Wednesday , 14 November 2018
update
Lebih Dekat dengan Gol A Gong

Lebih Dekat dengan Gol A Gong

Siang itu (28/7/ 2012), usai shalat Zhuhur dengan rekan-rekan pramuda FLP Jakarta lainnya, kami menuju sebuah gazebo di samping Rumah Dunia (RD).

“Walau agak telat, tak apalah”, hibur saya dalam hati. Maka, sebuah kursi di jajaran belakang yang masih dinaungi rimbunnya pohon di samping gazebo pun saya duduki.

Seorang pria yang (maaf) tidak memiliki anggota tubuh sempurna itu berdiri di depan gazebo sambil berbicara dengan semangat. Seperti biasa, dia memang tak segan-segan berbagi pengalaman, ilmu, serta kiat seputar dunia kepenulisan kepada setiap pengunjung RD. Pria itulah yang banyak dikenal dengan nama Gol A Gong atau Gola Gong. Usut punya usust ternyata pria bernama asli Hendriyana Harris ini diamputasi lengan kirinya saat  berusia 11 tahun. Kenekatannya loncat dari atas pohon di alun-alun kota Seranglah penyebabnya. Namun, tanpa dinyana insiden ternyata justru membawa dirinya pada obsesi baru. Obsesi yang timbul lantaran sering dibumbui motivasi dari kedua orangtuanya inilah yang membuat Gong bisa “melupakan” kekurang sempurnaan dirinya.

“Bolehlah kamu ini tidak sempurna secara fisik, tapi kamu harus mempunyai tubuh yang sehat dan otak yang cerdas”, begitu kira-kira motivasi sang ayah kepada Gong.

Maka, Harris (ayah Gong) yang kala itu masih menjadi guru olahraga sekaligus pengurus KONI daerah berhasil mendorong Gong untuk rajin berolahraga. Beberapa kali Gong juga ikut ayahnya ke luar daerah seperti ke Yogyakarta, Makassar, dll. guna keperluan tugas dari KONI. Pengalaman ini menjadikannya “kecanduan” traveling. Selain itu, koleksi buku orang tuanya di rumah juga banyak dilahapnya. Ternyata dua kebiasaan terakhir itulah yang kemudian menjadi modal berharganya menjadi seorang travel writer (penulis pengelana) kenamaan.

Tak tanggung-tanggung demi obsesinya menjadi travel writer, dia pun melakukan perjalanan keliling Indonesia. Sudah banyak kota besar maupun kecil dikunjunginya hingga tahun 1987. Pada tahun itulah, ia mulai membaca buku harian yang selalu dikirimnya ke rumah setiap singgah di suatu tempat dalam perjalanannya mengelilingi Indonesia. Setelah dibaca, dipikirkan, dan dikaitkan dengan sejumlah novel yang pernah ia baca, lahirlah gagasan membuat novel berdasarkan catatan perjalanan dirinya.

Setelah diproses sedemikian rupa, jadilah sebuah novel berjudul “Balada Si Roy” (disingkat BSR). Novel yang pertama kali dimuat secara bersambung di majalah HAI selama rentang 1989-1992 inilah yang pertama melambungkan namanya. Kemudian, penerbit-penerbit besar seperti Gramedia dan Mizan pun tak mau kalah ikut menerbitkannya di tahun yang berbeda. Semuanya mendapat respon positif dari para penggila novel Indonesia. Meski demikian, diakuinya bahwa ada pula beberapa pembaca yang ternyata malah mengambil sisi negatif tokoh “Roy” dalam BSR ketimbang pesan kebaikan universal yang terselip di dalamnya.  Puncaknya, dia pun direkrut RCTI untuk menjadi penulis skenario beberapa program televisi.

Tobatnya Gong

Selain beberapa pengalaman menulis dan berkeliling Indonesia, bahkan banyak negara Asia, ada sisi menarik lain dari Gong yang saya dapatkan dalam kunjungan tempo hari. Di sebuah ruangan dalam RD tempat saya dan rombongan FLP Jakarta pertama kali berkumpul ada beberapa kliping artikel yang dipajang di dinding. Semuanya memuat kisah Gong, keluarganya, dan berita beberapa kegiatan dan perkembangan RD. Salah satu yang menarik menurut saya ialah sebuah artikel yang memuat wawancara dengan Gong seputar kisah pertobatannya. Secara singkat, dia mengaku awalnya dia tak terlalu peduli dengan agama yang dipeluknya, Islam. Namun, pengalaman “mimpi aneh” saat di India (kalau saya tidak salah ingat) membuatnya berbalik 180 derajat. Hal ini juga berimbas kepada karya-karya fiksi selanjutnya yang dia hasilkan. Kebanyakan karya-karyanya setelah itu tak sepi dari nilai-nilai Islam, namun tetap mampu mempertahankan kualitas dari sisi nilai estetika sastranya.

Saya pun salut dengan ketua Forum Taman Baca Masyarakat (FTBM) yang beranggotakan sekitar 5.000-an TBM di Indonesia ini jika mengingat kejadian saat adzan Asar berkumandang waktu itu (28/7).

“Eh, udah adzan tuh. Mending sisanya saya tanda tangani abis kita sholat aja, ya?” tawarnya. Saya dan dua orang teman lain memang sudah antri meminta tanda tangannya.

“Sekalian nanti bolehlah kita foto bareng di depan Rumah Dunia kalau kalian mau”, lanjutnya sambil beranjak dari duduknya.

Maka, kami pun menghentikan aktifitas dan berangkat ke masjid terdekat untuk sholat Asar berjama’ah. Sebagian perempuan sholat di RD ditemani istri Gong, Asih Purwaningtyas Hasanah atau Tyas Tatanka yang juga seorang penulis.

Menulis di Mata Gong

Bagi Gong, menulis itu bukan sekadar proses berkhayal, sekalipun tulisan yang dihasilkan ialah berjenis fiksi. Lebih dari itu, dia berpendapat bahwa menulis memerlukan proses berpikir yang tidak sembarangan.

Salah satu kalimat penutup yang Gong sampaikan kurang lebih berbunyi seperti ini, “Perlakuan kita terhadap huruf juga akan berakibat apa yang kiat terima nantinya. Artinya, jika kita menulis sesuatu yang baik, dengan niat dan cara yang baik pula, maka kebaikan pula yang akan kita terima kelak. Menulis itu apapun bentuknya sejatinya ialah bentuk da’wah bil qalam. Meskipun, isinya tak selalu strict ceramah keagamaan. Maka, perlakukanlah huruf-huruf itu dengan baik sehingga kita pun akan menuai kebaikan.”

Leave a Reply

Scroll To Top