Wednesday , 21 November 2018
update
Menyikapi Silang Pendapat

Menyikapi Silang Pendapat

Berkumpul dan bekerja sama dengan orang banyak dalam suatu acara memang tidak selalu mudah. Ada saja persoalan yang mungkin dapat memicu ketegangan. Sebabnya jelas perbedaan pandangan ketika hendak menuntaskan sebuah tugas. Kalau tidak mampu mengalah dan mengedepankan sikap saling menghargai, tentu yang muncul adalah konflik yang sebenarnya tidak perlu.

Namanya manusia, mustahil akan memiliki pendapat yang seragam. Lain lubuk, lain ikannya. Lain orang, lain hatinya. Tetapi, di situlah justru uniknya makhluk kreasi Tuhan bernama manusia. Sebab itu, ketegangan akibat silang pendapat tidak harus lahir dari kalangan awam. Mereka yang masuk kategori pakar dan ilmuwan juga sangat mungkin terjebak dalam kerumitan serupa. Ketika tidak mampu mengatasi secara bijak, dampak yang muncul boleh jadi lebih ganas ketimbang ketegangan orang rendahan.

Kalau orang awam bersitegang, dampaknya hanya beradu mulut. Paling banter, beradu otot. Tetapi bagaimana jika yang bersitegang itu adalah orang pintar? Kita tentu sering melihat betapa dampak yang ditimbulkan luar biasa dahsyat. Muncullah perang opini yang saling menjatuhkan di berbagai media massa. Terbit pula karya buku yang saling menghujat dan kerap menjurus pada fitnah. Tidak selesai di situ, ditambah lagi dengan adu pengaruh dan wibawa.

Pastilah kita dibuat miris oleh suasana semacam itu. Konflik orang berilmu itu tidak mudah diatasi. Sekadar contoh, perhatikan saja perbantahan kalangan elite dalam beberapa acara debat di televisi. Masing-masing pihak mengantongi argumen-argumen mematikan. Kalangan awam sukar mencerna materi yang diperselisihkan. Apalagi kalau ungkapan yang diutarakan bertaburan teori-teori ilmiah berbahasa asing. Tiada lain bagi pemirsa awam, selain cuma mengerutkan dahi tanpa benar-benar memahami mana pendapat salah dan mana pendapat benar.

Mencari pihak penengah juga sangat susah. Lihat, umpamanya, ketika dua tokoh masyarakat sedang bersilang pendapat. Kedua belah pihak memiliki alasan beramunisi dalil-dalil nas yang sama-sama kuat. Siapa merasa nyaman menjadi penengah di antara kedua tokoh alim itu, mengingat kedalaman ilmu dan senioritas usia mereka. Sering terjadi, konflik justru berlarut-larut tanpa diketahui ujung dan pangkalnya. Bahkan, ketika masing-masing tokoh telah meninggal dunia, konflik belum juga menemui titik terang.

Sepatutnya kita selalu berusaha untuk mengutamakan kebersamaan. Ketika terjadi perbedaan dalam memandang suatu persoalan, cobalah dicari jalan tengah. Jangan cepat mengambil keputusan yang dirasa merugikan salah satu pihak. Mengalah demi sebuah kemaslahatan dan ketenteraman bersama sungguh sebuah sikap mulia. Kalau setiap pihak mengedepankan ego masing-masing, yang muncul justru sikap saling menyalahkan. Padahal, semua tahu, tidak ada orang yang suka disalahkan. Setiap orang pasti ingin diorangkan.

Tidak mudah, memang, menghadapi sesama. Itulah kenapa yang sukar dalam hidup ini bukanlah menggiatkan ibadah demi mencari ridha Tuhan. Lebih sukar dan berat dari itu ialah tampil menjadi pribadi yang menyenangkan di mata setiap orang. Betapa mudahnya berurusan dengan Tuhan itu, tercermin, misalnya, ketika kita berbuat salah. Tuhan membuka pintu ampunan seluas langit dan bumi asal kita mau bertobat dengan meninggalkan, menyesali, dan serius memohon ampunan atas kesalahan itu. Berbeda jika kesalahan terkait sesama manusia, maka syaratnya ditambah satu lagi, ialah meminta perkenan atas kesalahan kita itu kepada orang bersangkutan.

Repotnya, meminta perkenan atas kesalahan kepada sesama itu tidak semudah memohon ampunan kepada Tuhan. Manusia memiliki sikap tinggi hati dan tidak mudah melupakan kesalahan. Kala hati tersakiti, kata maaf itu pasti berat diberikan. Kerapkali mulut mengucap maaf sembari tangan saling berjabat, namun hati masih menyimpan bara dendam. Wajah mengumbar tawa riang, tetapi kepalan tangan menguat di balik dada. Semoga semua itu tidak terjadi saat muncul silang pendapat.

M. Husnaini (Penulis buku Menemukan Bahagia)

 

Leave a Reply

Scroll To Top