Saturday , 24 June 2017
update
Narasi Anies Baswedan Membangun Indonesia

Narasi Anies Baswedan Membangun Indonesia

Judul Buku      : Merawat Tenun Kebangsaan (Refleksi Ihwal Kepemimpinan, Demokrasi, dan Pendidikan)
Penulis             : Anies Baswedan
Cetakan           : Pertama, Februari 2015
Halaman          : 250 Halaman
Penerbit           : Serambi Ilmu Semesta
ISBN               : 978-602-290-003-0

 

Buku “Merawat Tenun Kebangsaan (Refleksi Ihwal Kepemimpinan, Demokrasi, dan Pendidikan)” adalah kumpulan tulisan Anies Baswedan sejak 1997. Buku ini berisi narasi membangun Indonesia dari kaca mata seorang Anies Baswedan.

Bagi Anies Baswedan, masa depan gemilang seperti janji kemerdekaan hanya bisa diraih melalui optimisme kolektif. Kini, saatnya membentangkan kembali optimisme kolektif bangsa ini (hlm 59). Dan syarat untuk itu kita memerlukan pemimpin yang menggerakkan! Pemimpin yang membuat semua terpanggil untuk turun tangan, untuk bekerja bersama meraih cita-cita bersama. Pemimpin yang kata-kata dan perbuatannya menjadi pesan yang solid yang dijalankan secara kolosal (hlm 64).

Muhammad Husnil, orang yang membantu Anies Baswedan menyusun buku ini, membaginya menjadi lima bab, yaitu: kepemimpinan, tokoh inspirasi, demokrasi, surat terbuka, dan pendidikan. Setiap bab disusun berdasarkan kesamaan tema tersebut, beberapa tulisan dalam buku ini telah dimuat dalam beberapa media massa, seperti: Kompas, Republika, Gatra, Tempo, dan Jawa Pos.

Melalui salah satu tulisannya dalam bab kepemimpinan Anies Basweda mengingatkan pemerintah dan politisi Indonesia untuk membuktikan bahwa kedudukan mereka bukan cuma dimanfaatkan untuk berebut kekuasaan, tetapi memikirkan rakyat yang menganggur, kocar-kacir mencari nafkah ke berbagai negeri, dan menjadi bulan-bulanan di negeri orang. Tulisan ini dibuat sebagai respon atas beberapa kasus yang menimpa TKI (hlm 39).

Dalam bab tokoh inspirasi Anies Baswedan akan berkisah tentang sosok Surin Pitsuwan muslim pertama yang menjadi menteri luar negeri Thailand, Koesnadi Hardjasoemantri mantan Rektor UGM, Nabi Ibrahim, Agus Salim, K`tut Tantri, dan Aditya Prasetya Pengajar Muda yang gugur dalam tugas, serta Nelson Mandela. Kita akan belajar dari laku hidup sosok inspirasi ini.

Kemudian dalam bab demokrasi Anies Baswedan berpesan, melalui budaya politik yang modern, sturktur politik yang demokratis menjadi benar-benar “hidup”. (hlm 113). Bila reformasi politik bertujuan untuk membangun demokrasi representatif secara substantif, voting terbuka adalah sebuah instrumen mujarab. Instrumen yang bisa memaksa para penguasa politik taat dan peduli pada kepentingan rakyat (hlm 132). Memerdekakan arena politik daerah dari dominasi politik nasional melalui pemisahan pemilu menjadi penting. Agar demokrasi yang dihasilkan adalah demokrasi yang senyatanya responsif terhadap kepentingan dan aspirasi rakyat, baik nasional maupun daerah (hlm 138).

Sementara bab surat terbuka berbicara tentang Indonesia Mengajar, Pengajar Muda, Kelas Inspirasi, dan gerakan Turun Tangan. Bab terakhir berbicara tentang pendidikan, Anis Baswedan mengingatkan agar kita segera menyiapkan sebuah rekayasa masa depan melalui pendidikan, terutama di tingkat pendidikan tinggi, karena kita tidak bisa mendiamkan proses terbentuknya struktur yang menghalangi tersedianya pendidikan berkualitas bagi seluruh rakyat Indonesia (hlm 199-200).

Dalam bab ini Anies Baswedan berpesan bahwa para guru harus sadar dan teguhkan diri sebagai pembentuk masa depan Indonesia. Karena guru dapat kehormatan mewakili kita semua untuk melunasi salah satu janji kemerdekaan republik ini: mencerdaskan kehidupan bangsa (hlm 218-219).

Anies Baswedan menutup buku ini dengan tulisan tentang Pancasila, bahwa nilai-nilai Pancasila akan hidup dan menggerakkan kita sebagai sebuah bangsa yang bergotong royong bersama ketika syarat-syarat untuk menyalakan api Pancasila ini terpenuhi dengan baik. Dua syarat utamanya adalah sistem politik yang sehat, dan keberanian untuk memilih masa depan daripada kepentingan kelompok dan kepentingan jangka pendek untuk mempertahankan kekuasaan (hlm 248).

Buku “Merawat Tenun Kebangsaan (Refleksi Ihwal Kepemimpinan, Demokrasi, dan Pendidikan)” sebenarnya tidak hanya menjadi pengingat bagi pemerintah dan rakyat Indonesia, lebih khusus buku ini juga kita harapkan mampu menjadi pengingat bagi seorang Anies Baswedan yang kini menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (2014-2019). Republik ini telah memiliki banyak pemuda yang berkualitas tetapi kemudian berakhir sebagai sampah karena hilangnya integritas. Semoga Anies Baswedan tidak berakhir seperti mereka.

 

Peresensi : Kuncoro Probojati, Co-Founder Muda Berani
Editor : SCE

One comment

Leave a Reply

Scroll To Top