Tuesday , 16 October 2018
update
Najmuddin (2)

Najmuddin (2)

Muddin masih termangu memangku dagu di dekat jendela kamarnya sambil memandang langit yang dipenuhi oleh bintang. Sesekali dia mendesah lalu membetulkan posisi duduknya dan kembali mendongakkan kepala untuk mengagumi kerlip indah ciptaan Yang Maha Kuasa. Itulah yang bisa dia lakukan untuk mengobati hatinya yang sedang gelisah.

Pikiran Muddin memang melayang pada pembicaraan Abah dua jam lalu. Dia benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Di satu sisi, Muddin tahu bahwa jika dia tetap melanjutkan sekolah, maka niatnya beribadah untuk mencari ilmu akan sia-sia karena tidak mendapat ridho dari ayahnya. Muddin tahu benar kalau ridho Allah berada bersama ridho orangtuanya. Namun, Muddin juga tidak bisa melepas begitu saja sekolahnya. Dia tidak hanya ingin menguasai ilmu agama saja. Karena Muddin merasa bahwa di dunia ini terdapat banyak ilmu lain yang harus dikuasainya agar selaras dengan ilmu agama yang dia miliki.

“Ya, Allaaaah…” Muddin mengerang lalu beranjak menuju tumpukan buku sekolahnya. Dibukanya satu persatu buku itu. Kertas di dalamnya masih banyak yang kosong. Dia tidak tahu apakah lembar kosong itu akan sempat terisi oleh tulisannya atau tidak.

Beberapa saat kemudian, Muddin mendapati sebuah buku berjudul Kisah Nabi Ismail di antara tumpukkan buku tersebut. Muddin ingat bahwa itu adalah buku yang pernah dibelikan ibunya ketika dia masih kecil. Ummi memang sering menceritakan kisah nabi-nabi kepada Muddin.

Muddin sangat ingat dengan kisah dalam buku itu. Ia bahkan sangat terkesan dengan pengorbanan Ismail ketika nabi Ibrahim akan menyembelihnya

sesuai dengan perintah Allah SWT. Mengingat cerita itu, hati Muddin terhenyak. Betapa besar bakti yang dilakukan Ismail kepada ayahnya. Dia sampai rela mengorbankan nyawa demi melaksanakan perintah Allah yang ditujukan kepada Nabi Ibrahim. Sementara dirinya yang hanya disuruh berhenti sekolah saja merasa sangat berat untuk menjalankan perintah Abah itu. Muddin terpekur, merenungkan semua itu.

Tanpa dia sadari, Ummi sudah masuk ke kamar dan berdiri di ambang pintu. “Belum tidur, Din?”

Dengan sedikit terkejut, Muddin menjawab, “Eh, Ummi. Enggak, kok, Mi. Tadi Muddin udah tidur tapi gara-gara gerah jadi bangun lagi. Mungkin mau hujan, ya, Mi.”

Ummi tersenyum simpul melihat Muddin yang tengah mengipasi wajah dengan buku yang dipegangnya. Dia tahu betul putranya sedang berbohong.

“Kamu sedang memikirkan ucapan Abah tadi, Din?”

Gerakan mengipas Muddin terhenti sejenak, dia tidak menjawab pertanyaan Ummi.

“Maaf, Ummi tidak berhasil membujuk Abah agar memberimu kesempatan. Padahal Ummi sudah jelaskan bahwa niatmu sekolah benar-benar untuk menuntut ilmu. Ummi sedih karena gagal membuat anak Ummi bahagia,” lirih Ummi.

“Astagfirullah, tidak, Ummi. Ummi jangan berkata seperti itu. Ummi sudah sangat, sangat, sangat membahagiakan Muddin. Untuk masalah ini Muddin sudah mengambil keputusan akan menuruti anjuran Abah agar berhenti sekolah. Muddin ikhlas, Mi.”

Ummi menatap Muddin. “Kau sungguh-sungguh? Lalu bagaimana dengan cita-citamu? Sejak kecil kamu sudah sering bilang sama Ummi bahwa kamu ingin sekolah tinggi dan menjadi peneliti luar angkasa.”

“Untuk apa Muddin berusaha menggapai cita-cita itu jika Abah atau Ummi tidak ridho? Keridhoan Abah dan Ummi adalah hal utama bagi Muddin.”

Ummi tak bisa menahan genangan di matanya. Ummi pun langsung memeluk Muddin. Dia benar-benar bersyukur karena telah dikaruniai anak soleh.

***

Seminggu telah berlalu. Muddin tidak lagi berangkat ke sekolah. Abah merasa sangat senang karena kini putranya benar-benar fokus mengaji dan mendalami ilmu agama. Namun, ada hal yang mengganjal di hati Abah karena sering mendapati Muddin membuka-buka buku sekolahnya dengan wajah sedih. Hati Abah terasa sakit ketika melihat Muddin sedih seperti itu. Hatinya pun semakin pilu jika memperhatikan Muddin sedang berpura-pura ceria seperti biasanya padahal sorot matanya terlihat sendu.

Kadang terbesit di hati Abah bahwa dia telah bersikap egois dengan menyuruh Muddin berhenti sekolah. Tapi segera ditepisnya perasaan itu. Abah memantapkan hati bahwa itu adalah keputusan yang tepat. Jika Muddin tidak mendalami ilmu agama dengan baik, siapa lagi yang akan mengurus pesantren turun temurun ini? Begitulah isi pikiran Abah.

Siang ini Abah baru saja selesai mengisi ceramah di mesjid. Ketika pulang ke rumah untuk istirahat, Abah melihat Bu Afifah, wali kelas Muddin, sedang berbincang dengan putra dan istrinya.

“Assalamu’alaikum,” ucap Abah.

