Monday , 25 June 2018
update
Menghidupkan Bid’ah

Menghidupkan Bid’ah

Sebut saja Kiai Shabur. Selain bersahaja, kiai satu ini memang kerap memiliki cara-cara unik dalam berdakwah. Sudah lama Kiai Shabur ingin membangun masjid. Kini, rumah ibadah cukup megah itu sudah berdiri kokoh di samping kiri rumah beliau. Kendati demikian, persoalan tidak serta merta tuntas dengan berdirinya masjid. Kiai Shabur masih harus berpayah-payah untuk “melobi” warga setempat agar mau diajak shalat. Cara yang ditempuh oleh Kiai Shabur adalah dengan mendatangi rumah-rumah warga, door to door.

“Wah kami belum biasa shalat, Kiai, apalagi di masjid,” kata salah seorang warga ketika Kiai Shabur sowan ke rumahnya. “Ya nantilah kalau kami sempat, akan jamaah ke sana,” lanjutnya.

Beberapa kali Kiai Shabur bertandang ke rumah warga, jawaban yang diterima hampir sama. Memang, warga kampung tempat Kiai Shabur tinggal bukanlah warga yang religius. Warga di situ secara umum boleh dibilang abangan. Selain bekerja sebagaimana biasa, kebanyakan mereka belum beragama secara baik. Jangankan shalat jamaah di masjid, bahkan tradisi buruk seperti meminum minuman keras dan bermain wanita masih akrab dengan kehidupan mereka.

Itulah yang menjadikan keinginan Kiai Shabur untuk mendakwahkan shalat tampak sulit. Namun, bukan Kiai Shabur jika kehabisan akal. Beliau kemudian mengubah topik obrolan menjadi seputar kuburan. Katanya, “Sekarang ini warga kampung kok sudah mulai meninggalkan tradisi ya. Kalau dulu warga kan biasa berziarah ke kuburan orang-orang tua, tetapi kini tidak lagi. Padahal ziarah kubur itu adalah tradisi yang baik dan seharusnya dilestarikan.”

Mendengar kalimat ziarah kubur, tentu warga yang notabene beraliran Islam tradisional itu merasa tergugah. Obrolan kini bersambut. Bukan lagi soal shalat atau menghidupkan jamaah di masjid, melainkan soal pentingnya tradisi ziarah kubur. Melihat sambutan lawan bicara, Kiai Shabur tidak mau kehilangan momen. Beliau terus menggiring pembicaraan dengan cara menawarkan kepada warga kampung agar melakukan ziarah ke makam Wali Songo.

Warga kampung semakin antusias. Apalagi, bagi sebagian besar mereka, kesempatan berziarah ke makam Wali Songo itu dirasakan seperti umrah. Kiai Shabur sendiri tidak mendebat anggapan-anggapan semacam itu. Yang terpenting adalah beliau berhasil mengajak warga kampung untuk berislam secara benar, yang di antaranya dibuktikan dengan mau menjalankan shalat secara rutin.

Kemudian hari, Kiai Shabur menunjuk salah seorang tetua kampung untuk mendata siapa saja yang mau ikut ziarah ke makam Wali Songo. Soal biaya, tidak usah dipikirkan. Semuanya akan ditanggung Kiai Shabur. Siapa mau ikut, cukup menyiapkan bekal secukupnya selama dalam perjalanan. Mendengar kabar gembiran itu, tentu pendaftar rombongan ziarah membeludak. Untuk itu, Kiai Shabur bahkan menyediakan tiga bus.

Hari yang ditunggu telah tiba. Seluruh peserta rombongan ziarah sudah berkumpul di masjid Kiai Shabur. Mereka rata-rata mendaftar bersama pasangan. Ada juga yang membawa anak. Sebelum berangkat, Kiai Shabur berceramah singkat. Di antara pesan beliau bahwa tujuan ziarah itu untuk mengambil pelajaran tentang kematian dan mendoakan penghuni kuburan. Ziarah bukan untuk mengultuskan kuburan orang-orang suci, apalagi sampai meminta-minta sesuatu kepada mereka. Peserta rombongan ziarah lalu diajak menunaikan shalat sunah safar bersama.

“Saudara sekalian! Yang belum bisa berwudu, silakan melihat temannya,” terang Kiai Shabur di depan peserta rombongan. “Bagi yang sudah baik shalatnya, supaya di shaf depan. Yang belum, silakan mencontoh dari belakang.”

Tiba-tiba salah seorang peserta rombongan menyeletuk, “Doanya baca apa, Kiai?”

Kiai Shabur tersenyum, lantas menjawab, “Silakan baca Al-Fatihah. Kalau belum bisa, ya Bismillah. Kalau masih susah, ya semilah semilah saja.”

Gerr! Tawa hadirin menggema.

Bus mulai berangkat. Meskipun memakan waktu beberapa hari, namun perjalanan itu disetting tidak sebagaimana biasa. Sepanjang perjalanan, Kiai Shabur tidak pernah mengajak peserta rombongan untuk menjamak shalat. Semua peserta rombongan justru diajak turun dan shalat jamaah di masjid setiap tiba waktu shalat.

Kesempatan setiap menjelang pelaksanaan shalat jamaah itu dimanfaatkan Kiai Shabur untuk berceramah singkat. Isinya seputar penanaman nilai-nilai keislaman, terutama shalat. Ketika tiba di setiap makam wali, peserta rombongan juga diperkenalkan sejarah perjuangan dan ajaran-ajaran wali bersangkutan. Demikian seterusnya hingga rombongan ziarah kembali ke kampung.

Pemandangan yang tidak umum terjadi di kampung itu. Tradisi yang kerap kontroversial itu tenyata menghasilkan “sesuatu”. Warga kampung tampaknya tidak hanya menikmati rekreasi spiritual itu, tapi juga merasa mendapat pengalaman berharga. Sepulang ziarah, warga kampung yang semula kurang akrab dengan agama, kini mulai mau datang ke masjid Kiai Shabur.

Perubahan semakin terasa seiring waktu berjalan. Yang datang ke masjid bertambah banyak. Sekarang, masjid yang didirikan Kiai Shabur benar-benar hidup. Kiai Shabur sendiri selalu mengimami jamaah di masjidnya, selama tidak ada keperluan sangat penting di luar rumah.

“Saya benar-benar heran sama Panjenengan,” tutur seorang kiai suatu ketika.

“Memangnya kenapa, Kiai?” tanya Kiai Shabur.

“Lha bagaimana tidak, wong saya ini puluhan tahun tinggal di sini, sekadar mengajak warga untuk shalat saja nggak bisa, tiba-tiba Panjenengan kok malah bisa mengajak mereka semua jamaah di masjid. Ini kan luar biasa.”

Sambil tersenyum, Kiai Shabur berkata, “Oh itu, mudah kok, Kiai! Karena saya menghidupkan bid’ah.”

M. Husnaini (Penulis buku Menemukan Bahagia)

Leave a Reply

Scroll To Top