Saturday , 24 June 2017
update
Meneguhkan Komitmen Bermuhammadiyah

Meneguhkan Komitmen Bermuhammadiyah

Judul Buku: Memahami Ideologi Muhammadiyah

Penulis: Dr. Haedar Nashir, M.Si

Penerbit: Suara Muhammadiyah, Yogyakarta

Cetakan: Pertama, 2014

Tebal: xii + 260 halaman

Peresensi: M Husnaini*

muhammadiyah-buku

Kembali terbit buku buah karya Haedar Nashir. Dengan judul Memahami Ideologi Muhammadiyah, karya Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang produktif ini jelas sangat kontekstual. Gempuran berbagai paham keislaman kontemporer, tidak jarang membuat warga Muhammadiyah akar rumput merasa pusing dan galau. Tidak sedikit yang malah sudah jatuh hati dengan gerakan-gerakan Islam militan, seperti Gerakan Tarbiyah, Islam Salafi, Jamaah Tabligh, Ansharut Tauhid, Ikatan Jamaah Ahlul Bait, PKS, HTI, MMI, FPI, NII, MTA, JIL, dan gerakan-gerakan lain yang menggiurkan.

Disadari bahwa seiring usia yang melewati satu abad, warga Muhammadiyah boleh jadi bertambah. Pertambahan kuantitas itu tentu harus diiringi dengan peningkatan kualitas. Dengan demikian, buku ini wajib dibaca oleh segenap anggota, kader, aktivis, apalagi pimpinan, dan termasuk yang berada di amal usaha Muhammadiyah. Apalagi, masih terdapat kalangan yang memahami Muhammadiyah hanya sebatas gerakan dakwah. Mereka lupa bahwa term dakwah, dalam konteks Muhammadiyah, selalu gandeng dengan term tajdid. Kata purifikasi atau pemurnian juga selalu lekat dengan kata pembaruan dan dinamisasi.

Sebagaimana judulnya, buku ini sangat komprehensif dalam mengupas ideologi Muhammadiyah. Kajiannya dimulai dengan kajian Perkembangan Ideologi (Bab I), Ideologi Muhammadiyah (Bab II), Mukadimah AD Muhammadiyah dan Penjelasannya (Bab III), MKCH Muhammadiyah dan Pedoman Memahaminya (Bab IV), Kepribadian Muhammadiyah dan Penjelasannya (Bab V), Khittah Muhammadiyah (Bab VI), Kristalisasi Ideologi Muhammadiyah (Bab VII), Revitalisasi Ideologi Muhammadiyah (Bab VIII), Pernyataan Pikiran Muhammadiyah Abad Kedua (IX), dan Penutup (Bab X).

Sudah banyak buku-buku tentang ideologi Muhammadiyah. Nilai lebih buku ini ialah menyajikan substansi, relasi, strategi, dan revitalisasi dari pemikiran ideologi Muhammadiyah itu berdasarkan rujukan-rujukan resmi. Membaca buku ini, kita akan segera tahu bahwa Muhammadiyah memang berbeda dengan gerakan Islam mana pun di dunia. Muhammadiyah tidak hanya berbicara soal pemurnian akidah, tetapi juga memajukan kehidupan. Muhammadiyah welcome terhadap sumber ilmu dari mana pun, sepanjang untuk kemajuan Islam.

Inilah jati diri yang selama ini kurang terungkap. Tidak heran jika kerap ditemukan warga, bahkan aktivis Muhammadiyah, yang awam tentang Islam model Muhammadiyah. Selain di kampung, juga ditemukan di kota. Ranting Muhammadiyah setempat memang hidup. Infak bulanan di masjid juga mencapai jutaan rupiah. Tetapi kegiatan keislaman dan pemberdayaan, sebagaimana telah menjadi trade mark Muhammadiyah masih terasa kering. Dalam konteks demikian, Muhammadiyah belum menjadi solusi atas berbagai problem masyarakat. Muhammadiyah di situ ibaratnya wujuduhu ka ’adamihi.

Padahal, Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang lincah, progresif, militan, dan selalu berada di depan organisasi-organisasi lain. KH Ahmad Dahlan menamakan gerakan Islam Muhammadiyah dengan istilah Islam Berkemajuan. Karena, secara substantif, Muhammadiyah mengandung unsur-unsur penting dari reformisme dan modernisme Islam. Sementara secara khusus, Muhammadiyah bisa dikategorikan gerakan Islam progresif.

Jati diri ini diamini oleh banyak pemikir dan peneliti dalam dan luar negeri. Alfian (1989) menyebut Muhammadiyah sebagai gerakan reformis. Deliar Noer (1996) menyebut sebagai gerakan Islam modern. Azyumardi Azra (2005) menyebut sebagai gerakan salafiah wasithiah. Soekarno menyebut sebagai gerakan Islam progresif. William Shepard (2004) menyebut sebagai gerakan Islamic modernism. Nakamura (1983) menyebut sebagai gerakan yang sangat patuh dan disiplin, tetapi toleran. Charles Kurzman (2003) menyebut Kiai Dahlan dan Muhammadiyah sebagai Islam liberal.

Seluruh warga Muhammadiyah, sampai akar rumput, harus paham ini. Dengan memahami ideologi Muhammadiyah secara baik, mereka akan dapat mengambil sikap terhadap para mubalig penyusup yang kerap menceramahkan paham keislaman di masjid Muhammadiyah, dan menguliti paham Muhammadiyah. Misalnya, sikap mendukung NKRI mulai digoyang, Pancasila diharamkan, jihad hanya dimaknai dengan perang, istilah mahasiswa disalahkan, karena Maha itu copyright Allah dan haram untuk selain-Nya.

Dengan memahami jati diri genuine Muhammadiyah, kita tidak akan mudah terbius, apalagi sampai “pindah ke lain hati”. Lantas, apa sebenarnya ideologi Muhammadiyah itu? Apa bedanya dengan ideologi-ideologi gerakan Islam lain? Apa saja pemikiran yang termasuk ideologi Muhammadiyah? Bagaimana pula hubungan ideologi Muhammadiyah dengan pusparagam ideologi yang dimiliki gerakan Islam lain? Selamat menelusuri lembar demi lembar buku ini!

*Penulis buku Dan Allah pun Tertawa

Leave a Reply

Scroll To Top