Saturday , 18 November 2017
update
Muhammad Al-Ghazali

Muhammad Al-Ghazali

(450-505 H/ 1058-1111 M)

Al-Ghazali ialah ulama ahli kalam terbesar dari mazhab Syafi’i pada zamannya. Ia lahir di Thus, Khurasan, Iran pada tahun 450 H (1058 M).

Setelah mempelajari beragam ilmu di negerinya, mulailah Al-Ghazali merantau ke kota Nisapur, kota kecil di Khurasan. Di sana, mulai terlihat tanda-tanda ketajaman otaknya yang luar biasa. Karena kepakarannya dalam falsafah dan ilmu-ilmu kalam, ia lalu diangkat menjadi guru di perguruan Nizhamiyah di Baghdad, Irak.

Nama Al-Ghazali telah kesohor ketika usianya memasuki 33 tahun. Tahun 484 H, ia pergi haji ke Mekah. Usai naik haji, ia melanjutkan petualangan intelektualnya ke Damaskus, Baitul Maqdis, dan Aleksandria. Ia mengajar di beberapa universitas di kota-kota tersebut. Ketika Al-Ghazali kembali ke Thus ia mulai menghabiskan usianya untuk berfikir dan menulis bermacam-macam kitab. Ia menerangkan bagaimana perbedaan dan kelebihan agama Islam dari macam-macam agama dan falsafah lain. Itulah kenapa ia digelari “Hujjatul Islam” (pembela Islam) atau “Zainud-din” (Hiasan Agama).

Pusaka Al-Ghazali

Siapa tak kenal kitab Ihya’ Ulumuddin yang terdiri dari empat jilid besar, Mau’izhatul Mu’minin, atau buah tangan Al-Ghazali lain?

Hingga kini, kitab Ihya’ menjadi salah satu kitab wajib terutama tentang akhlak. Ihya’ malah mendapat perhatian besar di Eropa dan telah diterjemahkan ke beberapa bahasa sedunia. Bagi kalangan pendidik Kristen, Al-Ghazali sering dipandang setara dengan Thomas a Kempis (1379-1471) yang memiliki karya fenomenal De Imitatione Christi.

Dua kitab karya Al-Ghazali lain yang kurang populer di Indonesia namun terkenal di Barat ialah Maqashidul Falasifah (Maksud Ahli Falsafah) dan Tahafutul Falasifah (Kesesatan Ahli Falsafah). Kitab Maqashid berisi ringkasan macam-macam ilmu falsafah (filsafat), mantik, metafisika, dan fisika. Dominicus Gundisalvus pernah menerjemahkan kitab ini ke dalam bahasa Latin akhir abad ke-12 M. Sementara kitab Tahafut berisi kritikan tajam atas system falsafah yang telah diterangkan satu persatu dalam kitab Maqashid. Kata Al-Ghazali dalam Tahafut, ia sengaja mengumpulkan dulu bahan falsafah untuk dibaca orang melalui Maqashid, kemudian ia kritik kesemuanya dalam Tahafut. Belakangan waktu kemudian Ibnu Rusyd membantah pendapat Ghazali tentang falsafah itu melalui kitab Tahafut Tahafutul Falasifah.

Al-Ghazali dan David Hume

Al-Ghazali adalah pengikut aliran falsafah mazhab hissiyat yang kira-kira sama artinya dengan “mazhab perasaan”. Filosof Inggris David Hume (1711-1776 M) pernah menyatakan bahwa perasaan adalah alat terpenting dalam falsafah. Saat itu, ia memang menentang aliran rasionalisme yang muncul pada abad ke-18.

Kata David Hume, “Kesudahannya semua keyakinan kita kembali kepada rasa. Akal semata-mata tidak memberi keyakinan yang sebenarnya, walaupun di mana.”

Dan ternyata, Imam Ghazali telah 700 tahun lebih dulu mengemukakan hal tersebut. Menurut Ghazali, perasaan (hissiyat) bisa keliru, akan tetapi akal juga tidak terpelihara dari kesesatan dan tidak akan mencapai kebenaran sempurna dengan sendirinya, serta tidak mungkin dapat dibiarkan bergerak semaunya. Akhirnya, Al-Ghazali sampai kepada apa yang ia sebut dharuriyat atau aksioma sebagai hakim dari akal dan perasaan kepada hidayah yang datang dari Allah ‘Azza Wajalla.

