atas sikap sahabat kita yang ceroboh, tetap pemaaf di tengah berkecamuknya amarah, tetap santun di tengah gesekan pemikiran ketika rapat, itu semua adalah baik. Tapi, ingat ! jangan membanggakan diri, karena kita baru melaksanakan pengorbanan cinta dalam tingkatan yang terendah yakni berlapang dada. Cinta kita belum sampai kepada level yang tertinggi yaitu iitsar.

Al-Akh yang tulus melihat saudara-saudaranya yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri, karena ia, jika tidak bersama mereka, tidak dapat bersama yang lain. Sementara mereka, jika tidak dengan dirinya, dapat bersama dengan yang lain.

(Al-Ustadz Hasan Al-Banna)

(Faridi)

Leave a Reply

Scroll To Top