Thursday , 20 September 2018
update
Manusia Peringkat

Manusia Peringkat

Kami semakin akrab dengan Bu Yani, sampai-sampai latar belakang keluarga kami pun beliau tahu. Beliau memang guru yang selalu melecutkan semangat kami. Beliau meminta kami agar tak berhenti di desa yang tertinggal. Benar-benar tertinggal desa ini.

Semester dua segera datang. Aku masih bingung dari mana aku harus membayar uang SPPku dan mendapatkan nomor ujian serta mengikutinya. Aku dan Adit, sama kasusnya. Maklum kami sama-sama dari keluarga yang pas-pasan yang lebih sering kurang.

“Tenang, Boy. Pasti ada jalan untuk orang bercita-cita tinggi seperti kita ini.” ucapnya menyemangati.

“Tapi sampai sekarang kita masih seperti ini, Boy, menunggu nomor yang diberikan secara percuma,”

“Tenang saja, aku akan usaha,” janji si keras kepala itu padaku.

Keesokan harinya si keras kepala datang menemuiku.

“Ini nomormu. Kita ujian, Boy,”

“Bagaimana kau bisa mendapatkannya?”

“Tak usah kau tau, Boy.”

Aku senang tak kepalang, Kawan. Kali ini aku melihat si keras kepala itu sebagai pahlawanku. Mukanya yang lebar bak lapangan sepak bola bersinar cerah. Senyumnya yang lebar bak badut yang sengaja memberikan lipstik yang berlebihan di mulutnya. Badannya yang kecil namun gemuk seperti anak bantat kini kulihat ia bak pahlawanku. Ia nampak tampan sekali. Tampannya melebihi pemain bola kesukaanku, Si Ricardo Kaka, Kawan. Namun kenyataannya berbeda tentu. Penglihatanku hanya dipengaruhi kekaguman. Dia tak seperti Ricardo Kaka. Maaf Dit, ini jujur. Aku masih heran dari mana Adit bisa mendapatkan nomor peserta ujian. Bahkan kalau kau ingin tau, sepeserpun aku belum membayar uang SPPku itu. Yang jumlahnya tujuh ratus lima puluh ribu rupiah. Luar biasa kawanku itu. Hari ini juga akan kuselidiki, jelasku dalam hati

Ternyata ia menceritakan masalah ini pada Bu Yani dan Bu Yanilah yang membayar uang SPP kami berdua. Tanpa sisa, bersih, lunas, Kawan. Namun ini bukanlah hal tanpa syarat, Kawan. Bu Yani meminta kami mendapatkan juara, setidaknya masuk di empat besar. Itu juga sudah ditawar oleh Adit. Sebelumnya harus tiga besar, namun si keras kepala menawar. Maklum, si keras kepala memang jago menawar. Jika kita ingin mengetahui semua harga asli bahan pokok di pasar, tanyalah si Adit. Hampir semua harga ia tahu. Bahkan sampai harga seperempat cabai merah sekalipun, dia tahu dengan detil

Dia juga tau di mana pedagang yang menjual barang dagangannya dengan harga sedikit murah dibanding dengan pedagang lain. Adit memang anak yang tahu seluk beluk pasar, maka tak heran kalau bau busuk pakaiannya bak terasi yang diselimuti oleh lalat hijau. Mukanya bukan selebar lapangan bola lagi, namun selebar pasar. Lebih tepatnya seperti itu, Kawan.

Tantangan berikutnya ialah bagaimana kami mendapatkan peringkat setidaknya duduk di posisi empat, mungkin akan sedikit kerja keras. Aku semester pertama duduk di posisi peringkat lima sedangkan si keras kepala duduk di peringkat enam, satu tingkat di bawahku.

Tak bisa ku salahkan penawaran dari si keras kepala, Adit. Memang itulah jalan yang mungkin diambil untuk menyelamatkan kami agar bisa mengikuti ujian semester. Ujian akhir sekolah sudah dekat, Kawan. Namun kami berdua belum juga memperlihatkan bukti sebagai penerima janji keramat. Aku mulai pusing, baiklah kuputuskan besok untuk bertemu si keras kepala itu.

“Assalamualaikum.. Dit..” sapanya di depan pintu.

“Waalaikum salam, oh, Adnan.. Adit barusan keluar tadi,” terang ibunda Adit.

“Ke mana ya Bu?”

“Sepertinya ke tempat temannya di depan situ, Nan, rumah Dian.”

“Oh ya, baik Bu. Adnan ke sana saja.”

“Ya,”

Aku tiba di tempat Dian. Biasa, Kawan, si keras kepala, kudapati sedang membual hebat. Lihatlah teman-temannya memperhatikannya bak sedang mendengarkan sebuah petuah yang tak boleh dilewatkan. Para pendengar setia Adit rugi sekali jika mata mereka mengedip sekalipun. Mereka memang pengikut setia si keras kepala itu.

“Boy, dari mana kau ini?”

“Aku dari rumahmu, Dit, tapi kata ibu, kamu di sini, Boy.”

“Ada perlu apa, Boy, kau mencariku?”

“Aku sedang bingung, Dit, tentang janji kita dengan Bu Yani, sedangkan ujian semester sebentar lagi,” jelasku

“Tenang, Boy, bersantai dululah kau.”

“Aku tak bisa bersantai lagi, Boy, kita perlu pasang strategi,”

“Ah, kau ini, Boy, seperti mau berperang saja,”

“Kita perlu buat belajar bersama, Dit,” pegal kepalaku melihat Adit yang duduk di atas tangga rumah papan Dian.

“Baiklah, besok seusai pulang sekolah aku ke rumahmu untuk belajar bersama.”

“Baiklah, aku mau langsung pulang saja, Dit,”

“Hati-hati, Boy,”

Mendengar janji si keras kepala aku mulai semangat. Posisi kami saling mengisi, Kawan. Kalau urusan ilmu sains aku sedikit bisa diandalkan daripada Adit. Tapi untuk masalah Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dialah jagonya, Kawan.

Malam ini kujadwalkan semua pelajaran yang akan kami bahas setiap harinya. Ssederhana memang, tapi ini memungkinkan kami mengejar target walaupun ini strategi lama. Hari Senin pelajaran Matematik, Selasa Biologi, Rabu Fisika, Kamis Kimia, Jumat Bahasa Indonesia, dan Sabtu Bahasa Inggris.

“Teng, teng, teng, teng..” lonceng di pukul empat kali, Kawan. Artinya hari ini usai untuk berjibaku di sekolah. Aku pulang duluan karena nampak Adit sibuk dengan pengikut setianya tadi. Janjinya, ia akan datang setelah mengganti pakaian seragam dan makan terlebih dahulu.

(bersambung)

Penulis : Anton Nuari
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top