Friday , 19 October 2018
update
Menelusuri Keindahan Negeri Para Penyair

Menelusuri Keindahan Negeri Para Penyair

Judul Buku : The Road to Persia: Menelusuri Keindahan Iran yang Belum Terungkappersia-buku

Penulis : Afifah Ahmad

Penerbit : Bunyan, Yogyakarta

Cetakan : I, Februari 2013

Tebal : xiv + 222 halaman

ISBN : 978-602-7888-07-4

Dataran Persia telah lama menjadi tujuan penting para pelancong dunia sejak Marco Polo pada abad ke-13. Kemudian disusul oleh Ibnu Batutah satu abad. Khazanah peninggalan Persia, baik pra maupun pasca Islam menjadi sebuah daya tarik tersendiri. Iklim dan geografis Iran yang majemuk juga menarik untuk ditelisik. Afifah Ahmad, penulis buku ini, merasa bahagia menjadi salah satu dari sekian banyak orang yang ingin menjelajahi Persia. Kebahagiaannya kian berasa purna karena ia melakukan traveling bersama Purkon Hidayat, suami tercinta, dan Mehdi Muhammad Hakim, buah hatinya yang masih kecil. Ia mengaku, bahwa suami dan si buah hati adalah inspirasi dalam kehidupannya.

Renier, penyair Prancis, pada 4 abad silam menggambarkan Isfahan sebagai “Half of the World” lantaran ia percaya bahwa separuh keindahan dunia dapat ditemukan di sana. Kota ini memiliki taman-taman yang memesona, jembatan bersejarah, istana peninggalan Dinasti Safavi, Meydan Emam, dll. (hal. 3-10).

Kemegahan Persepolis menjadi sebuah catatan tersendiri bagi para pelancong di seluruh penjuru dunia. Di sana kekaisaran Persia Lama mencapai kejayaannya. Bangunan yang menjadi situs warisan dunia UNESCO sejak 1979 ini terletak 70 km dari Shiraz, ibu kota provinsi Fars. Bangunan Persepolis dulunya berdiri di atas Bukit Rahmat. Anak-anak tangga bersusun mengantarkan para pengunjung menuju pelataran istana. Ketika menginjakkan kaki di bagian akhir tangga, baru terasa betapa besarnya kompleks Persepolis. Area Persepolis terdiri atas beberapa bagian: Istana Apadana, Balai Seratus Tiang, dan makam para raja. Untuk lebih efisien, Afifah dan keluarganya memilih naik mobil sewaan saat menuju area Persepolis yang eksotis (hal. 30-36).

Saat ini, jutaan masyarakat Iran masih menggantungkan hidupnya sebagai pengrajin atau penjual karpet. Jantung-jantung pasar tradisional Iran juga digerakkan oleh para penjual karpet. Sambil melihat-lihat aneka jenis karpet, sesekali pandangan penulis mengitari bangunan pasar yang unik. Salah satu keunikan pasar tersebut adalah arsitekturnya. Kedua tepi lorong tersusun dari batu bata hingga bertemu pada atap yang rumit. Sepanjang mata memandang, susunan atap itu terus menaungi lorong. Selain menghadirkan estetika, desain pasar klasik tersebut juga memberi fungsi perlindungan. Di musim dingin, tiupan angin akan tertahan oleh kukuhnya tembok penghalang. Sementara di musim panas, matahari tak langsung menyorot ke dalam pasar (hal. 42).

Puisi telah menjadi bagian yang sulit terpisahkan dari tradisi masyarakat Persia. Bila bangsa Italia besar dengan opera, bangsa Iran tumbuh bersama syair. Hampir setiap rumah di Iran menyimpan Divan Hafiz, salah satu buku puisi. Ibu-ibu rumah tangga saja telah terbiasa melafalkan baris-baris syair, terlebih para dai dan presenter. Sebuah keberuntungan bagi penyair-penyair di sana, karena selalu mendapat sanjungan dan penghormatan luar biasa. Di Teheran dan kota-kota besar lainnya, banyak dijumpai jalan-jalan utama menggunakan nama Saadi, Hafiz, Rumi, Khayyam, dll. Mereka, para penyair-penyair itu, memang mendapat penghargaan layaknya pahlawan nasional. Bahkan setelah kematiannya, makam mereka dipayungi kubah, dipagari taman-taman indah, sebagaimana di komplek pemakaman Hafiz (hal. 75).

Di antara penyair lainnya, Hafiz, yang bernama kecil Syamsuddin Muhammad memang mendapat tempat istimewa di tengah-tengah masyarakat Iran. Bahkan syair-syairnya digunakan sebagai ‘petunjuk’ atau ‘faalnameh’. Tak heran bila syair-syairnya menjadi sumber rujukan, karena syair-syair karangannya penuh dengan inspirasi, memberi semangat setiap pembacanya. Semisal saat seseorang ragu terhadap sebuah keputusan, maka ia akan membuka buku Divan Hafiz, mencari motivasi dan spirit hidup (hal. 76).

Kota Shiraz berjarak 930 km dari Teheran. Kota ini termasuk salah satu kota wista terpenting di Iran. Sepanjang tahun, Shiraz selalu ramai dikunjungi para turis, meskipun bukan musim liburan. Saadi, dan penyair terkemuka lainnya, Hafiz, lahir dan dimakamkan di Kota Shiraz, sehingga kota ini kerap dijuluki sebagai kota penyair, di samping kota Persia Lama (hal. 92).

Niasar adalah sebuah kota kecil yang terletak 30 km sebelah barat Kota Kashan. Dari kejauhan, terlihat bukit yang dihiasi pepohonan hijau, sangat kontras dengan daerah sekitarnya yang terdiri atas padang gersang. Secara geografis, wilayah Kashan berupa gurun dengan iklim kering dan udara panas. Maka, kehadiran Niasar laksana sepetak tanah surga yang dijatuhkan di padang tandus. Kehidupan di Niasar memiliki catatan panjang. Sebuah gua bertingkat (yang konon dibangun pada masa prasejarah) ditemukan di wilayah tersebut. Niasar memiliki cadangan air berlimpah berupa mata air dengan umur cukup tua dan air terjun yang memancar dari atas bukit. Bukti sejarah lain yang menunjukkan ketuaan Niasar adalah bangunan kuil api yang konon sudah berumur ribuan tahun (hal. 157-161).

Buku ini tidak hanya menyajikan situs-situs wisata biasa, namun mengajak pembaca menelusuri kekayaan sejarah, alam, serta budaya-budaya yang telah sejak lama mengakar erat di Persia.

Peresensi : Sam Edy Yuswanto (Penulis dari Kebumen, Jawa Tengah)

Editor : Nur Afilin

 

 

Leave a Reply

Scroll To Top