Sunday , 17 February 2019
update
Menghafal Alquran dengan Mudah dan Menyenangkan

Menghafal Alquran dengan Mudah dan Menyenangkan

Rahasia Nikmatnya Hafal

Judul buku: Rahasia Nikmatnya Menghafal Al-Qur’an: Siapapun Anda, Anda adalah Penghafal Al-Qur’an

Penulis: D.M. Makhyaruddin

Penerbit: Noura Books

Cetakan: I, Desember 2013

Tebal: xx + 288 halaman

ISBN: 978-602-1606-43-8

Menghafal Alquran memang tidak mudah. Akan ada banyak tantangan dan hambatan dalam proses menghafal yang harus dilewati. Namun demikian, jangan khawatir, teman-teman. Buku ini akan membimbing siapa saja yang ingin menghafalkan Alquran tanpa beban.

Ya, buku karya D.M Makhyaruddin ini tak lain merupakan pengalaman dirinyi yang dipadukan dengan pengalaman para ulama salafus shaleh dalam menghafal Alquran. Makhyaruddin merupakan orang yang menghafal Alquran hanya dalam waktu 56 hari dan berhasil meraih juara pertama dalam Musabaqah Alquran Internasional kategori tahfizh 30 juz dan tafsirnya dalam bahasa Arab pada 2011 silam.

Cinta dan Ketulusan sebagai Bekal Awal

Dalam buku ini, D. M. Makhyaruddin menekankan akan pentingnya cinta dan ketulusan dalam menghafal Alquran. Menurutnya, cinta merupakan kunci dalam segala hal agar sesuatu bisa maksimal. Hal ini karena cinta akan membawa seseorang kepada keyakinan, pengagungan, perjuangan, pengorbanan, kepatuhan, dan usaha maksimal tanpa pamrih. Sehingga, dengan cinta, segala sesuatu yang berat bisa menjadi ringan (hal. 27).

Dalam menghafal Alquran juga demikian. Kecintaan kepada al-Quran akan mendorong seseorang agar bisa melakukan segala upaya dalam menghafal. Cinta akan membawa seseorang pada keseriusan dalam menghafalkan Alquran. Keseriusan ini akan membawa kemudahan. Sebab, Alquran telah dimudahkan oleh Allah untuk dihafalkan dan dihayati (hal. 31).

Kecintaan kepada Alquran akan menuntun seseorang kepada ketulusan. Ketulusan yang dimaksud di sini adalah kebulatan hati atau tekad yang tidak dapat diganggu gugat untuk  menghafal Alquran dengan pelaksanaannya. Kebulatan tekad atau niat yang kuat dalam menghafal di sini dilakukan semata-mata untuk mengharap kebahagiaan hakiki, yaitu keridhaan, pahala, dan ampunan Allah SWT (hal. 43-45).

Ketulusan demikian penting sebagai bekal dalam menghafal Alquran agar tidak mudah patah semangat. Jika menghafal karena Allah, maka ia tidak akan mudah kehilangan semangat walaupun dalam perjalanannya menemui banyak kesulitan dan hambatan. Kesulitan dan hambatan bagi orang yang tulus dalam menghafal dilihat sebagai ujian keimanan yang harus ditaklukkan, serupa dengan musuh dalam peperangan.

Kesungguhan dan Menjauhi Kemaksiatan

Setelah bekal dalam menghafal sudah dirasa cukup, maka untuk selanjutnya yang dibutuhkan adalah kesungguhan. Kesungguhan dalam menghafal merupakan kunci utama agar bisa menghafal dengan baik. Tanpa kesungguhan dalam proses menghafal, maka orang akan mudah menyerah terhadap  ujian yang akan menghadang.

Menurut penulis buku ini, berat atau ringan sebuah ujian sebenarnya tidak diukur dari besar dan kecilnya, tetapi diukur dari perjuangan menghadapinya. Semua ujian itu berat selama tidak dihadapi dan semuanya menjadi ringan apabila diperjuangkan. Cara sukses menghadapi ujian hanya satu, mujahadah, yaitu semangat yang membara, bersungguh-sungguh, bekerja maksimal sekuat tenaga, mengerahkan segala kemampuan, dan berdaya upaya sampai titik penghabisan (hal. 122-124).

Selain kesungguhan, agar proses menghafal berjalan lancar yang perlu dilakukan adalah menghindari kemaksiatan. Perbuatan maksiat menyulitkan seseorang dalam proses menghafal dan membuat orang yang sudah hafal mudah lupa. Andaikan masih bisa mengingat huruf-huruf dan kalimat-kalimatnya, huruf-huruf dan kalimat-kalimat itu sudah kehilangan kandungannya (hal. 193).

Hal demikian tentu saja tidak diinginkan oleh para penghafal Alquran. Karenanya bagi para penghafal, menghindari segala jenis kemaksiatan merupakan kunci untuk bisa mudah dan lancar dalam proses menghafal.

Agar Hafalan tetap Terpelihara

Bagian yang tersulit bukanlah menghafal Alquran bukanlah menghafal itu sendiri, melainkan menjaga agar hafalan bisa terpelihara sepanjang masa. Banyak orang yang mampu menghafal dengan baik, tapi tidak mampu menjaga hafalan sampai akhir hayat. Padahal, orang yang lupa terhadap ayat yang pernah dihafal, adalah sebuah kemaksiatan.

Dalam kerangka inilah takrir atau mengulang-ulang hafalan sangan penting peranannya. Takrir merupakan keharusan bagi para penghafal. Dalam proses menghafal, harus ada keseimbangan antara menambah hafalan dan mengulang-ulangnya. Bahkan, sekalipun sudah berhasil menghafalkan 30 juz, takrir tetap merupakan keniscayaan. Sebab menurut penulis buku ini, puncak kenikmartan menghafal Alquran adalah pada saat mengulang atau istiqamah dalam menjaga hafalan (hal. 257)

Selain dengan takrir, cara terbaik untuk mmelihara hafalan Alquran adalah dengan tafsir dan tathbiq. Dengan berusaha menguasai tafsir suatu ayat, maka tidak mudah bagi kita untuk lupa. Selain itu, penghafal arus senantiasa menyempatkan diri untuk menyediakan waktu untuk membaca Alquran. Dengan senantiasa melakukan tathbiq ini, seseorang terus dapat membaca dan mengingat bacaan yang telah dihafal.

Ayo Menghafal

Ringkasnya, buku ini membahas secara komprehensif tentang kegiatan menghafal Alquran mulai dari bekal yang harus dipersiapkan hingga hal-hal yang perlu terus dilakukan setelah berhasil menghafal. Selain itu, tentu buku ini terasa semakin istimewa karena ditulis berdasarkan pengalaman penulisnya sendiri dalam menghafal Alquran.

Adalah penting bagi siapa saja untuk membaca buku ini, terlebih bagi orang yang hendak menghafal Alquran. Dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami, buku ini dapat menjadi panduan penting bagi orang yang ingin menghafal Alquran dan dapat menjadi pemantik bagi semua orang untuk bisa menjadi penghafal Alquran. Wallahu a’lam.

Peresensi :  Paisun (Pegiat literasi di Madura)

Editor : Nur Afilin

Leave a Reply

Scroll To Top