Monday , 21 August 2017
update
Malari dan Kronologi yang Disiapkan

Malari dan Kronologi yang Disiapkan

Berawal dari Apel Tritura pada 15 Januari 1974, ujungnya ialah petaka ibu kota. Ternyata jauh-jauh hari sudah dirumuskan gagasan-gagasan kecil, misalnya diskusi 28 tahun kemerdekaan Indonesia 13-16 Agustus 1973 yang menghasilkan kesepakatan untuk perlunya praktik politik dan serangkaian tindakan untuk mengatasi masalah bukan sekadar dengan diskusi-diskusi semata. Kemudian, itu berlanjut pada diskusi Petisi 24 Oktober 1973 jelang peringatan Sumpah Pemuda yang menghasilkan Petisi 24 Oktober yang kemudian dibacakan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Dari sana, kita beranjak menuju 10 November masih di tahun yang sama. Dalam rangka peringatan Hari Pahlawan, para mahasiswa yang tergabung dari beberapa dewan mahasiswa beberapa universitas waktu itu kembali membacakan sebuah ikrar mengenai kesatuan tekad dan peningkatan solidaritas sesama mahasiswa.

Dari tiga forum mahasiswa tersebut terpantiklah kobaran semangat demonstrasi para mahasiswa atas kedatangan Ketua IGGI (Inter Governmental Group on Indonesia), J.P. Pronk, sebuah organisasi bentukan Belanda yang mengatur utang Indonesia. Pasca- demonstrasi tersebut, sarjana-sarjana sekaliber Mochtar Lubis, Adnan Buyung Nasution, dan Yap Thiam Hien yang terhimpun dalam Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia kembali mengadakan mimbar-mimbar diskusi yang menghasilkan sebuah ikrar yang disebut Ikrar Warga Negara Indonesia.

Hingga kemudian satu momentum kembali diciptakan, yakni pada pergantian tahun 1973 ke 1974, Malam Tirakatan. Malam tersebut adalah peresmian pembakaran sumbu kecil pergerakan secara terang-terangan untuk pertama kalinya. Hariman Siregar dengan pidato yang berjudul Pidato Pernyataan dari Mahasiswa tampak lihai membakar semangat para mahasiswa untuk peduli pada kondisi bangsa dan mengingatkan bahwa pemuda wajib melakukan perubahan.

Dewan Mahasiswa dari berbagai universitas se-Indonesia pun kembali terhimpun pada 12 Januari 1974. Mereka bertemu dengan Soeharto membawakan enam tuntutan terkait pemberantasan korupsi dan pembenahan ekonomi. Sayangnya, hasilnya nihil tanpa hasil. Hal itu diperparah dengan citra tutup mata dan telinga Presiden kala itu dengan datangnya Perdana Menteri Jepang Kakuei Tanaka pada 14 Januari 1974 ke Indonesia. Mahasiswa tentu saja tergugah. Laksana macan terbangun dari tidurnya, mereka bangkit dan lantang bersuara atas nama pembenahan dan retorika kepedulian pada Indonesia. Ibu kota menjadi saksi aksi mereka.

Puncaknya, tepat pada 15 Januari 1974 para mahasiswa melangsungkan sebuah apel akbar di halaman Universitas Trisakti dengan kembali membawa tuntutan. Dalam apel tersebut, Tritura jilid II juga dibacakan oleh para mahasiswa. Isi tuntutan utamanya: “Bubarkan Aspri, Hentikan Modal Asing, Hukum para koruptor”.

Dua Muara dalam Satu Belanga

Belanga huru-hara kita masih sama, Malapetaka 15 Januari (Malari), namun para pelaku sejarah telah meninggalkan fakta yang buta.

“Aksi apel besar yang dipusatkan dihalaman Universitas Trisakti ini tadinya merupakan aksi damai, namun tanpa disangka yang terjadi adalah perbuatan anarki diberbagai tempat di wilayah ibukota. Mobil, motor, dan produk elektronik Jepang semuanya dibakar, bahkan gedung-gedung dan pusat perbelanjaan di Senen, Harmoni, pun ikut dibakar. Korban-korban berjatuhan, dari yang luka kecil bahkan sampai korban jiwa ada. Total terdapat 11 korban jiwa, 75 luka berat, ratusan luka ringan, 775 orang ditahan, 807 mobil dan 187 motor dibakar, 160 kg emas raib. Selain itu terdapat 144 gedung yang porakporanda termasuk gedung Astra Toyota Motors, Coca-Cola, Pertamina, dan puluhan toko di proyek Senen” (Kilas Balik Deskripsi Kejadian Malari)

Maka, paradigma bebas memihak yang mana menjadi hak seluruh warga negara hari ini. Di hadapan kita ada dua pernyataan, dua pembelaan, dan dua pembenaran: perspektif aktivis dan perspektif birokrat.

Pihak birokrat kala itu menyampaikan bahwa ini adalah sebuah strategi yang dimainkan oleh oknum ketiga dengan tujuan mengisolasi pemerintahan dan menjatuhkannya, di mana mahasiswa digunakan sebagai masa gerak. Justru dalam keadaan terisolasi seperti itu, Pak Harto pun kembali ke ‘rumpun’ asalnya, militer. Dari sanalah militer mulai kuat memasuki lingkaran dalam pemerintah dan Pak Harto kembali menjadi otoriter.

Sedangkan dalam perspektif aktivis, Malari adalah sebuah strategi kambing hitam pada mahasiswa. Ada the invisible hand yang disinyalir telah mengirimkan orang bayaran untuk menjadi provokator dalam aksi. Ali Moertopo-lah sosok yang terindikasi menghendaki peristiwa ini. Namun demikian, sang pimpinan tertinggi negeri (Jenderal Soeharto) tidak luput dari dugaan perencana kekisruhan tersebut dalam rangka menghentikan aksi mahasiswa yang menyuarakan untuk dihentikannya penanaman modal asing, anti asing, serta serangkaian tuntutan yang tidak didengarkan para elite politik negara.

Demikian ringkasan pertanyaan sejarah seakan telah dimatikan jawabannya seiring dengan matinya juru kunci, Soeharto. Dengan demikian, sebuah kejujuran pada sejarah hanya akan menjadi saksi bagi mereka yang telah jujur mendefinisikan sejarah atas nama kebenaran. Ia bukanlah sebuah ekspektasi untuk membela, mencari plagiat, dan/ atau penguat. Maka, biarkanlah Indonesia mengulang Malari-malari kecil hari ini. Jika rugi, biarkanlah kerugian itu atas nama Indonesia seluruhnya. Jangan sampai kerugian itu hanya ditanggung rakyat jelata Indonesia saja, rakyat yang menjadi hamba dari kalangan paduka.

Selain itu, semoga kita tidak luput melihat juga, bahwa sesudah Malari, di tahun berikutnya terjadilah overkill di Pembatasan Modal Asing. Pembatasan-pembatasan semakin diperketat oleh pemerintah. Daftar larangan investasi dalam negative list semakin diperpanjang. Kata birokrat juga, “Bukankah tidak ada salahnya presiden memiliki tim penasihat? Bahkan Presiden Amerika Serikat pun memiliki special advisor. Kalau kepala negara tidak memiliki personal staff, lama kelamaan ia akan terjepit sendiri.”

Apapun perspektif Anda, gunakan semangat Malari untuk kepedulianmu kepada negeri. Bukankah sosok seperti Hariman Siregar masih perlu kembali dikobarkan?

Kontributor : Erna Dwi Susanti (Aktivis KAMMI)

Editor : Nur Afilin

 

Leave a Reply

Scroll To Top