Wednesday , 24 October 2018
update
Membongkar Wacana Terorisme ala Amerika

Membongkar Wacana Terorisme ala Amerika

membentangkan-ketakutan-teroris

Judul buku: Membentangkan Ketakutan: Jejak Berdarah Perang Global Melawan Terorisme

Penulis: Shofwan Al Banna

Tebal: 208 halaman

Penerbit: Pro-U Media

Cetakan: I, 2011

Terorisme adalah satu dari sekian primadona isu yang sering menyita perhatian publik dunia, tak terkecuali Indonesia. Bak kacang rebus yang diecerkan di pinggiran jalan, berita terorisme ini bisa dijumpai di semua saluran media ketika isunya sedang naik daun. Meski demikian, gencarnya pemberitaan ihwal terorisme ini tampak tak sebanding dengan kajian ilmiah yang membedah secara adil apa dan bagaimana wacana terorisme itu sesungguhnya. Akibatnya, beberapa anggota masyarakat (jika tidak ingin dikatakan kebanyakan orang) dengan mudah termakan wacana yang dihembuskan oleh pihak-pihak tak bertanggungjawab.

Lebih ironis, sebagian ahli ternyata menilai wacana terorisme yang berkembang di berbagai belahan dunia sebagai bentuk copy-paste dari wacana terorisme ala Amerika. Sebagaimana kita ketahui, pasca peristiwa 9/11, negeri Paman Sam sibuk beraksi bak polisi dunia yang tengah berupaya menjamin keamanan bumi dengan dalih Global War on Terrorism/ GWOT (Bahasa Indonesia: Perang Global Melawan Terorisma/ PGMT). Bukan hanya menyebabkan banyak orang meregang nyawa dan luka-luka, aksi-aksi Amerika itu juga turut menanamkan wacana tentang bahaya terorisme dengan penafsiran ala mereka. Publik pun dibuat takut, cemas, dan was-was jika dihadapkan pada senjata andalan berupa wacana PGMT ini.

Berbekal ilmu dalam bidang Hubungan Internasional yang digeluti sejak S1 hingga S3, Shofwan Al Banna meracik buku yang patut diapresiasi oleh kita semua. Dengan judul buku “Membentangkan Ketakutan: Jejak Berdarah Perang Global Melawan Terorisme”, pria asal Yogyakarta jebolan Ritsumeikan University, Kyoto, Jepang ini banyak berbagi data dan analisis terkait isu PGMT dan dampak yang ditimbulkannya. Tak hanya itu, kilas sejarah dan proses mencuatnya PGMT juga dibahas secara apik. Agaknya pemerhati politik internasional  yang pernah meraih penghargaan terbaik St. Gallen Wings of Excellence Award, Swiss (2009) ini memang serius hendak membongkar bangunan wacana yang selama ini berdiri kokoh itu.

Secara garis besar, Shofwan membagi buku setebal 208 halaman ini ke dalam empat bagian di luar Pendahuluan dan Penutup. Sementara pada bagian Pendahuluan, penulis membeberkan latar belakang penulisan buku, nilai penting, posisinya di antara gunungan buku tentang terorisme lain, serta beberapa catatan agar pembaca bisa nyaman menikmati isi buku sampai habis.

Mengawali pembahasan sesungguhnya, pada bab pertama “Merebut Cahaya: Memahami ‘Perang Global Melawan Terorisme’”, penulis mengupas persoalan hulu yang menjadi objek kajian dalam buku ini: wacana PGMT. Secara sistematis, Shofwan mengetengahkan pembahasan latar belakang sejarah, latar belakang ideologi, dan anatomi dari wacana tersebut. Demi membedah genealogi dan unsur-unsur utama wacana Amerika tentang PGMT ini, penulis melakukan analisis terhadap dokumen-dokumen dari Gedung Putih seperti National Security Strategy (versi awal 2002 dan versi revisi 2006); National Strategy for Combating Terrorism; dan The 9/11 Commission Report (hal. 41)

Kesimpulan besar dari analisis wacana ini berujung pada kesimpulan bahwa saat ini ialah era peperangan. Kemudian, dalam perang versi Amerika ini, dunia terbagi menjadi dua kelompok alias oposisi biner: hitam-putih. Jika kita tidak mendukung tindakan Amerika, maka cap sebagai pendukung atau bahkan bagian dari jaringan teroris bisa mengarah pada kita. Ya, karena mereka percaya bahwa ada jaringan terorisme global yang kini mencengkeram dunia di bawah komando Al-Qaeda. Terakhir, Amerika menyimpulkan bahwa cara memenangi perang itu ialah dengan menggunakan segala sumber daya yang ada. Tak heran jika kemudian mereka tak sayang menggelontorkan banyak dana segar demi berperang melawan terorisme.

Tentu saja konklusi itu banyak menuai kritikan pedas dari banyak cendekiawan dunia, termasuk para cendekiawan Amerika sendiri. Poin kritik utama terletak pada ketidakjelasan sifat dan parameter perang yang dimaksud dan akibat yang ditimbulkannya. Seperti banyak dikhawatirkan dan kemudian sekarang bisa kita saksikan penyerangan terhadap negara lain, pembunuhan orang-orang yang diduga teroris, pengabaian hukum internasional, dan sebagainya sering dilakoni Amerika atas nama perang.

