Tuesday , 18 December 2018
update
Matra Solidaritas

Matra Solidaritas

Menempatkan Sejarah untuk Nasib Kesejahteraan
Belajar Tata Kesejahteraan Kota Sragen

 “If you have come to help me you can go home again. But if you see my struggle as part of your own survival then perhaps we can work together” (Aborigin Woman)

Bekerja bersama tidak senada dengan pembagian hasil kerja bersama. Hal tersebut dimaksudkan sebagai upaya melakukan suatu usaha secara terkoordinasi dan bersamaan. Ada lebih dari satu pihak yang berkontribusi dalam pelaksanaan usaha tersebut. Munculnya kesepakatan bersama dan dukungan, kepentingan dan tanggungjawab antar individu dalam kelompok, terutama diwujudkan dalam dukungan suara bulat dan tindakan kolektif untuk suatu usaha, termasuk di dalamnya adalah usaha kesejahteraan. Demikianlah seperti yang ditakwilkan sebagai penjabaran definisi solidaritas.

Solidaritas yang dalam kalangan masyarakat desa familiar disebut tepo sliro mengandung hakikat dasar rasa senasib sepenanggungan. Rasa sama dan sejiwa. Ketika sesama dalam kondisi sakit, maka sakit pula kondisi diri. Ketika satu bagian ada yang luka maka di bagian tubuh yang lain pulalah dirasa sakit yang sama. Hal yang demikian itulah yang mengantarkan manusia bergerak untuk saling bekerjasama, bahu membahu menopang beban dan tugas kehidupan.

Februari 2014 lalu, Indonesia bicara tentang Kelud. Perasaan senasib dan seperasaan menggerakkan segenap lapisan masyarakat untuk berkontribusi menutup duka, mengurangi luka kemanusiaan, mengurangi trauma dan kesedihan akibat bencana. Bantuan secara terorganisir digalangkan, baik secara material ataupun immaterial. Relawan kemanusiaan, dari Kabupaten sekitar Kediri, Blitar, dan Malang secara serempak datang ke lokasi untuk membantu evakuasi dan penanganan dampak letusan kelud, dari abu vulkanik sampai lahar dinginnya. Dari mereka yang sekadar menyebarkan lembaran masker sampai begadang tangan menata kembali bangunan-bangunan yang tertimbun abu dan tugas kemanusiaan lainnya. Ini wujud kecil panggilan kemanusiaan dalam sisi solidaritas. Fenomena Kelud dan dampak positif tersebut adalah konsep dasar dari kondisi existing jiwa kemanusiaan masyarakat untuk mengedepankan solidaritas.

Ya, Sragen adalah salah satu kabupaten yang menjadi korban kiriman abu vulkanik dari Kelud. Berbatasan secara geografis dengan tiga kabupaten lain yang dekat dengan sumber ledakan, hujan abu pun menjadikan jalanan tertutup abu tebal. Beruntung, reaksi cepat langsung digalakkan pemerintah Kabupaten Sragen bersama TNI dan masyarakat serempak dengan membersihkan ruas jalan utama kabupaten Sragen, Jalan Sukowati. Lagi-lagi, langkah ini juga termasuk cerminan atas panggilan moral solidaritas.

Sejarah Kesejahteraan

Gambaran kesigapan dalam bekerjasama seperti demikian adalah perwujudan kecil dari fenomena mengakarnya budaya solidaritas di kalangan masyarakat Sragen. Sebelumnya, tengah ada upaya kesejahteraan yang melembaga di kabupaten paling timur dari Provinsi Jawa Tengah ini. Berangkat dari analisis dan pembelajaran pada sejarah, mereka menemukan harapan dalam menata. Perencanaan matang untuk menemukan harapan, kesejahteraan masyarakat, dan sejarah Soeharto. Mungkin kiprah presiden kedua Indonesia inilah yang diangkat Kabupaten Sragen sebagai inspirasi menemukan harapan pembangunan kesejahteraan.

