Thursday , 24 August 2017
update
Meneladani Sikap Rasulullah Kala Berduka

Meneladani Sikap Rasulullah Kala Berduka

Judul: Kala Rasul Berduka
Penulis: Abdul Wahid Hasan
Tebal: 251 halaman
Penerbit: Mizan Pustaka
Terbitan: 2014
ISBN: 978-602-1337-19-6
Allah Swt. menciptakan segala sesuatu dengan berpasang-pasangan. Dia menciptakan malam dan siang. Menciptakan bumi dan langit. Menciptakan laki-laki dan perempuan. Juga menciptakan rasa senang dan sedih. Semuanya mengandung hikmah dalam kehidupan ini. Dan, merupakan tanda kekuasaan-Nya.
            Dalam perjalanan hidup manusia tidak selalu berhadapan dengan keadaan yang menyenangkan. Namun, mereka juga merasakan sesuatu yang menyedihkan dengan sebab-sebab yang melatar belakanginya. Karena, hidup bagaikan roda yang berputar. Sebagaimana roda kadang di atas kadang pula berada di bawah. Dalam menyikapinya ada yang menerima dengan lapang dada namun ada yang menggerutu, menganggap hidupnya tidak akan cerah lagi.
            Semua manusia (tanpa terkecuali) pasti pernah merasakan kesedihan. Rasulullah Saw. juga merasakan hal yang demikian. Di samping sebagai utusan Allah Swt. yang bertugas menyampaikan risalah ketuhanan beliau juga sebagai manusia. Perjalanan hidup beliau penuh liku. Ajaran yang dibawanya tidak langsung diterima oleh umatnya kecuali mereka yang mendapatkan petunjuk. Namun, cara menghadapi duka (kesedihan) beliau berbeda dengan manusia secara mayoritas. Meski disakiti oleh orang-orang kafir beliau tetap tabah dan berdo’a kepada Allah Swt. agar Dia menunjukkan mereka ke jalan yang lurus.
            Buku Kala Rasul Berduka mencatat fragmen-fragmen kehidupan Rasulullah ketia beliau mengalami duka. Abdul Wahid Hasan menulis di dalamnya bagimana sikap Rasulullah ketika menghadapi duka tersebut. Bagaimana Rasulullah sebagai manusia pilihan menjalani hidupnya.
            Buku yang diterbitkan oleh Mizan Pustaka ini berisi tiga bagian. Bagian pertama, tentang Rasulullah ketika beliau kehilangan orang-orang terkasih. Ketika dilahirkan beliau sudah menyandang status yatim. Ketika usianya masih kanak ibunya wafat, sehingga beliau menjadi yatim piatu. Betapa sedihnya beliau waktu itu. Di usianya yang masih kanak beliau sudah kehilangan orang yang dicintainya. Namun di balik itu, inilah satu penggal kehidupan yang mesti dijalani oleh Muhammad muda. Inilah pelajaran awal dari Allah tentang penguatan mental dan pematangan jiwanya, tentang ketabahan dan kesabaran. Sebab, sulit sekali menanamkan ketabahan dan kesabaran di dalam jiwa seseorang apabila hanya manya memakai kata-kata dan kalimat. Ia memang harus menjalani dan merasakan secara langsung berbagai gelombang dalam kehidupan, sebesar dan seganas apa pun. (hlm. 17)
            Bagian kedua, Abdul Wahid Hasan menulis tentang ganasnya serangan musuh. Sejarah mencatat ketika Rasulullah menyebarkan ajarannya beliau tidak langsung diterima oleh masyarakat. Bukan sikap baik yang didapat beliau dalam menyebarkan agama Islam melainkan caci maki, siksaan yang bertubi-tubi, dan perlakuan-perlakuan kejam yang didapat beliau. Tidak tanggung-tanggung orang-orang kafir membenci beliau. Bahkan, mereka ingin membunuh beliau.
