Wednesday , 15 August 2018
update
Memuliakan Diri

Memuliakan Diri

Kenapa agama senantiasa memerintahkan umatnya untuk berbuat baik dan melarang berbuat jahat? Untuk siapa sebenarnya setiap kebaikan atau kejahatan yang kita lakukan itu? Al-Qur’an tegas menjawab, “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, maka pahalanya untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa mengerjakan kejahatan, maka dosanya untuk dirinya sendiri. Tuhanmu tidak sekali-kali berlaku zalim kepada para hamba-Nya.” (QS Fushshilat/41: 46).

Dari firman Allah itu, terungkap bahwa kebaikan dan kejahatan yang kita lakukan pasti kembali kepada diri kita. Dalam kehidupan bermasyarakat, kebaikan dan kejahatan itu, dapat dianalogikan dengan melemparkan bola ke tembok. Semakin keras bola kita lemparkan, semakin keras pula bola itu memantul kepada diri kita. Kata pepatah, bagaimana engkau memperlakukan orang, begitu pula engkau akan diperlakukan. Tanam padi, tumbuh padi. Tanam duri, tumbuh duri.

Tidak ada agama yang mengajarkan kejahatan. Nurani manusia sendiri tentulah menyukai kebaikan dan sebaliknya, mengingkari kejahatan. Perbuatan baik akan membuat hati tenang. Perbuatan jahat akan membikin hati gulana. Tepatlah Rasulullah ketika menjelaskan tentang kebajikan (al-birru). Menurut akar kata bahasa Arab, al-birru yang berasal dari al-barru, bermakna semua perbuatan baik yang dapat mendekatkan manusia kepada Allah, seperti iman, ibadah, dan kebaikan lain. Apa kata Rasulullah? “Al-birru atau kebajikan adalah akhlak yang mulia. Sementara dosa ialah sesuatu yang menggelisahkan jiwa dan engkau merasa khawatir apabila diketahui oleh orang lain.” (HR Muslim, Tirmidzi).

Sudah pasti, setiap kebaikan yang kita lakukan akan membuat diri tenang, damai. Ibadah, misalnya, jika mampu dilakukan secara baik dan rutin, hidup kita akan beres. Kalau hidup sering suntuk dan galau, jangan-jangan ibadah kita masih sering kepancal ayam. Belum lagi, mungkin, kesibukan kita sebatas mengoleksi kejahatan demi kejahatan. Kalau demikian, jangan kaget jika masalah-masalah yang memusingkan kerap bertandang. Hidup semakin jauh dari bahagia, karena musuh muncul dari berbagai penjuru arah.

Sebab itu, jika ingin hidup mulia dan jauh dari masalah, perbaikilah mutu ibadah dan kebaikan pada sesama. Tidak ada orang yang senang diperlakukan semena-mena. Sekiranya kita dicubit, merasa sakit, demikian pula orang lain yang kita cubit. Kalau kita kerap sirik atau uring-uringan dengan keberhasilan orang lain, itu pertanda bahwa kita kurang mensyukuri nikmat. Bisa juga karena kita memang belum atau tidak memiliki kemampuan seperti orang itu, sehingga kita sering gagal dalam usaha. Sebaiknya kita segera sadar diri dengan berusaha menghargai orang lain. Cobalah meniru proses perjuangan orang yang kita anggap sukses. Jangan terlalu egois terhadap kepentingan diri, tanpa bersedia berkorban demi kemaslahatan bersama.

Sikap arogan, dalam bidang apa saja, selalu muncul akibat pemahaman kita yang tidak utuh. Ibarat orang belajar aritmatika. Kalau baru tahu penambahan, lantas ditanya bilangan berapa yang jika dioperasikan akan ketemu hasil 10, pasti kita akan mengotot menyodorkan dua angka yang lebih kecil dari 10, seperti 5+5 atau 8+2. Berbeda dengan orang yang, selain penambahan, juga paham pengurangan, perkalian, dan pembagian. Tentu dia akan memberikan jawaban, misalnya, 15-5 atau 5×2 atau 30:3. Demikian analogi Mohammad Nuh dalam “Menyemai Kreator Peradaban” (2013).
Di halaman lain, menarik pula kita simak ungkapan Prof Nuh, yang mengutip Ziauddin Sardar, bahwa ilmu pengetahuan tidak akan ditemukan dalam lembaran-lembaran Kitab Suci, kendati kita sering memperoleh inspirasi darinya. Untuk mencapai puncak hikmah, kita harus menyingsingkan lengan baju untuk kembali bekerja di laboratorium dan observasi di jagat semesta. Terlalu semangat dalam beragama tanpa dasar ilmu yang cukup, menjadikan cara pandang terhadap suatu masalah sangat sempit. Kendati kebaikan, kalau tidak datang dari golongan kita, serta merta kita tolak.

Kita lupa bahwa Ali bin Abu Thalib pernah menganjurkan supaya kita menuntut ilmu, meskipun sampai ke negeri China. Adakah China saat itu merupakan negeri Muslim? Tentu bukan. Ringkas kata, meskipun keluar dari dubur ayam, kalau itu telur, silakan ambil. Kebaikan bisa lahir dari mana saja dan siapa saja. Tidaklah salah meniru sikap dermawan, kendati muncul dari seorang kafir. Buat apa bicara muluk-muluk tentang agama, kalau melaksanakan shalat jamaah di masjid secara rutin saja, susahnya minta ampun. Tidak perlu juga sok paling Islam, terutama ketika mengobrol atau diskusi, kalau faktanya mengaji Al-Qur’an satu juz setiap hari saja, belum mampu istikamah.

Sekali lagi, kemuliaan diri kita sesungguhnya sangat tergantung pada kapasitas dan kapabilitas kita dalam menjaga silaturahmi intim dengan Allah (vertikal) dan sesama manusia (horizontal). Akal bersih mendatangkan kejeniusan. Hati cemerlang melahirkan kasih sayang. Jiwa tenang membentuk kematangan. Ibadah secara tertib dan istikamah mengundang kebahagiaan

M. Husnaini (Penulis buku Menemukan Bahagia)

Leave a Reply

Scroll To Top