Sunday , 19 August 2018
update
Mempertuhankan Jasmani, Mempersetankan Rohani

Mempertuhankan Jasmani, Mempersetankan Rohani

Malam itu, Jumat, 22 Agustus 2014, saya hadir di majelis taklim Al-Mutaqin Lamongan. Pengurus majelis taklim tersebut meminta saya untuk memberikan ceramah agama dalam rangka pembukaan pengajian rutin setelah berjeda selama Ramadhan. Menarik sekali bisa berlesehan bersama ratusan jamaah di salah satu lajur jalan di kampung setempat.

Selama ini, saya selalu angkat topi melihat kampung yang memiliki majelis taklim. Menghidupkan majelis taklim sungguh prestasi tersendiri. Jangankan mengadakan pengajian rutin mingguan atau bulanan, mengundang jamaah untuk mau hadir dalam pengajian temporal saja, tidak selalu mudah. Sangat sedikit masyarakat yang menyukai pengajian agama kalau dibanding pertunjukan wayang atau orkes, misalnya. Semua mafhum, jumlah jamaah masjid juga tidak pernah mengungguli jumlah jamaah warung kopi.

Manusia jelas makhluk dua dimensi: lahir dan batin. Lahir diciptakan untuk mewadahi empat unsur batin yang terkumpul dalam diri manusia, ialah ruh, jiwa, akal, dan hati. Menurut Agus Mustofa, penulis buku serial diskusi tasawuf modern, ruh itu energi kehidupan. Sosok makhluk yang tadinya mati tiba-tiba hidup, bergerak, dan berkembang biak adalah karena ditiupkan ruh. Ruh ibarat aliran listrik yang mengendalikan seluruh jaringan infrastruktur dalam diri manusia, sementara jiwa adalah program aplikasi yang menyebabkan manusia memiliki kemampuan operasional, seperti senang dan susah, gembira dan merana, berani dan takut, puas dan menyesal. Sebab itu, jiwa inilah yang kelak akan bertanggung jawab atas setiap pilihan yang dilakukan selama di dunia.

Setelah dipasang software berupa ruh dan jiwa yang menghasilkan seperangkat perintah alamiah, manusia akhirnya dilengkapi dua radar supercanggih berupa akal dan hati. Jika akal berperan untuk menunjukkan mana benar dan mana salah, maka hati dapat menyeleksi antara yang baik dan buruk. Kejelian radar akal sangat dipengaruhi oleh banyaknya muatan ilmu, sementara kejernihan radar hati sangat ditentukan oleh tingginya asupan agama dan hikmah.

Dengan demikian, pemenuhan kebutuhan manusia haruslah mencakup dimensi jasmani dan rohani. Adalah percuma memiliki jasmani bugar kalau rohani sakit-sakitan. Tidak pula bermakna memiliki rohani prima kalau jasmani ringkih. Kedua unsur itu harus diperhatikan sesuai hak masing-masing. Kebugaran jasmani harus ditopang dengan kesehatan rohani. Meremehkan satu di antara keduanya hanya akan menimbulkan masalah. Dalam kaitan itu, penting digalakkan majelis taklim. Fungsinya jelas sebagai salon rohani. Di mana-mana mudah kita jumpai salon-salon jasmani, bengkel-bengkel badani. Jika tidak diimbangi dengan salon atau bengkel rohani, kemanusian kita tidak akan pernah paripurna.

Buktinya sudah nyata. Manusia modern terlalu mementingkan urusan fisik ketimbang urusan batin. Kedudukan seseorang kerap disandarkan pada segala yang berbau fisik atau materi. Sekiranya harus diurutkan, penghormatan terhadap seseorang lumrah didasarkan kepada yang menggenggam benda berlimpah. Menempati urutan pertama untuk dihormati adalah orang kaya, dilanjutkan penguasa, orang terkenal, orang sakti, orang rupawan, dan orang pintar. Urutan paling buncit barulah orang baik atau mulia.

Kendati ilmu setinggi langit dan akhlak seindah bunga, kalau minim harta, seseorang tidak akan mampu berbuat banyak. Semakin tidak berdaya kalau ternyata juga bukan pejabat, tidak kondang, tidak mandraguna, dan buruk rupa pula. Siapa kiranya bersedia mendengar suaranya, selain mereka yang benar-benar memiliki pikiran nirmala dan nurani berseri. Di tengah kehidupan modern yang jauh dari pancaran majelis Ilahi, yang terus bermekaran ialah fenomena mempertuhankan jasmani dan mempersetankan rohani.

M. Husnaini (Penulis buku Menemukan Bahagia)

 

Leave a Reply

Scroll To Top