Namun demikian, bukan berarti Al-Gazali bukan termasuk filosof ‘aqli sebagaimana banyak filosof lain. Bahkan ia mengupas falsafah Socrates dan Aristoteles dengan halus dan tajam. Ilmu mantik pun dijabarkannya dan terbukti tahan uji dibandingkan mantik karya filosof lain. Itu menunjukkan ketajaman akal Al-Ghazali pemberian Allah SWT. Hanya saja, Al-Ghazali tidak lupa bahwa akal hanya dapat bekerja sampai batas tertentu.  Kalau filosof sekular selalu mendewakan akal hingga sampai ranah yang sejatinya bukan lagi medan akal, maka Al-Ghazali hendak berkata, “Wallahu a’lam” (Allah yang lebih mengetahui) seraya kembali kepada prinsip “Kitab (Alquran), yang tidak ada lagi keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang bertakwa” (QS Al-Baqarah: 2)

Causaliteitsleer

Causaliteitsleer ialah kaidah hubungan sebab dengan musabbab (sebab-akibat). Kaidah ini merupakan jawaban atas pertanyaan: Bilamana ada dua hal, apakah syaratnya untuk bisa dikatakan bahwa yang satu menjadi sebab bagi yang lain?

Umumnya, pemikir Barat berpendapat bahwa David Hume adalah yang pertama mengupas hal itu. Bermula dari menolak bahwa bila ada dua hal, A dan B, maka tidak boleh dikatakan begitu saja bahwa A menjadi sebab dari B. Selanjutnya, ia mengemukakan tentang conjunction, priority, dan frequency.

Namun demikian, tanpa bermaksud mengurangi jasa Hume sebagai “ontdekker” causaliteitsleer, perlu diingat bahwa 700 tahun sebelum David Hume, Al-Ghazali telah mengupas hal tersebut dalam Tahafutul Falasifah. Artinya, Al-Ghazali telah lebih dulu melangkah dalam pembahasan topik tersebut.  Berikut sedikit kesimpulan Hujjatul Islam tentang hal ini:

“Bahwasanya apabila dua perkara (hal) bersama-sama, maka belum ada dalam keadaan itu dalil yang tepat, bahwa yang pertama menjadi sebab bagi yang kedua…”

“Adapun yang dinamakan ahli falsafah dengan qanun tabiat (natuurwet) atau kaidah ‘illat (causaliteitsleer) ialah suatu perkara yang terikat kepada iradat Allah, dan yang kita terima sebagai urusan yang benar kejadian (positiviteit); karena Allah dalam ilmu-Nya mendahului segala perkara, mengetahui kejadian perkara-perkara, kemudian Dia ajarkan kepada kita. Maka harus diinsafi tidak ada tabiat yang mengikat iradat Allah yang Mahakuasa dan Mahatinggi itu”

Anehnya, jasa Al-Ghazali ini seakan hendak dilupakan orang banyak. Sampai-sampai seorang filosof Barat bernama Immanuel Kant membuat testimoni bahwa Hume yang telah membuka matanya tentang hal tersebut. Namun, fakta tetaplah fakta.

Tasauf dan Fiqh

Ghazali hidup di masa masih berkobarnya pertentangan antara ahli tasauf dan ahli fiqh. Maka, Imam Ghazali pun hendak merapatkan kedua belah pihak tersebut. Karena itu, ia mendapat teman yang sepaham dan juga lawan yang menentang pendiriannya. Dalam beberapa hal, tokoh-tokoh yang tidak sepaham dengannya ialah Ibnu Rusyd, Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qayyim, dan lain-lain.

Di Eropa Barat, Ghazali mendapat penghargaan umpamanya filosof Perancis Renan, para pujangga Cassanova, Carra de Vaux, dan lain-lain. Bahkan Dr. Zwemer, mustasyriq kenamaan Inggris, menempatkan Imam Ghazali sebagai salah satu dari empat orang pilihan karena keilmuannya dalam sejarah Islam mulai masa Rasulullah SAW sampai sekarang, dengan urutan sebagai berikut: Muhammad SAW; Al-Bukhari; Al-‘Asy’ari; dan Al-Ghazali.

Imam Ghazali tutup usia pada tahun 505 H dengan husnul khatimah, insya Allah. Pusaka karya peninggalannya tak dapat dilupakan kaum Muslimin hingga kini. Adapun perbedaan pendapat dengan sebagian ulama lain adalah hal wajar dalam khazanah keilmuan Islam.

Dari Pedoman Masyarakat (April 1937)

*Disadur dari buku “Kebudayaan Islam dalam Perspektif Sejarah” karya M. Natsir

Nur Afilin

 

 

 

Leave a Reply

Scroll To Top