Monday , 21 August 2017
update
Membuka Rembulan

Membuka Rembulan

Adakah rindu di hatimu
seperti rindu yang kurasa
sangggupkah kuterus terlena
tanpamu di sisiku
ku kan selalu menantimu..

Tawa kalian membuatku tak  kunjung ikhlas untuk pergi dari rumah ini. Betapa tidak, kalianlah nafas terakhirku di kota yang pilih kasih ini. Aku tahu betapa rapuhnya diriku tanpa kalian. Saat-saat bersama kalianlah satu kotak memori indah lagi yang tak mampu kuhapuskan begitu saja. Mungkin masih hangat di kepala, ada satu adat istiadat setelah magrib untuk bercenda bersama, di kamarku. Satu kebiasaan indah seusai sholat berjama’ah. Aku merindukan kalian di sudut sini, sudut mimpiku, Paris, Perancis.

Ku tak akan pernah berpaling darimu
walau kini kau jauh dariku
kau slalu ku nanti
karna ku say
ang kamu
(Dygta band)

 

***

Guliran waktu yang menunjukkan kesiapan pagi, membangunkan lelap pertamaku di kota ini. Langkah kaki yang terbiasa mendekat pada rumah Tuhanku di subuh ini pun aku putuskan tidak kali ini. Bukan ku tidak ingin, tapi dimana masjid itu berdiri pun aku tidak mengetahuinya. Kuputuskan saja untuk mempersiapkan OSPEK di kampus. Semuanya amat berbeda. Tak ada embun di jendala kamarku, tak ada kicauan burung spesies  Prinia familiaris. Sebagai penggantinya adalah sekawanan polusi dari sarang tabung bernama knalpot. Aku heran, pagi-pagi saja sudah tak sejuk nafas bumi Jakarta. Apalagi siang hari.

Setelah semua siap kusiapkan akhirnya aku turun ke lantai bawah. Di sana aku berkenalan dengan rekan-rekanku satu jurusan. Mereka sama bau busuknya sama seperti diriku. Sudah kuperkirakan mereka berasal dari daerah yang tak tersentuh minyak wangi. Kami berjalan berkelompok memperlihatkan nafas daerah. Ku telah sampai di kampus yang memberikanku beasiswa ini. Ia terlihat megah, bukan karena gedung atau bangunannya, namun karena orang-orang aneh yang di sini. Mungkin aneh menurutku, semuanya terkesan norak. Sebagai contoh kenorakan mereka adalah mereka menggunakan tas dari celana jeans yang mereka potong sepaha dan menjahit kedua lubang untuk kakinya. Tas model itu luar biasa banyaknya, seperti sedang trend. Mungkin itu salah satu kreativitas paling buruk bagiku.

Kesan dari beberapa hari mengikuti kegiatan pra-kuliah di kampus ialah aku mendapatkan kata-kata yang aneh. Seperti cerita rekanku yang satu ini, ‘Aku kan tadi ditanya sama temen-temen kelompokku, ada PIN BB ga? Lantas ku jawab apalah@yahoo.com. Mereka senyum-senyum dan akhirnya tertawa terbahak-bahak., Apa aku salah? Karena mungkin PIN BB itu sama seperti alamat emailku” tambahnya.

 

Ada kehampaan yang kurasakan di sini, meski ini adalah bagian dari rencana yang telah kususun jauh sebelumnya. Apakah ini yang disebut shock culture. Aku bukan siapa-siapa di sini, tak ada yang mengenaliku, tak ada yang percaya padaku. Aku bak seorang bayi yang baru keluar melihat dunia. Keheningan dan awal tanpa mereka yang ku kenal membuatku begitu bosan, bahkan aku bingung. Hal yang sangat timpang dibandingkan di desaku. Di sana aku memiliki sahabat Eiffelku. Yang siap mengarungi hutan belantara dan sungai yang meliuk-liuk bak ular hijau di daunan.

(bersambung)

Penulis : Anton Nuari
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top