Sunday , 25 February 2018
update
Menjadi Pemimpin Level 5

Menjadi Pemimpin Level 5

Pada dasarnya jiwa kepemimpinan dimiliki oleh setiap manusia (self leadership), setidak-tidaknya dirasakan manakala seseorang melewati suatu proses merencanakan dan menetapkan suatu keputusan. Manusia pada hakikatnya adalah pemimpin, entah pemimpin bagi dirinya sendiri, pemimpin bagi keluarganya, pemimpin bagi komunitasnya, atau bahkah pemimpin bagi masyarakat yang lebih luas.

Kepemimpinan adalah proses memengaruhi atau memberi contoh dari pemimpin kepada pengikutnya dalam upaya mencapai tujuan organisasi. Cara alamiah mempelajari kepemimpinan adalah “melakukanya dalam kerja” dengan praktik. Anis Matta mengatakan kepahlawanan itu adalah piala yang direbut, bukan kado yang dihadiahkan.

Dalam teori kepemimpinannya, J. Collins membagi level kepemimpinan menjadi 5 level kepemimpinan berdasarkan tingkat kematangan serta kemampuan memengaruhi dari seorang pemimpin.

Pemimpin Level 1

Menurut J. Collins, pemimpin level 1 adalah pemimpin yang diikuti karena posisinya, karena kekuasaanya. Pemimpin level 1 ini akan ditinggalkan oleh pengikutnya manakala dia sudah kehilangan posisi dan kekuasaan.

Kita bisa melihat pada politisi-politisi kita hari ini yang sangat dielu-elukan ketika menjabat. Dikelilingi banyak penjilat. Namun, mereka ditinggalkan begitu saja atau bahkan akan dikecam oleh eks pengikutnya ketika sudah lengser dari jabatannya. Misalnya sosok Kolonel Moamar Khadafi yang begitu di elu-elukan sebagai pemimpin bangsa Libia malah mengalami nasib yang sangat mengenaskan ketika jatuh dalam sebuah kudeta berdarah. Kepemimpinan level 1 tidak menjanjikan pengikut yang loyal.

Pemimpin Level 2

Pemimpin level 2 adalah pemimpin-pemimpin yang diikuti karena kebijakan-kebijakannya yang populis, diikuti karena kepemimpinanya yang permisif alias serba boleh. Pemimpin level 2 ini, kata Collins, adalah pemimpin yang akan ditinggalkan oleh pengikutnya manakala mengambil kebijakan yang tidak popular. Padahal, berani berkata tidak adalah salah satu kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Tidak semua yang diinginkan oleh masyarakat adalah sesuatu yang baik untuk mereka. Seorang pemimpin harus memahami baik-buruknya hal-hal yang diinginkan oleh rakyatnya, kemudian membimbing mereka kepada jalan kebaikan.

Seorang kepala daerah yang memiliki kawasan lokalisasi prostitusi terbesar se Asia Tenggara, seperti di Surabaya, jika dia adalah pemimpin dengan kualitas level 2 akan cenderung permisif atau memberikan izin pada lokalisasi prostitusi guna menjaga kepemimpinannya agar tetap kuat.

Pemimpin Level 3

Pemimpin level 3 adalah pemimpin yang diikuti karena kualitasnya, karena track record prestasi yang mereka miliki. Pemimpin level 3 akan kehilangan pengikutnya jika ada pemimpin lain yang hadir di tengah-tengah masyarakatnya dengan kualitas yang lebih gemilang. Sehingga, untuk menjaga kekuasaanya, pemimpin level 3 akan menjalankan falsafah “rumput  tidak boleh lebih tinggi dari pohon”. Akibatnya, pemimpin-pemimpin muda di sekitarnya akan selalu “dibonsai” agar tidak tumbuh lebih tinggi dari pohon utama.

Di Uni Soviet dulu, Stalin menerapkan kebijakan pembersihan dengan berbagi alasan kepada perwira-perwiranya yang dianggap terlalu kritis dan memiliki potensi mengancam kepemimpinannya. Inilah salah satu faktor runtuhnya Soviet di kemudian hari. Di China, kalahnya Perdana Menteri Chou-Chou pada Perang Tebing Merah yang sangat masyhur itu juga dikarenakan hal yang sama. Chou-Chou dengan kekhawatiran yang berlebihan membersihkan perwira-perwira angkatan lautnya yang dianggap memiliki potensi untuk memberontak.

Pemimpin Level 4          

Mereka yang berada di Kota Bandung saat diselenggarakanya pemilihan ketua umum Partai Demokrat tentu akan memprediksikan bahwa Andi Malarangeng lah yang akan menjadi ketua umum. Bukan hanya karena foto dan balihonya yang memenuhi kota Bandung, tapi juga karena beliau lebih tercitrakan melaui media cetak dan elektronik.

Tetapi, ternyata publik Indonesia tidak terkecuali Presiden Yudhoyono dibuat terhenyak dengan menangnya Anas Urbaningrum sebagai ketua umum Partai Demokrat. Rupanya Anas yang tak banyak tercitrakan di publik lebih memiliki loyalis yang lebih mengakar sampai ke tingkat DPD.

Cerita punya cerita, mengakarnya para loyalis Anas yang siap memenangkanya di pemilihan ketua umum Partai Demokrat dikarenakan sosok anas yang memang memiliki kepemimpinan yang mengakar. Saat menjadi ketua umum PB HMI, Anas selalu memberikan kesempatan kepada para fungsionarisnya untuk melanjutkan studi melalui beasiswa-beasiswa yang ditawarkan para stakeholder kepadanya. Pemimpin level 4 adalah pemimpin yang memiliki kemampuan people development. Dia harus sudah selesai terlebih dahulu dengan dirinya sendiri.

Pemimpin Level 5

Pemimpin level ke 5 adalah pemimpin yang paripurna. Pemimpin yang setiap perkataan, gerak, dan langkahnya dapat dijadikan sebagai tuntunan bagi para pengikutnya, dapat menjadi contoh bagi masyarakatnya.

Dalam proses perjalanan kepemimpinanya, seorang pemimpin harus terus menerus blajar dan berproses menuju level 5. Seorang pemimpin tidak boleh cepat puas. Seorang pemimpin harus dapat membaca dan mengetahui sampai dimana level kepemimpinannya. Oleh karena itu, mari bersama terus berproses menjadi pemimpin level 5.

Arif Syaifurrisal (Pegiat PD KAMMI Surabaya)

Editor : Nur Afilin

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Scroll To Top