Thursday , 24 August 2017
update
Musa bin Nushair, Penakluk Andalusia yang Pandai Menganalisis

Musa bin Nushair, Penakluk Andalusia yang Pandai Menganalisis

Berbicara mengenai kegemilangan dan kejayaan Andalusia, tidak lengkap rasanya jika tak mengenal sosok yang luar biasa ini. Menurut sebagian besar sejarah,  wilayah Andalusia meliputi Spanyol, Portugal dan juga beberapa daerah di Afrika. Salah satu tokoh yang memiliki peran begitu besar dalam penaklukkan Andalusia, khususnya di bagian Afrika adalah Musa bin Nushair. Musa bin Nushair adalah putra dari pasangan Nushair bin Abdurrahman bin Yazid. Ayahnya juga seorang panglima ulung di zaman kekhalifahan dinasti umayyah di bawah naungan Muawiyah bin Abu Sufyan yang sebelumnya menjabat sebagai gubernur di era kekhalifahan khalifah Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan. Ibunda Musa bin Nushair dikenal sebagai seorang wanita muslimah pemberani. Keberaniaannya terbukti dengan keikutsertaannya dalam perang Yarmuk bersama suami dan ayahnya. Alkisah, ibunda Musa melihat salah seorang muslim ditawan oleh musuh. Dengan sigap ia mengambil tiang tenda dan menikam musuh tersebut. Keberaniaan dari kedua orang tua inilah yang kemudian menghasilkan seorang anak yang tumbuh dengan jiwa pemberani, cerdas, berakhlak mulia, wara’, dan penuh ketaqwaan kepada Allah S.W.T.

“Ia adalah seorang yang cerdas, berakhlak mulia, pemberani, wara’, dan penuh ketaqwaan kepada Allah. Pasukannya tidak pernah terkalahkan sedikitpun.” (dikutip dari kitab Wafayat Al-A’yan karya Ibnu Khillikan dalam buku Andalusia)

Bukti ketaqwaannya kepada Allah S.W.T tertulis dalam dialog sederhana bersama sang khalifah Muawiyah bin Abu Sufyan ketika itu, sesaat sebelum keberangkatan menuju perang Shiffin. Muawiyah bertanya kepada Musa bin Nushair, “Apa yang menghalangimu untuk keluar bersamaku? Padahal aku mempunyai jasa kepadamu yang belum kamu balaskan padaku?”. Ia pun menjawab, “Aku tidak mungkin berterimakasih padamu dengan cara mengingkari siapa yang lebih layak untuk aku terimakasihi dibandingkan engkau?”. “Siapa dia?” tanya Muawiyah. “Allah” jawab Musa bin Nushair. Sang khalifah seketika terdiam dan berucap “Astaghfirullah”.

Ya, itu adalah sebagian besar yang bisa kita pelajari terkait ketaqwaannya kepada Allah azza wa jalla. Tak berhenti disitu, Musa juga membuktikan kepiawaiannya dalam memecahkan masalah terkait penaklukkan kembali kawasan Maghribi (sekarang Al-Jazair, Maroko dan sekitarnya). Penduduk di daerah ini sebelumnya pernah memeluk agama Islam, namun murtad lebih dari satu kali. Kawasan Maghribi sebelumnya ditaklukkan pertama kali oleh Uqbah bin Nafi’ dan kaum muslimin.  Dan, Musa bin Nushair terobsesi untuk kembali menaklukkan kawasan Maghribi dan memecahkan masalah sesungguhnya yang sedang terjadi ketika itu. Dalam pencariannya terhadap penyebab dari masalah penduduk setempat yang murtad berkali-kali itu, Musa bin Nushair menemukan terdapat dua kesalahan yang dilakukan oleh para pendahulunya.

[1] Uqbah bin Nafi’ dan kaum muslimin yang ikut bersamanya menaklukkan kawasan itu pertama kali secara cepat untuk segera masuk ke dalam wilayah tersebut tanpa memperhitungkan konsekuensinya dari sisi lain. Hal ini dilakukan tanpa mempertimbangkan untuk menyiapkan dan lebih menyempurnakan basis perlindungan terhadap kepentingan di wilayah-wilayah yang mereka taklukkan. Akibatnya, suku Barbar dengan cepat menyadari kelemahan strategi ini dan mengambil kesempatan ini dengan baik. Suku Barbar akhirnya berhasil menyerang balik dan membunuh sang pemimpin perang Uqbah bin Nafi’.

Belajar dari kesalahan pendahulunya Uqbah bin Nafi’, hal yang dilakukan Musa bin Nushair kemudian menganalisis kondisi terakhir kawasan Maghribi besera penduduknya. Ia mengedepankan sikap kewaspadaan, cermat dan wara’ dalam mempertimbangkan setiap keputusan yang mungkin akan diambilnya. Butuh waktu tujuh tahun seorang Musa bin Nushair dalam menaklukkan kembali kawasan Maghribi berbeda dengan Uqbah yang hanya butuh waktu dua bulan ketika itu.

[2] Alasan kenapa penduduk di kawasan tersebut melakukan pemurtadan lebih dari satu kali dikarenakan iman penduduk di kawasan tersebut masih begitu rapuh. Para penduduk tersebut belum mendapatkan kesempatan besar untuk lebih mempelajari islam. Mereka belum mengenal agama Islam dengan baik.

Musa bi Nushair kemudian mendatangkan para ulama tabi’in dari Syam dan Hijaz untuk mengajarkan dan memperkenalkan Islam kepada penduduk setempat. Mereka pun mulai menyambut dan mencintai Islam. Lambat laun, mereka menjadi prajurit yang turut membela kaum muslim saat perang.

Belajar dari Musa bin Nushair yang telah lebih dulu mengimplementasikan need analysis (analisis kebutuhan) yang tepat dalam memecahkan masalah. Ia menganalisis bertahun-tahun kekurangan, kebutuhan dan keinginan penduduk di kawasan Maghribi ketika itu. Istilah need analysis sebenarnya lebih populer dalam disiplin ilmu ESP (English Specific Purposes). Dalam memecahkan masalah umat islam saat ini, sudah sepatutnya kita menganalisis terlebih dahulu apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh bangsa ini dan bagaimana mengembalikan kejayaan Islam seperti dahulu kala. Hal itu semua dapat dilakukan dengan kembali mempelajari sejarah umat islam dan menarik benang merah untuk dikonteksualisasikan dengan kehidupan umat saat ini.

 

http://www.muslimunstore.com/upload/IMG_0014_NEW_20140107124556.jpg

http://www.muslimunstore.com/upload/IMG_0014_NEW_20140107124556.jpg

Penulis : Dina Fauziah, penikmat sejarah
Editor : SCE

 

Leave a Reply

Scroll To Top