Berbekal pernyataan sederhana sang bapak pembangunan “Kalau kita memang sama-sama, insya Allah kita akan saling bekerja sama”, dilanjutkan dengan langkah kongkret beliau bersamaan dengan Sudharmono menjalankan Yayasan Amalbakti Muslim Pancasila (YAMP) di mana bergerak dalam bidang pembangunan tempat ibadah, masjid. Dana operasional yang digunakan untuk pembangunan berasal dari sedekah Korps Pegawai Republik Indonesia (Korpri) serta anggota TNI untuk setiap bulan bersedekah yang dikutip dari gaji mereka. Dana itu dikelola YAMP untuk membangun dengan tujuan peningkatan kesejahteraan masyarakat dalam bidang rohani.

Matra Solidaritas

Berangkat dari sejarah tersebut, para pimpinan Kabupaten Sragen sekarang meresmikan suatu wadah untuk menata kembangkan arah pembangunan kesejahteraan dengan berasas pada solidaritas. Wadah tersebut dimaksudkan untuk mendorong percepatan program pengentasan kemiskinan. Diberilah nama Mitra Kesejahteraan Rakyat (MATRA) untuk wadah tersebut, suatu program kesejahteraan yang diinisiasi untuk mewadahi para pejabat pemerintah Sragen khususnya bagi pejabat Eselon I-IV untuk menyisihkan sebagian kecil penghasilan mereka guna membantu masyarakat Sragen yang termasuk dalam kategori Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS). Dana yang terhimpun digunakan untuk perbaikan rumah tidak layak huni, pengobatan, pendidikan, dan kegiatan lainnya yang mendukung upaya pengentasan kemiskinan.

Harapan solidaritas dalam wadah MATRA adalah adanya pembangunan yang terkoordinasi dan mengalami percepatan dengan swadaya dari pejabat pemerintah. Pemangku jabatan pemerintah (pejabat) diajak untuk turut merasakan bagaimana kondisi masyarakat yang tidak mampu untuk kemudian saling berhimpun dan bersama memberikan bantuan, kesejahteraan, dan pemberdayaan.

Nasib Kesejahteraan Indonesia

Konsep kesejahteraan umumnya dipandang sebagai kondisi terpenuhinya kebutuhan material, spiritual, dan sosial dari masyarakat agar dapat hidup layak dan mampu mengembangkan diri, sehingga dapat melaksanakan keberfungsian sosial masing-masing. Pijakan dari keberfungsian sosial adalah saat individu, kelompok, atau masyarakat mampu menyelesaikan permasalahannya, memenuhi kebutuhan hidupnya, memenuhi tugas kehidupan, dan mampu berelasi sosial secara normal dalam kehidupannya.

Dengan demikian, hasil dari modal sosial berupa rasa solidaritas yang dimiliki, maka Indonesia akan mampu mengarahkan kesejahteraannya pada kesejahteraan yang masif dan progresif. Indonesia masih sangat layak menetapkan arah perbaikan dan kemajuan. Indonesia hanya perlu menganalisis nilai kemasyarakatan apa saja yang ada di masyarakat untuk dijadikan modal pelaksanaan pembangunan.  Masyarakat yang berdaya akan mampu mengenali permasalahan, mendefinisikan kebutuhan, dan menuntaskan permasalahan yang mereka hadapi. Berbekal pemahaman yang demikian menjadikan mereka memiliki kesadaran untuk bersolidaritas. Pembangunan kesejahteraan masyarakat hakikatnya berada pada kemampuan dari masyarakat itu sendiri untuk berdaya menentukan arah pembangunan dan berkomitmen untuk berkontribusi secara sadar dan sukarela.

Jika kita bedah Indonesia pada hari kelahirannya, kita akan temukan bahwa nilai terdalamnya adalah solidaritas. Selain nilai solidaritas, gotong royong muncul sebagai ekspresi solidaritas. Pada tingkatan yang lebih fisik, solidaritas dan gotong royong ini menjadi patriotisme, yaitu semangat berkorban demi tujuan bersama, yaitu Indonesia yang merdeka. Dari semangat itulah lantas kemudian lahir slogan “Merdeka atau Mati!”. Beragam nilai masih terkandung di Indonesia, di mana masyarakat berdaya di sanalah kekuatan untuk berkembang dan menata itu ada.

Penulis : Erna Dwi Susanti, S.ST (Pekerja Sosial Pandu Gempita Kabupaten Sragen Kementerian Sosial RI)

Editor : Nur Afilin

Leave a Reply

Scroll To Top