Saturday , 18 November 2017
update
Menafsiri Jakarta

Menafsiri Jakarta

Sudah menjadi sebuah rahasia umum yang diwajarkan, Jakarta adalah ibukota yang penuh rutinitas sibuk. Kemacetan mengular sepanjang hari karena berjubelnya sepeda motor dan mobil. Setiap hari, siapapun anda yang bekerja dan berjuang menekuni kehidupan Jakarta tidak bisa melepaskan diri dari kemacetan.

Begitu yang terjadi, sehingga seoang teman pernah mengatakan kepada saya, “Saya yakin setiap orang yang hidup Jakarta dikejar berbagai kesibukan sehingga tingkat stress warga Jakarta sangat tinggi”.

Repotnya, kemacetan itu seperti tak berujung karena buruknya sistem transportasi dan rendahnya kesadaran hukum pengguna kendaraan baik sepeda motor dan mobil.

Lihat saja, setiap di lampu merah terjadi kemacetan. Setiap pengemudi sepeda motor dipaksa menemui rasa bersalah. Mereka dikejar  berbagai agenda yang harus diselesaikan. Sehingga ketika lampu merah menyala tanda kendaraan harus berhenti. Setiap pengemudi sepeda motor langsung berhenti, tapi selalu melewati garis zebra cross. Mereka memilih tindakan itu dan semakin merepotkan ketika sepeda motor di belakangnya juga ikut-ikutan melanggar ketentuan lalu lintas tersebut.

Mungkin pada masa lalu, kebiasaan itu dianggap tabu. Tapi semakin hari, semakin banyak pelanggar sehingga terkesan diwajarkan. Ketika anda mencoba patuh pada peraturan lalu lintas. Anda akan mendapatkan “ kucuran omelan, cacian dan ejekan” dari pengendara lain atau pengendara kendaraan di belakang Anda.

“Mas maju dong. Udah tahu macet malah diem,” kata seorang pengendara di belakang.

“Tapi itu lampu merah, Mas. Ini kan zebra cross. Saya harus berhenti di belakang zebra cross sesuai peraturan,” jawabku

“Mas ini, kaya hidup di planet lain saja. Ini Jakarta mas, peraturan ada untuk dilanggar,” jawabnya lagi.

Karena masih keras kepala, tidak jarang motor di belakang mencoba mengambil kesempatan dan akhirnya sebagian dari badan motor kita tertabrak.

Betapa perilaku itu sekali lagi, sudah dianggap sebuah kewajaran dalam dunia lalu lintas. Kesibukan manusia, pembiaran dari aparat kepolisian dan lampu lalu lintas yang kadang mati membuat semua berproses atas nama “ kewajaran”.

Akhirnya jangan pernah menyalahkan ketika kita terus menjadi bangsa yang tertinggal. Prinsip kedisiplinan lalu lintas berkembang sebagai abstraksi yang menyakitkan. Maju kena, mundur kena. Istilah itu tepat menggambarkan kesadaran kita dalam disiplin berlalu lintas. Jika memilih taat, jangan salahkan orang lain seenaknya saja menabrak dan membuat beberapa bagian motor anda lecet. Jangan juga pernah marah ketika orang di belakang sepeda motor Anda mengeluh, menggerutu dan marah-marah.

Sedangkan jika Anda memilih melanggar aturan, tentu hati nurani akan terusik dan meninggalkan perasaan bersalah. Tapi entahlah, semakin hari saya tersadarkan mungkin perasaan bersalah semakin menghilang dalam sanubari kita. Apalagi, ada “pelegalan” secara tidak langsung dari Pak Polisi dengan alasan untuk menghindari kemacetan yang semakin parah.

Hukuman bagi pelanggar juga tidak pernah jelas. Mereka hanya mendapatkan nasehat, tapi siapa pedulu. Siapa mau memberikan nasehat, sebab polisi sudah sibuk mengatur lalu lintas. Mereka hanya menganggap, itu kondisi terpaksa. Ya, keterpaksaan yang terjadi pada semua sektor jalanan strategis yang penuh kemacetan seperti perempatan RS Budi Asih, Pusat Grosir Cililitan dan kawasan macet lainnya.

Sempat penulis mendengar, ada rencana kepolisian membuat sebuah sistem unik. Jadi jika ada sebuah kendaraan baik sepeda motor atau mobil melewati zebra cross maka akan dikenakan sebuah sinar tak terlihat. Sinar itu yang terhubung langsung ke markas lalu lintas Kepolisian dan secara otomatis terdaftar siapa saja pelaku di lapangan. Sehingga proses tilang berjalan melalui data elektronik. Dalam beberapa hari, surat tilang akan mampir ke rumah si pelanggar.

Tapi, mungkin teknologi seperti itu masih terlalu mahal bagi bangsa ini. Terlalu mahal pemerintah mengeluarkan teknologi itu demi menyadarkan kedisiplinan berlalu lintas. Maka, jangan pernah mengeluh jika kedisplinan manusia Indonesia berjalan sangat rendah.

Akhirnya, selamat menikmati sebuah pesona para raja jalanan dengan slogan “ Jangan sok taat mas. Peraturan ada untuk dilanggar” Sebuah slogan yang menyadarkan saya, entah sampai kapan peraturan ada, ya untuk dilanggar.

Penulis : Inggar Saputra (Peneliti Insure)
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top