            Ketika Rasulullah ke Thaif untuk menyampaikan ajarannya, penduduk Thaif tidak menerima beliau dengan baik. Mereka melempari beliau batu dan mengejek beliau. Lemparan batu yang mengenai Nabi Saw. sedemikian hebat. Tiap kali beliau bergerak dari suatu tempat ke tempat lain, lemparan batu bertubi-tubi mengenai tubuh beliau, sehingga tubuhnya berlumuran darah. Dengan berjalan tertatih-tatih dan tubuh penuh luka, beliau terus menghindari mereka, hingga akhirnya beliau berlindung di sebuah kebun anggur milik dua orang bersaudara, ‘Uthbah dan Syaibah. Keduanya putra Rabi’ah. (hlm. 159-160)
            Di tengah kepedihannya Rasulullah berdo’a. begitu luluhnya hati Rasulullah Saw. saat itu dan begitu harunya beliau Saw. melantunkan do’a itu sehingga mengundang reaksi ‘langit’. Allah kemudian mengutus Malaikat Jibril untuk menemui beliau. Penduduk langit sepertinya tidak terima dengan apa yang mereka lakukan kepada kekasih Tuhan mereka itu. Setibanya di hadapan Nabi, Jibril a.s. memberi salam seraya berkata, “Allah mengetahui apa yang telah terjadi padamu dan orang-orang ini. Allah telah memerintahkan malaikat-malaikat di gunung-gunung untuk menaati perintahmu.” (hlm. 161)
            Bagian ketiga, tentang gelombang dalam keluarga. Dalam kehidupan rumah tangga pasti ada masalah di dalamnya. Jalan di dalamnya juga berliku.  Rasulullah pernah mengalami kesedihan dalam rumah tangganya. Rumah tangga beliau sering diwarnai rasa cemburu atara satu istri kepada istri beliau yang lain. Misalnya, Aisyah dan Hafshah yang memiliki rasa cemburu kepada madu-madunya.
            Persoalan yang memicu lahirnya kecemburuan terkadang cukup sederhana-karena tidak bisa punya anak, masakan, dan lain-lain. Suatu ketika Aisyah merasa sangat cemburu kepada istri Rasulullah Saw. Bernama Shafiya bin Huyay. Karena sangat cemburu, Aisyah sampai menyebut fisik Shafiyah yang pendek sebagai sebuah kekurangan, di hadapan beliau. “Cukuplah bagimu kalau Shafiyah itu hanyalah perempuan yang kerdil.” (hlm. 176-177)
            Selain itu, isu skandal Aisyah juga membuat Rasulullah Saw. bersedih. Tersebar gosip bahwa Aisyah berselingkuh dengan Shafwan. Rasulullah Saw. sendiri sangat terpukul dengan gosip tersebut. Hati beliau pilu, manakala melihat istrinya yang kini sakit, semakin menderita dengan kabar miring tentang dirinya yang menjadi buah bibir semua orang di Madinah. Hatinya bergejolak. (hlm. 209)
            Fragmen-fragmen di atas menyirat bahwa Rasulullah pernah mengalami rasa sedih. Ujian yang datang kepada beliau bertubi-tubi. Jika manusia sekarang yang menghadapi ujian seperti ujian yang dirasakan beliau, apakah manusia sekarang mampu bersikap seperti beliau yang tabah dan tetap bersyukur.
            Oleh karena itu, buku ini mengajari kita bagaimana seharusnya kita bersikap ketika dalam keadaan yang tidak mengenakkan. Fragmen kehidupan Rasulullah yang ditulis dalam buku ini sangat penting untuk kita ketahui, karena dalam keadaan sedih kita sulit untuk bersabar apalagi bersyukur. Malah sifat-sifat asli kita tampak jelas.
            Kelebihan lain buku ini, penulis langsung merujuk pada kitab. Sehingga, keaslian kisah Rasulullah di dalam buku ini dapat dipertanggungjawabkan. Referensinya dapat dilihat dalam catatan kaki buku ini. Namun, ada ketidak sesuaian dalam buku ini. Di daftar isi tertera kepustakaan pada halaman 249. Namun, pada halaman tersebut kepustakaan tidak ada melainkan berisi profil penulis.
            Buku bergengsi ini wajib dijadikan referensi umat pada zaman ini. Ini dimaksudkan agar umat dapat meneladani sikap Rasulullah khususnya ketika dalam keadaan berduka. Sehingga tidak ada lagi orang stress di dunia ini. Semoga buku ini menjadi peransang penulis untuk menulis buku dengan tema Kala Rasul Bahagia. Selamat membaca!
Peresensi: Elliya Nuril Karimah, Penikmat Buku dan Mahasiswi Semester V, INSTIKA Guluk-Guluk Sumenep Madura Jawa Timur 69463, Jurusan Pendidikan Bahasa Arab
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top