Monday , 21 August 2017
update
Najmuddin (1)

Najmuddin (1)

Erma Rostiana D., Pemenang Kedua Lomba Menulis Cerpen Indigenus Univ. Jend. Soedirman

“Assalamu’alaikum,” ucap Muddin ketika langkahnya telah sampai di depan rumah. Muddin membuka sepatu lalu mencium tangan Abah yang saat itu tengah duduk di beranda sambil meminum kopi.

“Wa’alaikumsalam,” jawab Abah. “Kenapa baru pulang, Din?”

“Punten, Bah. Tadi Muddin dipanggil dulu sama Bu Afifah.”

“Dipanggil? Kamu berbuat onar di sekolah?” Abah menatap Muddin dengan tajam.

Muddin cepat-cepat menggeleng. “Tidak, Bah. Mana mungkin Muddin berani berbuat onar di sekolah.”

“Lalu kenapa Bu Afifah memanggilmu?” Abah menyelidik sambil mengerutkan kening.

“Muddin tadi dipanggil Bu Afifah karena mau diikutsertakan dalam perlombaan pengetahuan antariksa antarsekolah, Bah.” Bibir Muddin menyunggingkan senyum bahagia.

“Lain kali jangan pulang terlalu sore lagi. Bisa-bisa kamu ketinggalan belajar kitab di pondok,” ucap Abah datar sambil membetulkan sorbannya.

Senyum Muddin memudar. Lidahnya mendadak kelu untuk mengatakan bahwa selama sebulan ke depan, dirinya akan sering pulang terlambat karena harus mendapat pelajaran tambahan untuk persiapan lomba.

“Ya, sudah, sekarang lebih baik kamu mandi, makan, lalu ke mesjid. Kamu pasti ingat bahwa hari ini ada pengajian,” ucap Abah. “Abah pergi dulu, assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikumsalam,” jawab Muddin dengan suara pelan. Dia memandang punggung ayahnya sejenak lalu melangkah lesu ke dalam rumah.

***

Matahari mulai tenggelam meninggalkan langit pondok pesantren Miftahul Barakah, sebuah pesantren yang berada di pelosok Bandung. Mesjid As-Salaam semakin terlihat ramai. Tampak satu persatu santri mulai memasuki mesjid. Saat adzan berkumandang, santri-santri tersebut telah duduk rapi. Setelah adzan berhenti, mereka segera melaksanakan shalat sunat dan dilanjutkan dengan shalat magrib berjamaah yang diimami oleh Kiai Furqon, ayah Muddin.

Sementara itu, Muddin masih berada di kamar mandi ketika dia mendengar iqomah dari speaker mesjid. Dia mempercepat mandinya dan segera berwudhu. Setelah berganti pakaian dan memakai sarung, Muddin pun berlari menuju mesjid As-salaam dan ternyata dia telah ketinggalan satu raka’at.

Meskipun napasnya masih terengah-engah, Muddin mencoba untuk tetap khusyu. Beberapa menit kemudian, ketika imam dan semua santri menengok ke kanan untuk mengucapkan salam, Muddin harus berdiri untuk menyelesaikan raka’at ketiganya.

Kiai Furqon alias Abah baru saja memiringkan badan untuk memimpin doa dan dzikir. Biasanya beliau memimpin dzikir dengan suara yang cukup keras, namun kali ini tidak, sebab Abah mendapati salah seorang santrinya masih dalam keadaan shalat karena masbuk.

Setelah doa dan dzikir selesai, Abah berdehem lalu berkata, “untuk santri yang tadi masbuk, tolong berdiri.”

Muddin sudah memperkirakan bahwa ini akan terjadi, dia mulai berdiri sambil menahan napas. Muddin memang sudah tahu bahwa salah satu aturan di pondok pesantren yang dipimpin oleh ayahnya ini adalah tidak boleh tertinggal shalat berjamaah dan tidak boleh masbuk. Jika dilanggar, maka santri itu akan mendapat hukuman. Tapi Muddin tidak tahu apakah hukuman atas pelanggaran peraturan itu berlaku untuknya atau tidak, karena dia merasa bahwa tidak mungkin Abah akan tega menghukum putra tunggal yang dinanti kelahirannya selama dua puluh tahun itu.