“Wa’alaikumsalam.” Bu Afifah dan Muddin menjawab dengan serempak.

“Wah, ternyata ada tamu,” sambut Abah dengan ramah lalu duduk di samping Muddin.

“Iya, Pak Kiai. Sudah lama saya ingin bersilaturahim dengan Pak Kiai dan Ummi. Akhirnya ada kesempatan, sekalian ingin bertemu dengan Muddin. Sudah seminggu ini saya merasa kehilangan murid cerdas yang sering sekali bertanya ini-itu,” kata Bu Afifah sambil melirik Muddin. “Saya kira Muddin sakit.”

“Tidak, Bu. Muddin alhamdulillah sehat. Hanya saja Muddin memang sepertinya tidak akan kembali sekolah. Maaf, saya belum datang ke sekolah untuk membicarakan perihal ini,” ujar Abah.

“Tadi Muddin memang sudah bilang, Pak. Jika boleh saya tahu, alasan Muddin keluar itu apa, ya, Pak Kiai?”

“Begini, Bu…” Abah membenarkan posisi duduk lalu meneruskan ucapannya, “sejak Muddin lulus SD, saya memang sudah memintanya untuk tidak melanjutkan sekolah. Saya meminta Muddin untuk fokus belajar ilmu agama di pondok. Tujuannya supaya dia punya bekal yang baik untuk meneruskan

perjuangan saya mengurus pesantren ini. Namun karena Muddin merengek ingin melanjutkan sekolah, akhirnya saya kabulkan, syaratnya dia tidak boleh mengabaikan kegiatan pondok. Namun ternyata semakin ke sini, konsentrasi Muddin terpecah sehingga kegiatan pondok pun mulai terabaikan. Ini membuat saya khawatir, itulah sebabnya saya meminta Muddin keluar sekolah.”

“Tapi Muddin adalah siswa yang berprestasi, Pak. Dia selalu mendapat rangking satu dan semangat belajarnya pun luar biasa. Bahkan rencananya bulan ini Muddin akan saya ikutkan di lomba pengetahuan antariksa di kabupaten. Saya harap Pak Kiai bisa mengizinkan Muddin untuk kembali sekolah.”

Abah hanya terdiam sambil melirik Muddin yang tengah menunduk. Ummi yang sejak tdi mendengarkan pembicaraan itu menahan napas menanti jawaban Abah.

***

Malam ini, seperti biasa Muddin menikmati langit hitam dengan kelip bintang di jendela kamarnya. Dia benar-benar mengagumi ciptaan Allah yang satu itu. Setiap memandang langit dan isinya, Muddin selalu merasakan betapa maha besarnya Allah SWT yang telah menciptakan langit tanpa penyangga dan menciptakan bintang tanpa menggantung. Itulah sebabnya Muddin sangat suka dengan segala sesuatau yang berhubungan dengan antariksa.

“Kamu mirip sekali seperti Abah, senang memandang langit,” ucap Abah yang tiba-tiba telah berdiri di samping Muddin.

Muddin menoleh lalu tersenyum. “Muddin benar-benar baru tahu kalau Abah suka memandang langit.”

Abah tertawa kecil. “Langit inilah yang memberi Abah ide untuk menamaimu Najmuddin, bintangnya agama.”

“Insya allah, nama ini akan menjadi doa yang baik untuk Muddin, Bah.”

“Aamiin.”

Abah dan Muddin pun berada dalam kebisuan beberapa saat. Sampai akhirnya suara Abah memecah hening.

“Abah tadi ke sekolahmu, Din.”

Muddin melirik Abah. “Untuk apa, Bah? Mengurus surat keluar Muddin?”

Abah tersenyum lalu menggeleng. “Tidak. Abah ke sana justru untuk mengatakan bahwa besok kamu kembali bersekolah.”

Muddin terbelalak, merasa terkejut. “A-a-bah, be-beneran?”

“Kamu tahu apa yang dikatakan Bu Afifah kepada Abah ketika pamit pulang dari rumah kita dua hari lalu? Beliau bertanya, ‘Pak kiai suka kanan atau kiri?’ Abah jawab kanan. Lalu dia tanya lagi, ‘apakah sandal Pak Kiai kiri dan kanan?’ Abah tertawa dan menjawab, iya atuh, Bu, kalau kanan atau kiri dua-duanya nanti gak enak dipakai. Wali kelasmu itu tersenyum dan menjawab, ‘sepertinya ilmu pengetahuan pun begitu ya, Pak. Kalau hanya memakai satu jenis, maka tidak akan sempurna.’ Abah merenungkan ucapannya itu dan akhirnya Abah paham, ilmu agama yang kita miliki harus dipadukan dengan ilmu lain agar kita bisa mendapat hasil yang sempurna. Umat islam tidak boleh menjadi umat yang tertinggal. Itu sebabnya Abah memutuskan bahwa kamu harus terus sekolah dan menuntut ilmu.”

Muddin tidak mampu berkata-kata lagi. Kegembiraan terlihat dari matanya yang berkaca-kaca.

***

Lima belas tahun kemudian.

Muddin yang baru saja keluar dari bandara, langsung diserbu oleh wartawan.

“Pak Najmuddin, bagaimana rasanya menjadi orang Indonesia pertama yang menginjak Mars?” tanya salah satu wartawan.

“Rasanya luar biasa. Perjalanan yang menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Allah dari sisi eksplorasi sains. Dan ini membuat saya semakin gencar untuk mengucap tasbih kepada Allah,” jawab Muddin.

“Apa yang anda pikirkan ketika sampai di sana?”

“Allah, Ummi dan almarhum Abah.” Bibir Muddin melengkungkan senyum.

TAMAT

Erma Rostiana D., Pemenang Kedua Lomba Menulis Cerpen Indigenus Univ. Jend. Soedirman
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top