Wednesday , 14 November 2018
update
Memfasilitasi Peranan dalam Organisasi

Memfasilitasi Peranan dalam Organisasi

Memberi arti dalam sebuah hubungan adalah syarat langgeng hubungan itu sendiri. Ini bukan hal tentang ikatan kekasih atau ikatan pernikahan. Namun, ini adalah hal tentang lingkaran organisasi. Dalam sebuah organisasi, semua anggota memiliki perannya masing-masing guna mencapai tujuan bersama. Ketika mereka mengatakan bersedia untuk bergabung dalamsuatu organisasi, berarti mereka mengikhlaskan dirinya untuk didayagunakan demi kepentingan organisasi tersebut. Tentu tanpa mengacuhkan kepentingan mereka di luar organisasi tersebut, seperti kuliah, kerja, organisasi lain, dan lain-lain. Ya, mereka datang dengan keinginan untuk turut berkontribusi. Artinya,  memberi manfaat untuk organisasi adalah kebutuhan, bukan semata kewajiban bagi mereka. Itu adalah kunci emas yang tidak boleh dimatikan.

Sebuah paradigma yang benar tapi salah dan sering meracuni pikiran seorang ketua organisasi adalah perannya yang kudubanyak dan besar, sehingga ketua sering dianggap dan menganggap dirinya sebagai pembantu dalam organisasi tersebut. Ketua seringkali rela berkorban untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan tanpa melibatkan anggotanya; menyusun konsep organisasi, menyelesaikan masalah; berkomunikasi dengan stakeholders; sampai sekecil menyiapkan perlengkapan kegiatan. Terkadang alasannya adalah tidak mau membebani anggotanya, khawatirnya, anggotanya akan mengundurkan diri dari jabatannya. Niatnya memang baik, tapi sayangnya, ketua juga manusia. Ketua pun memiliki urusan-urusan lain di luar organisasi, sedangkan waktunya tervorsir untuk mengurusi organisasi tersebut saking banyaknya tugas yang dia borongsendiri. Maka, semakin kuatlah keyakinannya bahwa ketua adalah pembantu. Lalu, bak seorang pembantu, ketua pun mengeluh “Duh, banyaknya pekerjaanku ini. Tidak adakah yang peduli denganku?”

Di sisi lain, anggota merasa seperti pasien rumah sakit yang cukup tidur di ranjang, makan pun mereka dilayani. Dipikir enak menjadi pasien rumah sakit? Tidak! Silakan tanyakan pada yang bersangkutan. Sungguh tidak enak hidup tanpa memberi manfaat bagi lingkungannya. Jika ditinjau berdasarkanMaslow’s Theory of Needs, setiap manusia memiliki kebutuhan mengaktualisasikan diri setelah kebutuhan-kebutuhan dasar, seperti sandang, pangan, dan papan, terpenuhi. Sekali lagi, mengaktualisasikan diri adalah sebuah kebutuhan, bukan semata kewajiban. Begitu pula setiap anggota memiliki kebutuhan untuk mengaktualisasikan diri dalam organisasi. Itulah kebutuhan setiap anggota yang perlu difasilitasi oleh ketua dengan memberinya pekerjaan. Jika tidak, mereka mungkin akan memilih keluar dari organisasi tersebut, bakpasien rumah sakit yang ingin keluar dari ruangan dimana keberadaannya tidak memberi arti.

Tentu, dalam memberikan tugas, ketua juga perlu mempertimbangan kemampuan anggota, baik kemampuan fisik, akal, dan waktu. Setiap anggota memiliki tingkatannya masing-masing. Tugas yang diberikan diusahakan adalah pekerjaan yang menantang untuk standar anggota tersebut, tetapi tidak melebihi kapasitas kemampuan yang dimilikinya untuk menghindari perasaan bersalah (guilty). Keberhasilan anggota dalam melaksanakan tugas tersebut ditambah dengan apresiasi secukupnya, merupakan motivasi baginya untuk terus dan berkontribusi lebih banyak dalam organisasi tersebut. Sedangkan kegagalan dalam melaksanakan tugas tersebut dapat memberi dua dampak; (1)Menjadi sebuah tantangan untuk semakin berusaha lebih baik jika dibarengi dengan dorongan dari ketua dan anggota lainnya, serta masih dengan memberi apresiasi atas kerja kerasnya. Kegagalan itu pun adalah kegagalan yang ringan, di mana ada kemungkinan baginya memperbaiki kesalahan yang membuatnya gagal melaksanakan tugas tersebut. (2) Menimbulkan perasaan bersalah yang berlebih (guilty). Ini terjadi apabila dia dihakimi atas kegagalan yang dilakukanya dan tidak adanya dorongan dari ketua dan anggota lain sebagai tindak lanjut atau respon. Selain itu, kegagalan yang mungkin berdampak seperti ini adalah kegagalan atas tugas yang melebihi kemampuannya. Kegagalan atas tugas yang melebihi kemampuannya akan menumbuhkan persepsi pada diri anggota bahwa dia tidak berguna berada di organisasi tersebut. Seperti uraian sebelumnya, dia tidak mendapatkan kebutuhannya untuk mengaktualisasikan diri di organisasi tersebut.

Urusan tugas menugaskan dalam sebuah organisai sebenarnya enak dan saling menguntungkan bagi ketua dan anggota karena keduanya memperoleh manfaat dari pembebanan tugas tersebut. Ketua selayaknya tidak perlu sungkan untuk mendayagunakan anggotanya, meskipun tidak pula seenaknya mengekspoitasi mereka. Selanjutnya, komunikasi adalah aspek yang sangat penting untuk memotivasi dan mengapresiasi usaha keras anggota.

 

Penulis : Vina Yusriana, Pengurus KAMMI Madani, Ketua Madani Community
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top