Thursday , 24 August 2017
update
Law of Attraction, Anda Percaya?

Law of Attraction, Anda Percaya?

Hingga kini, misteri tentang otak manusia memang belum terkuak. Prakuso (2013) menyatakan, penelitian lebih mutakhir mengenai otak manusia menyebutkan bahwa rata-rata manusia baru menggunakan 0,01% dari potensi otaknya. Bahkan Einstein, lanjutnya, sebagai orang yang dianggap paling jenius di dunia pun konon baru 15%. Wow, amazing! Manusia baru menggunakan potensi otaknya hanya 15% sudah bisa berkontribusi untuk kemajuan umat dan peradaban dunia. Bagaimana jika kita bisa menggunakan potensi otaknya hingga 75%? Mungkin kita bisa lebih berkontribusi untuk kemajuan umat dan peradaban dunia. Pantas jika Tonny Buzan berujar, “Otak manusia adalah raksasa yang sedang tidur”.

Tapi, kenapa masih ada manusia bodoh di dunia ini? Hemat saya, manusia itu tidak ada yang bodoh. Hanya kemalasan yang menjadikan manusia bodoh. Bagaimana pun, otak merupakan aset dan modal manusia yang sangat berharga. Otak merupakan pusat pikiran. Apa yang semua kita pikirkan berasal dari otak. Maka, kita harus berhati-hati dalam berpikir manakala pikiran kita menjadi suatu realita dalam hidup. Inilah yang dinamakan law of attraction.

Dalam buku The Secret, Rhonda Byrne menjelaskan ihwal “hukum tarik menarik” itu. Pada intinya, hukum tarik-menarik adalah kemiripan menarik kemiripan. Jadi, apapun yang Anda pikirkan, maka alam semesta mendukungnya berlipat ganda sehingga menjadi nyata sesuai apa yang Anda pikirkan tadi. Apakah Anda percaya dengan hukum tersebut?

Mari saya buktikan. Lima belas tahun yang lalu, ketika saya masih Sekolah Menengah Pertama (SMP), saya suka menulis dan terlintas dalam pikiran saya, “Suatu saat, saya pasti bisa bertemu dengan para penulis. Tulisan saya juga akan dimuat di media dan bisa membuat buku.” Pada 2014, saya bergabung dengan sebuah komunitas menulis bernama Forum Lingkar Pena (FLP). Luar biasa! Saya bertemu dengan para penulis, seperti Taufiq Ismail, Ahmad Fuadi, Gol A Gong, Taufan E Prast, Erawati Eru Wardhani, Boim Lebon, Afifah Afra, Zaenal Radar, Sakti Wibowo, dan Asa Mulchias. Meskipun belum dimuat di media nasional, setidaknya tulisan saya pun pernah dimuat di dua media online, Wasathon dan Eramadina. Bagaimana dengan buku? Sampai sekarang, setidaknya saya sudah punya satu buku walaupun masih dalam bentuk antologi bersama kawan-kawan FLP Jakarta seangkatan. Saya percaya nantinya buku karya saya lainnya akan lahir. Tinggal menanti usaha saya untuk menyelesaikannya. Ternyata kalau kita percaya dengan pikiran, maka itu akan menjadi suatu kenyataan, meskipun harus berproses selama bertahun-tahun.

Lebih lanjut tentang hukum tarik-menarik, ada tiga syarat yang berlaku di dalamnya, yaitu:

  1. Meminta

Meminta sama dengan berdoa. Dalam berdoa, mintalah kepada Allah SWT meskipun menurut pandangan manusia mustahil akan dikabulkan doa kita.

“Dan jika kalian meminta kepada Allah, maka mintalah surga Firdaus. Sebab itulah surga yang paling tinggi.” (HR Bukhari).

Kalau kita mempunyai cita-cita setinggi langit, maka mintalah cita-citamu setinggi bintang kepada Allah. Jangan tanggung dalam meminta kepada Allah, karena Dialah Zat Yang Mahabesar dan Pemurah.

  1. Percaya

Percayalah kepada Allah bahwa cita-cita kita akan terwujud. Tapi, percuma juga kalau hanya sekadar percaya. Percaya itu harus disertai dengan ikhtiar. Jika tidak ada upaya, ibarat ada makanan di depan mata, tapi kita tidak berusaha mengambil makanan tersebut.

  1. Menerima

Jika kita sudah meminta dan berikhtiar, maka hal yang terakhir adalah menerima (tawakal). Apapun hasil yang diberikan oleh Allah, maka kita harus terima dengan rasa syukur.

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS Ibrahim: 7)

Bagaimana, sudah percayakah Anda dengan hukum tarik-menarik? Mulai sekarang, mari ubah pikiran negatif menjadi positif. Percayalah bahwa pikiran positif itu nantinya dapat bermanfaat untuk diri kita dan orang lain.

Kontributor : M. Syaid Agustiar (Anggota FLP Jakarta)

Editor : Nur Afilin

 

 

 

Leave a Reply

Scroll To Top