Thursday , 24 August 2017
update
Menjadi Muslim Minoritas, Sharing bersama Hijjri

Menjadi Muslim Minoritas, Sharing bersama Hijjri

Adalah Hijjri Ala Uddin, mahasiswa Sampoerna University Jakarta yang berkesempatan Redaksi Eramadina wawancarai dalam kesempatan ini. Hijjri baru saja mengikuti acara ASEAN Youth Leader Camp yang dilaksanakan pada 20-31 Agustus 2014 di Thailand. Yuk ikuti sharing Hijjri seputar acara dan bagaimana Muslim berjuang di bumi Allah yang mana Islam masih minoritas.

Sebelumnya, mari berkenalan dengan Hijjri. Hijjri merupakan putra daerah asal Mojokerto. Hijjri lahir pada 13 Juli 1993. Sekarang dia tengah menempuh kuliah di Sampoerna University pendidikan Mathematika angkatan 2012.

Semua berawal dari mimpi.

Begitu ungkapan Hijjri saat Redaksi Eramadina mewawancarai bagaimana asal mula keikutsertaannya dalam acara. Alkisah HIjjri pada akhir 2013 menulis resolusi mimpi untuk tahun 2014nya. Hal ini (menulis mimpi-red) merupakan hal yang amat jarang ia lakukan sebelumnya.

“Alhamdulillah, mimpi poin keempat saya untuk ke luar negeri, ke negara ASEAN bisa terwujud,” ungkap lelaki berusia 21 tahun ini mantap.

Nah, masya Allah kan??

Hijjri menceritakan kisah suka dukanya sebagai muslim ikut di ajang regional ini. Ia bersama rekannya, Athifah Utami, memiliki pengalaman unik. Hjijri dan Athifah tidak sendiri dari Indonesia. Ada peserta lain dari kampus di Indonesia yang mengikuti program pemuda sebagai bentuk penyiapan soal ASEAN Community 2015 ini.

Keragaman kebudayaan yang ada antarpeserta membuatnya belajar dan bersyukur bahwa ia lahir di negara yang mayoritasnya Muslim.

Hijjri menuturkan bahwa ia agak kesulitan dalam menjalankan aktivitas ibadah utama seorang muslim yakni sholat. Panitia acara hanya memberikan waktu sesuai dengan waktu lunch/break time. Kesempatan itu ia dan rekannya gunakan untuk sholat dan pun harus dibagi dengan waktu makan. Di samping itu, ia bahkan dalam masa di Thailand tidak sholat Jumat dua kali dikarenakan tidak adanya masjid yang menggelar sholat Jumat. Yang lebih parahnya, Hijjri dan Athifah sempat menelan (memakan-red) daging babi. Itu dikarenakan ketidaktahuan mereka tentu saja.

“Menemukan makanan halal cukup sulit. Terlebih jika panitia tak selalu menyediakan makanan halal dalam setiap sesi acara,” terang Hijjri.

Hal yang juga membuatnya miris adalah soal pergaulan beberapa peserta yang malah justru notabenenya pelajar Indonesia yang mengajak untuk ke pub atau diskotek.

“Apalagi kalau tidak mengajak minum (minuman keras),” kata Hijjri miris.

Tentu saja ia dan rekan-rekannya lain tidak mengiyakan tawaran untuk ke tempat minum tersebut.

“Saya ingin menyampaikan dengan baik pada mereka bahwa inilah Islam. Kami tidak minum, tidak makan babi, dan itu semua ada dalam ajaran kami. Saya ingin mengembalikan landasan gerak saya pada Al Quran dan menjelaskan dengan baik pada mereka,” jelas Hijjri.

Ia juga menceritakan bahwa banyak orang di luar negeri sana yang menanyakan hal yang nampak sederhana bagi kita. Pertanyaan itu seperti, ‘Kenapa wanita muslim berjilbab?’, ‘Kenapa mesti sholat?’, ‘Apa itu Al Quran?’, dll.

“Saya bahkan punya teman nonMuslim yang saat tengah malam ia bangun dari tidurnya dan bersegera membuka Al Quran. Ia begitu ingin mengetahui makna di dalam kitab suci tersebut,” ulas Hijjri.

Demikian sedikit hikmah dan inspirasi yang Redaksi Eramadina ambil dari kisah perjalanan Hijjri dan Athifah ke Thailand. Hijjri bahkan berpesan bahwa pemuda muslim mesti memiliki visi dakwah internasional karena masih banyak manusia di luar sana belum tahu dan ingin belajar soal Islam.

Wallahu a’lam biss showab.

 

Editor : SCE

 

IMG-20140904-00725

 Wawancara bersama Hijjri

 quran hijri

Gambar di Instagram tentang teman nonMuslim Hijjri yang tengah malam berjuang membuka dan ingin memahami Quran

Leave a Reply

Scroll To Top