Friday , 19 October 2018
update
Kutundukkan Dunia dengan Menulis

Kutundukkan Dunia dengan Menulis

Aku seorang manusia. Manusia yang tak bisa mengungkapkan perasaan dan pikiran. Entahlah, aku pun tak tahu mengapa. Menurut cerita ayahku, sejak lahir aku tidak menangis. Dokter mengatakan bahwa aku akan bisu selama-lamanya. Kecuali jika dioperasi sekarang (beberapa waktu setelah aku dilahirkan). Ayah dan keluarga kami hanya bisa berdoa dan berusaha. Ke sana kemari mereka mencari pinjaman tapi tidak berhasil. Dan inilah aku sekarang.

Kesedihan jangan ditanya hadir dalam hati. Namun aku yakin Allah pasti memberikan yang terbaik untuk hambaNya. Meskipun aku tidak mempunyai pita suara, aku mempunyai mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hati untuk memahami. Dan aku mensyukuri hal itu.

Aku ingin mengubah dunia menjadi lebih baik. Namun aku tidak tahu bagaimana caranya. Ingin aku melakukan seperti yang Ustadzah Husna katakan padaku yaitu beramar ma’ruf nahi mungkar namun bagaimana aku menyatakannya?

Pernah suatu hari air mataku menetes begitu derasnya. Kudengar sebuah petuah sederhana yang begitu menggerakkan hatiku. “Jika seseorang melakukan hal mungkar, cegahlah dengan tanganmu. Jika tak mampu, cegah ia dengan lisanmu. Apabila kau masih jua tidak mampu, ingkarilah dengan hatimu dan itulah selemah-lemahnya iman.”

Aku merasa sangat bersalah. Aku diberikan nikmat dan karunia yang banyak tetapi hanya memiliki iman yang lemah. Aku merasa diriku ini tidak tahu diri kepada Yang Maha Kuasa. Dan hari itu aku mengadukan hal ini kepada ibuku dengan isyarat tangan. Aku hanya bisa menangis di pangkuan ibu. Aku mencurahkan segala isi hatiku meski tanpa suara.

“Sayang, Allah itu Maha Adil. Allah tau apa yang jadi isi hatimu. Ibu tau kamu sangat ingin membagikan pengetahuan yang ada padamu. Tetapi tidak semua orang tau apa yang kamu inginkan,” tuturnya sambil membelai lembut rambutku.

“Sayang, ibu tau caranya agar kamu bisa menaklukkan dunia, maukah kamu mendengar?”

Deg. Hatiku tiba-tiba berdegup kencang.

“Bagaimana, Bu?” tanyaku dalam bahasa isyarat.

Dengan pandangnya yang bening, ibuku berkata, “Menulislah, Nak, menulislah. Tuangkan isi pikiranmu dalam kertas. Ibu akan selalu mendukungmu.”

Ya, aku tahu sekarang. Aku tahu! Aku sangat gembira telah mengetahui rahasia tersebut. Dan mulai saat itu, aku menulis apa yang aku pikirkan dan rasakan. Dan Alhamdulillah, saat ini bukuku yang ke-50 telah terbit bahkan salah satunya menjadi best seller internasional. Mau tahu apa judulnya?

“Kutundukkan Dunia dengan Menulis”

Terima kasih, Ibu.

Penulis : Sindydevia Rahayu, siswi SMAN 1 Singaparna

Tulisan ini menjadi tulisan terbaik dalam agenda pelatihan menulis oleh CAKEP Tasikmalaya

Leave a Reply

Scroll To Top