Selain itu, yang tak kalah berbahayanya ialah wacana PGMT ini kemudian beranak-pinak dari Amerika ke seluruh dunia. Meskipun rezim George W. Bush sudah tak berkuasa, ternyata wacana itu masih hidup dan terus berkembang meluas. Amat tepat jika kemudian Shofwan berujar, “Saat sebuah wacana dilahirkan, ia mulai hidup sendiri dan tidak selalu dalam kendali Sang Tuan. Kadang-kadang, kehidupannya ditopang oleh nafas dari kepentingan-kepentingan penguasa zalim di berbagai negara” (hal. 64)

Memasuki bab kedua “Kibas Sayap Elang Ketakutan: Jejak Perang Global Melawan Terorisme di Seluruh Dunia”, Shofwan mengajak kita berkunjung ke berbagai negara yang mendapat imbas PGMT melalui beberapa operasi militer. Berdasar pada Congressional Research Service Report RL33110 yang diajukan Kongres AS, paling tidak ada tiga operasi militer yang akan (sekarang telah terjadi), yakni: Operation Enduring Freedom meliputi Afghanistan dan berbagai wilayah lain, kecuali Irak; Operation Noble Eagle untuk memperkuat basis-basis militer AS di seluruh dunia; dan Operation Iraqi Freedom yang dihelat guna menumbangkan Saddam Hussein.

Sebagai dampak dari berbagai operasi militer itu, penulis membaginya menjadi tiga kategori dampak yaitu dampak langsung, dampak struktural, dan dampak diskursif. Contoh dampak langsung yang amat disayangkan ialah banyaknya korban sipil yang terbunuh. Meski masih ada perdebatan terkait angka korban terbunuh, tapi berbagai sumber tersebut merilis angka yang spektakuler. Sebut saja korban tewas pada Perang Irak yang mencapai 1.455.590 jiwa (versi JustForeignPolicy), Afghanistan 19.629 jiwa, Pakistan 30.452 jiwa, dan beberapa negara lain yang belum tercatat (hal. 89).

Tak kalah ngeri dari dampak langsung ialah dampak struktural yang makin memperparah konflik internal yang telah ada sebelumnya pada sebuah negara. Dampak diskursif yang berimbas pada kehidupan sosial, politik, dan masyarakat di negara bersangkutan juga makin menambah deret rapor merah PGMT ala Amerika.

Berlanjut ke wilayah yang lebih dekat dengan kita, melalui bab ketiga “Asia Tenggara: Angkara di Front Kedua”, Shofwan mengajak kita memasuki kawasan Asia Tenggara dan mengamati jejak wacana PGMT. Dalam kacamata Amerika, Asia Tenggara memang diklaim sebagai front kedua dari PGMT. Pada 15 Februari 2002, Bush sendiri yang mengumumkan pernyataannya itu. Dia berdalih bahwa ada jejaring pendanaan, operasional, persenjataan, dan rekrutmen yang menghubungkan antara Jemaah Islamiyah yang beroperasi di Asia Tenggara dengan musuh utama Amerika: Al-Qaeda (hal. 108).

Meminjam analisis David Capie dalam tulisannya di Pacific Review, Shofwan lebih memfokuskan analisis terhadap tiga negara Asia Tenggara: Filipina, Malaysia, dan Indonesia. Intinya, hampir semua negara di Asia Tenggara (khususnya tiga negara itu) menyambut wacana PGMT ini dengan strategi dan kebijakan masing-masing. Pada bagian ini penulis kemudian lebih banyak membahas seputar kelompok gerilyawan Moro National Liberation Front (MNLF) di Filipina.

Melanjutkan pembahasan inti, penulis menyajikan bab keempat “Menabur Teror, Menuai ‘Error’” ke hadapan sidang pembaca. Pada bab ini kita akan mendapat ulasan analitis lain terkait jejak PGMT yang masuk ke dalam negeri kita tercinta: Indonesia. Berbagai pembahasan tentang kiprah Densus 88, BIN, salah tangkap terduga teroris, dan lain-lain dijabarkan dengan bagus.

Sebagai pamungkas, Shofwan menulis bagian “Penutup: Cerita Ini Belum Berakhir” dengan kesimpulan singkat. Pria peraih gelar Mahasiswa Berprestasi Utama tingkat Nasional (2006) ini kembali menekankan bahwa perjalanan wacana PGMT ala Amaerika belum berakhir dan akan terus bergulir lantaran dua faktor: inersia sejarah dan proyekisasi. Menurut Shofwan, tak semudah memencet tombol “Ctrl + Z” untuk mengubah keadaan yang sudah telanjur terjadi. Dan sekali lagi, penunggangan wacana oleh pihak-pihak berkepentingan seperti sudah disampaikan sebelumnya juga berpotensi terjadi lagi dan lagi.

Akhir kata, membaca buku terbitan Pro-U Media ini tentu akan menambah khazanah pengetahuan terkait apa yang akrab kita hadapi dewasa ini. Terlebih penulis banyak mengulas pendapat para pakar terorisme walaupun tetap dengan dilandasi sikap kritis. Data dan analisis yang disajikan berlandas pada cukup banyak sumber menjadi sajian utama yang amat bergizi. Pun penambahan kolom khusus yang membahas istilah-istilah yang mungkin asing bagi sebagian pembaca (sekuritisasi, balancing, bandwagoning, dan sebagainya) menambah nilai tambah buku ini. Oleh karena itu, adalah penting bagi kita untuk menyempatkan menelaah kajian ilmiah yang dikemas dengan bahasa yang ramah dengan berbagai kalangan ini. Selamat membaca.

Nur Afilin

 

 

 

Leave a Reply

Scroll To Top