Ketika Muddin berdiri sempurna di shaff paling belakang sambil menunduk, Abah terlihat terkejut. Beliau tidak menyangka bahwa ternyata santri yang masbuk itu adalah putranya. Mendadak wajah Abah memerah dan rahangnya mengeras.

Melihat raut wajah Abah yang seperti itu, Muddin tiba-tiba sadar bahwa Abah tidak akan membeda-bedakan santrinya, meskipun santri tersebut adalah putra tunggalnya sendiri.

***

Muddin menggerak-gerakkan tangannya sambil berjalan menuju rumah. Dia merasa sangat pegal karena menyelesaikan hukuman akibat masbuk tadi yaitu menulis surat Al-Baqarah dari ayat pertama sampai terakhir.

Ketika memasuki rumah, Muddin langsung mengucapkan salam dan melihat Ummi dan Abah sedang duduk di ruang tamu.

“Wa’alaikumsalam. Nah, Muddin sudah datang, Mi. Kita bicarakan masalahnya bersama,” kata Abah.

Masalah? Masalah apa? Apakah masalah masbuk tadi magrib? Kenapa harus dibicarakan lagi? Bukankah dirinya sudah menjalani hukuman? Benak Muddin dipenuhi pertanyaan, keningnya pun berkerut tanda tidak mengerti.

“Sini, duduk dulu, Din,” ucap Abah lagi. Wajahnya terlihat serius.

Muddin menurut dan duduk di samping Ummi. Muddin menatap Ummi, seolah meminta penjelasan, namun Ummi tidak berkata apa-apa

“Din, Abah ingin kamu berhenti sekolah,” ujar Abah tiba-tiba.

Muddin tersentak. “Berhenti sekolah? Tapi kan Muddin baru kelas VIII, Bah. Tinggal satu tahun lagi Muddin lulus. Kenapa harus berhenti sekarang?”

“Belakangan ini Abah perhatikan kamu semakin sibuk di sekolahmu sehingga kau melupakan kegiatan-kegiatan di pondok, bahkan shalat magrib berjamaah tadi pun kau ketinggalan. Apa kau lupa dengan janjimu saat Abah mengizinkan masuk Madrasah Tsanawiyah?”

Muddin terdiam. Tenggorokannya tercekat. Dia kembali mengingat kejadian dua tahun lalu saat dirinya merengek agar diizinkan melanjutkan sekolah ke MTs. Awalnya Abah memang tidak mengizinkan Muddin untuk melanjutkan sekolah karena beliau ingin putranya fokus mendalami ilmu agama di pesantern miliknya itu. Namun Muddin berjanji bahwa dirinya tidak akan mengabaikan kegiatan keagamaan yang dianjurkan Abah meskipun dia sibuk sekolah.

“Kamu sendiri yang mengatakan bahwa kamu akan berhenti sekolah jika kegiatan pondok yang harus kamu jalani sampai terganggu.” Abah melanjutkan perkataannya.

“Tapi, Bah… Muddin baru kali ini melanggar, sebelumnya dia memang mematuhi aturan yang Abah buat. Kenapa kita tidak memberi kesempatan pada

Muddin supaya dia merenungkan sikapnya ini?” Ummi mencoba membela Muddin.

“Janji adalah janji, Mi. Dia harus belajar menepati janjinya itu,” ucap Abah sebelum beranjak menuju kamarnya.

Muddin mematung beberapa saat lalu mendesah dan berkata, “Mi, Muddin tidur dulu, ya.”

Ummi mengangguk dan memandang putranya dengan perasaan sedih. Dia benar-benar tahu apa yang dirasakan Muddin atas keputusan ayahnya itu.

***

BERSAMBUNG

Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top