Thursday , 20 September 2018
update
Membonsai Diri Sendiri

Membonsai Diri Sendiri

Diskusi merupakan forum ilmiah yang diadakan untuk bertukar pendapat mengenai suatu masalah. Pihak yang terlibat dalam diskusi, umumnya adalah orang-orang terpelajar yang diharapkan mampu mencari jawaban atas topik yang sedang dibahas atau menjadi perhatian publik. Kendati dalam setiap diskusi selalu muncul tanya jawab, saran, bahkan kritik, namun muara diskusi bukanlah kalah menang.

Dengan demikian, diskusi tidak mensyaratkan adanya pihak pemenang atau pihak yang dikalahkan. Siapa saja berhak untuk mengajukan klaim apa saja, sepanjang didukung oleh bukti dan argumen yang rasional. Setiap peserta diskusi juga wajib menghormati data dan analisis yang dikemukakan oleh peserta lain. Tidak boleh ada sorak atau ungkapan bernada melecehkan yang dapat mengurangi nilai forum ilmiah itu.

Supaya diskusi berjalan lancar, ditunjuklah salah seorang untuk memandu berjalannya diskusi, yang jamak disebut sebagai moderator. Moderator bukan asal-asalan. Selain orang yang dianggap mampu menguasai masalah, moderator juga dituntut menjadi pihak penengah, tidak berat sebelah. Diskusi berubah menjadi debat kusir yang panas, sering bukan semata disebabkan oleh pemateri, melainkan moderator yang menjadi biang keladi dengan kalimat-kalimat provokatif atau bernada memojokkan dan menghakimi.

Muncullah teriakan jalang, semacam “huuu” atau cemooh tidak bertanggung jawab, semisal “materi tidak jelas”, “bukan pemikiran Islam”, dan seterusnya. Sikap demikian, tentulah bukan cara diskusi yang bagus. Juga tidak pantas dilakukan oleh orang-orang yang mengaku diri pandai dan bergelar. Al-Qur’an sudah berpesan, “Bantahlah mereka dengan cara yang bagus. Sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS An-Nahl/16: 125).

Tidak mau menghormati pendapat orang lain, biasanya berlanjut menjadi sikap merasa paling benar sendiri. Itulah pangkal kedunguan. Jika seseorang sudah terjangkit virus demikian, dia akan menjadi seperti gelas penuh. Karena sudah atau merasa penuh, diisi apa pun akan tumpah. Selamanya, gelas akan terisi air yang itu-itu juga, karena setiap teh, kopi, sirop, susu, dan segala yang dituangkan ke dalamnya, selalu meluber. Seseorang dengan model begitu, sering saya katakan sebagai membonsai dirinya sendiri.

Persis tumbuhan yang dikerdikan karena ditanam dalam pot dengan cara tertentu, membonsai diri sendiri juga dapat menjadikan seseorang berpikiran picik, kerdil, dan sempit. Pendapat setiap orang yang tidak sama dengan dirinya, selalu disikapi dengan sinis atau ditolak sama sekali. Tidak merasa perlu melakukan kajian lebih cermat atau mencari data lebih akurat untuk membantah, karena dia sudah merasa paling benar. Bukan dia yang merasa perlu mendengarkan, melainkan orang lain yang terus dituntut untuk menyimak dan menuruti setiap pendapatnya.

Bukan mustahil orang semacam itu ada di sekitar kita. Dia mudah sekali memberikan stigma negatif kepada pihak lain tanpa perlu melakukan klarifikasi terlebih dahulu. Lupa bahwa tindakan semacam itu tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Mungkinkah menyalahkan orang dengan cara salah, menyesatkan orang dengan metode sesat, mengafirkan orang dengan model kafir, membid’ahkan orang dengan sistem bid’ah, mengislamkan orang dengan jalan yang justru ditolak oleh Islam?

Semoga kita dijauhkan dari sikap tinggi hati atau gampang menghakimi pemikiran yang berbeda. Sepanjang bernama manusia, pendapat kita tidak mutlak kebenarannya. Boleh jadi kita benar, tetapi belum tentu orang lain salah. Juga, mustahil sekiranya kita selalu sesat dan orang lain terus-terusan lurus. Yang penting bagi kita ialah mau terus belajar. Kacaunya peradaban dunia, kerapkali dipicu oleh adanya orang-orang yang enggan belajar, tetapi mengaku sebagai paling pintar dan benar.

Lebih tragis, masih muncul pemisahan antara ilmu Barat dan Timur, ilmu Islami dan bukan Islami. Ilmu apa saja, kecuali sihir atau santet, bisa diumpakan pisau dapur. Nilai manfaat dan mudaratnya, sangat tergantung pada siapa yang memegang. Selain jenis ilmu terlarang yang disebutkan barusan, ilmu itu hitam atau putih, sungguh terletak pada cara penggunaannya. Sebab itu, jangan sampai kita terjangkit sindrom kacamata kuda. Penilaian dengan kacamata kuda hanya menggiring kita kepada fitnah. Belum tuntas memahami masalah, buru-buru menjatuhkan stigma kafir atau sesat terhadap pihak lain dengan modal “katanya”.

Kita juga berdoa, semoga dijaga dari sikap membebek dalam menyemarakkan fitnah murahan tanpa dasar ilmu dan hati yang diterangi cahaya ikhlas. Kalau ibadah sehari-hari saja masih terasa kurang, menjaga perasaan sesama juga sering gagal, membonsai diri sendiri hanya menyebabkan kita berat untuk turut membudidayakan ketenteraman dan kedamaian dalam hidup dan kehidupan ini.

M. Husnaini (Penulis buku Menemukan Bahagia)

Leave a Reply

Scroll To Top