Wednesday , 21 November 2018
update
Menimbang Industri Pakan Ternak Nasional

Menimbang Industri Pakan Ternak Nasional

Peningkatan produksi perikanan budidaya secara global rata-rata mecapai 8,9% per tahun sejak tahun 1970. Angka ini merupakan yang paling tinggi bila dibandingkan dengan sektor perikanan tangkap dan peternakan dalam kurun waktu yang sama masing-masing hanya mencapai 1,2 dan 2,8 % per tahun (Nur, 2011).

Pada usaha budidaya perikanan, kebutuhan pakan merupakan sektor vital karena dapat mencapai 60-70% dari biaya produksi (Anggraeni dkk., 2010). Sehingga industri pakan ternak adalah sebuah industri yang harus diperhatikan guna mendukung industri peternakan dan perikanan.

Industri pakan ternak nasional adalah industry futuristic yang memiliki masa depan yang cerah. Dilihat dari tingkat produksi, industri pakan ternak mengalami pertumbuhan rata-rata 8,4% dalam periode lima tahun terakhir. Menurut Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) industri pakan ternak nasional rata-rata mampu menyuplai 5 juta ton pakan ternak per tahun dari kebutuhan sekitar 7 juta ton per tahun.

Sayangnya, hingga kini industri pakan ternak nasional masih didominasi pemain asing termasuk Charoen Pokphand, Japfa Comfeed, Sierad Produce, CJ Feed, Gold Coin, dan Sentra Profeed. Sehingga boleh dibilang 60-70% biaya produksi Industri budidaya perikanan maupun peternakan nasional menguap ke luar negeri.

Hagemoni Pemain Utama
Untuk menancapkan kuku-kukunya di Indonesia, perusahaan pakan asing yang merupakan pemain utama dalam industri pakan ternak di Indonesia melakukan beberapa langkah strategis. Yang pertama adalah menyinergikan bisnisnya dengan mengintegrasikan dari hulu ke hilir mulai dari industri pakan industri peternakan, pemotongan hewan pengolahan hasil ternak hingga industri obat-obatan dan vitamin ternak, peralatan peternakan dan sebagainya. Langkah ini tentunya membuat para pemain utama bisa leluasa memainkan harga pada seluruh industri peternakan dari hulu sampai hilir.

Yang kedua sistem Kerjasama Operasional (KSO) yang sukses dibangun pera pemain utama dengan peternak dan pembudidaya sekala kecil menengah membuat mau tidak mau membuat produk mereka dari hulu ke hilir laris manis. Iming-iming jaminan keberhasilan panen serta pendampingan dari Insinyur kelas wahid sangat menjanjikan untuk peternak dan pembudidaya kecil menengah.

Yang ketiga hagemoni intelektual membuat para Sarjana terbaik negeri ini berlomba-lomba untuk bisa bekerja di perusahaan pakan asing. Gaji tinggi dan kebanggan yang ditawarkan membuat bekerja di perusahaan pakan asing sangat menarik. Hal ini membuat perusahaan pakan bikinan pemerintah semakin lesu.

Upaya Pemerintah Setengah Hati
Untuk menghidupkan industri pakan ternak Nasional, tahun 2007 lalu pemerintah telah mengembangkan pabrik pakan ternak skala kecil di 14 lokasi yaitu di Ciamis, Cirebon, Sukabumi, Subang, dan Bekasi (Jawa Barat), Magelang, dan Banjarnegara (Jawa Tengah), serta Blitar (Jawa Timur). Untuk luar pulau Jawa antara lain di Bangli dan Tabanan (Bali), Sawah Lunto (Sumatera Barat), Bengkulu Utara, Kapuas, dan Hulu Sungai Utara. Kemudian pada tahun 2008 pemerintah kembali akan mengembangkan pabrik pakan ternak skala kecil (mini feedmill) yang tersebar di 38 lokasi. Pabrik pakan mini tersebut memiliki kapasitas produksi sekitar 3-5 ton per hari, serta investasi sebesar Rp250 juta per unit. Keberadaannya cukup mendukung kecukupan pakan unggas lokal. Pengolahan pakan ternak ini nantinya akan dikelola oleh gabungan kelompok tani (Gapoktan).

Mini feedmill milik Nasional ini dalam perjalanannya tentunya akan tenggelam dalam persaingan melawan hegemony “pemain-pemain asing” yang dikelola secara professional oleh sarjana-sarjana terbaik Negeri ini. Perbedaan tingkat hasil produksi yang sangat jauh dengan “pemain-pemain asing” juga menjadi faktor penguat tiarapnya industri pakan ternak dalam negeri. Bandingkan saja Charoen Popkhand Indonesia Tbk (CPI) yang memiliki kapasitas produksi sebesar 2,6 juta ton per tahun, atau Japfa Comfeed (JC) dengan total kapasitas produksi 1,73 juta ton per tahun, dan CJ Feed Indonesia yang merupakan anak perusahaan Cheil Jedang dari Korea Selatan dengan total kapasitas produksi 750.000 ton per tahun. Usaha pemerintah memunculkan Mini feedmill rasanya hanya akan menjadi usaha setengah hati yang dengan mudah akan dibabat para pemain utama.

Membangunkan Raksasa Indonesia
Sudah saatnya Indonesia membangunkan raksasa di sektor industri pakan. Dari segi sumber daya alam (SDA) maupun sumber daya manusia (SDM) sebenarnya Indonesia memiliki kualifikasi untuk membangun perusahaan pakan Nasional yang mampu memback up kebutuhan pakan ternak Nasional bahkan Internasional.

Sudah waktunya Bapak Presiden memperhatikan sector strategis ini dan segera mengkoordinasikan Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan serta Kementerian Perindustriaan untuk membahas proyek pembangunan Industri Pakan Ternak Nasional untuk menghambat menguapnya 60-70% biaya produksi budidaya ke luar negeri. Sudah waktunya para pemuda dan mahasiswa untuk menata visi masa depan untuk turun berpartisipasi dalam usaha pembangunan sector strategis industri pakan ternak nasional.

Penulis : Arif Syaifurrisal, Mahasiswa Fakultas Perikanan dan Kelautan Unair
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top