Sunday , 25 February 2018
update
Lulus Ujian Mulus

Lulus Ujian Mulus

Lulus. Sebuah kata yang paling didamba oleh setiap siswa yang mengikuti ujian nasional di berbagai jenjang. Lulus menjadi tolak ukur kasat mata keberhasilan pendidikan.

Lulus bukanlah akhir dari sebuah fase. Justru, lulus merupakan awal perjalanan yang baru. Dalam hidup, kita dihadapkan pada ujian demi ujian tidak hanya sekali. Hampir setiap jenjang hidup kita, terdapat ujian di dalamnya. Ujian sehat, sakit. Ujian harta, sombong dan kikir. Ujian masa muda yakni waktu yang tersiakan.

Sering framing terhadap ujian menyeret pada hal negatif. Kemiskinan, ketertinggalan, kekurangan, kehilangan, itu kita golongkan pada kelompok ujian. Namun harta, kekuasaan, ketenaran, kesehatan, luput di mata kita. Hal-hal itu justru termasuk juga ujian dalam kehidupan.

Tidak ada kata lulus jika tidak ada ujian di dalamnya. Demikian relasi yang muncul dan terbangun antar keduanya. Sebagaimana ujian nasional atau ujian sekolah lainnya, ia ditujukan untuk menguji, mengukur, dan menjadi bahan tempaan untuk peningkatan kualitas peserta ujian. Demikian pula ujian kehidupan.

Ujian kehidupan hakikatnya menjadi rangkaian anak tangga yang menempa kita menuju puncak kebahagiaan. Kebahagiaan di sini yakni bahagia atas rida Allah di setiap jejak hidup. Tanpa ujian, kita tidak akan pernah tertantang untuk melakukan peningkatan dalam hidup hari bahkan detik demi detiknya. Tanpa ujian, bagaimana pun sematan kata ‘lulus’ tidak akan kita dapati.

Di universitas kehidupan yang Allah gelar selama manusia hidup, tak mungkin berlepas dari ujian. Mengubah cara pandang dan pemosisian kita terhadap ujian adalah hal yang paling pertama perlu dilakukan agar bijak menghadapi ujian. Para nabi dan rasul, contohnya. Mereka memandang ujian sebagai bagian dari tarbiyah Allah pada mereka. Mereka sadar benar bahwa tidak ada yang kekal seain Allah ta’ala, termasuk ujian itu sendiri. Maka mereka meneladankan dengan sangat baik kecerdasan untuk menghadapi ujian.

Cerdas menghadapi ujian menuntun kita pada kemampuan melihat dari perspektif lain dari ujian yang kita dapati. Sebagai contoh, saat kita memiliki keuangan yang menipis. Pada saat itu bukannya input uang yang kita terima tapi malah tiba-tiba ada saudara kita yang nampak lebih membutuhkan datang. Di saat itulah kita diuji. Ujian untuk tidak mengutuki nasib, apalagi menyalahkan Allah atas keadaan yang dihadapi sebaliknya, kita dituntun untuk memiliki sikap dan mental tangguh. Memang, mudah untuk memberi saat kita memiliki kelebihan, uang misalnya. Namun itu pun tak menjamin keringanan kita memberi. Justru, saat keadaan secara kasat mata sempit namun kita sanggup memberi, di situlah mental terbaik yang tengah kita bangun.

Ujian bukan semata menyeret kita pada kepasrahan tanpa gerak. Semestinya kecerdasan menafsiri dan mengelola ujian terus kita pupuk yakni dengan semakin giat mendekat pada Sang Pemilik Ujian dan berhikmah dari setiap slide kehidupan kita.

Saat kita lulus ujian, kita akan jadi seorang pemenang. Dan pad saat itu jalan menuju rida Allah akan semakin mulus.

Penulis : Sofistika Carevy Ediwindra

Leave a Reply

Scroll To Top