Thursday , 20 September 2018
update
Narasi Besar Menaklukkan Roma

Narasi Besar Menaklukkan Roma

Saya rasa tidak ada salahnya, sejenak keluar dari persoalan yang ada di negeri sendiri menuju kepada cita-cita yang jauh lebih besar, ekspansi hingga keluar negeri. Apa itu? Penaklukan Roma. Sebagaimana yang dikisahkan dalam hadits berikut:

( عَنْ اَبي قَبِيلٍ؛ قَالَ :كُنَّا عِنْدَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِي ، وَسُئِلَ :اَيُّ الْمَدِينَتَيْنِ تُفْتَحُ اَوَّلًا : الْقُسْطَنْطِينِيَّةُ اَوْ رُومِيَّةُ ؟ فَدَعَا عَبْدُ اللَّهِ بِصُنْدُوقٍ لَهُ حلَقٌ ؛قَالَ : فَاَخْرَجَ مِنْهُ كِتَابًا قَالَ فَقَالَ عَبْدُ اللَّهِ بَيْنَمَا نَحْنُ حَوْلَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَكْتُبُ اِذْ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَيُّ الْمَدِينَتَيْنِ تُفْتَحُ اَوَّلًا قُسْطَنْطِينِيَّةُ اَوْ رُومِيَّةُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَدِينَةُ هِرَقْلَ تُفْتَحُ اَوَّلًا يَعْنِي قُسْطَنْطِينِيَّةَ‏.‏ )

“Dari Abu Qobiil mengatakan,”Dahulu kami di dekat ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al-‘Aash, dan ia ditanya, kota mana yang akan ditaklukkan terlebih dahulu, konstanstinopel ataukah roma? Maka ‘Abdullah pun membawakan kotak yang ada tandanya kemudian ia mengeluarkan kitab darinya dan ia mengatakan,”Ketika kami sedang menulis di dekat Rosulullah SAW, saat itu Rosulullah SAW ditanya tentang kota mana yang akan ditaklukkan terlebih dahulu, Konstantinopel ataukah Roma kemudian Rosulullah menjawab,”Kota yang ada Kaisar Heraklius itulah yang akan ditaklukkan terlebih dahulu yaitu Konstantinopel.”()

Ada dua kota yang dikabarkan oleh Nabi SAW untuk ditaklukkan oleh umat islam yaitu Konstantinopel dan Roma. Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa kabar dari Nabi itu benar-benar telah terjadi. Konstantinopel benar-benar takluk pada masa Sultan Muhammad II yakni pada tahun 1453 M/857 H, setelah lebih dari 800 tahun sejak Nabi SAW mengabarkan berita penaklukannya. Beliau kemudian digelari Sultan Muhammad Al-Faatih karena telah berhasil menaklukkan Konstantinopel. Sekarang tinggal satu kota lagi yang belum berhasil ditaklukkan, yaitu Roma.

DR Yusuf Al-Qorodhowy saat mengomentari hadits ini mengatakan bahwa kelihatannya kabar dari Nabi itu benar-benar akan terjadi pada abad ini. Tapi tidak seperti dulu. Dahulu, Konstantinopel ditaklukkan oleh kekuatan militer yang sangat dahsyat tetapi Roma akan takluk dengan da’wah islam lewat internet, tv, majalah, buku, koran, ceramah-ceramah dsb.

Syekh Mahmuud Ad-Daalaaty juga mengatakan bahwa bagian yang pertama (Konstantinopel) telah ditaklukkan, sekarang tinggal bagian yang kedua (Roma) tapi kelihatannya ia akan takluk dengan da’wah lewat lisan dan tulisan bukan dengan senjata dan peperangan.

Perkataan dua orang ulama diatas tentu bukan tanpa dasar, saat ini di barat (Amerika dan Eropa) sedang gandrung-gandrungnya terhadap islam. Hillary Clinton mengatakan bahwa satu-satunya agama yang begitu cepat perkembangannya di Amerika adalah islam. Pada tahun 1970, jumlah muslimin di Amerika hanya 500.000 orang tapi pada tahun 2007 populasinya meningkat sebanyak lebih dari 9.000.000 orang. Pada tahun 1982 di Kota Boston juga hanya ada satu masjid, tapi pada tahun 2007 bertambah menjadi 30 masjid. Sungguh perkembangan yang luar biasa. Begitupula di Eropa, Masjid terbesar justru adanya di Roma, jantungnya nasrani dunia. Ia adalah Masjid Agung Roma (Grande Moschea), masjid ini dibangun diatas lahan seluas 30.000 m2 dan mampu menampung 40.000 orang. Selain di Roma, masjid besar lainnya (walaupun tidak sebesar yang ada di Roma) ada di Catania dan Milan dan 200 masjid kecil lainnya tersebar di Piemonte, Lombardia, Emilia, Romagna dan Veneto.

Lalu, sebagai generasi islam, apa yang sudah kita siapkan? Duduk termenung dan menunggu keajaiban datang? Tentu tidak mungkin. Harus ada usaha nyata untuk mewujudkannya. Kalau boleh saya menyimpulkan paling tidak ada empat hal yang harus dipersipkan, yaitu: pengetahuan dan pemahaman terhadap islam yang baik, benar dan menyeluruh, kemampuan bahasa dan sastra, kekuatan media dan teknologi serta kekuatan finansial.

1. Pengetahuan dan pemahaman terhadap islam yang baik, benar dan menyeluruh

Pengetahuan dan pemahaman terhadap islam yang baik adalah langkah awal untuk melangkah ke langkah berikutnya. Bagaimana mungkin kita akan menda’wahkan islam sementara kita sendiri tidak paham dan tidak punya pengetahuan terhadap apa yang akan kita da’wahkan. Allah SWT berfirman:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata….”.(Yusuf:108).

Dalam Tafsir Al-Baghowy, Muqootil mengatakan bahwa yang dimaksud bashiroh adalah pengetahuan yang membedakan antara yang haq dan bathil.

Rosulullah SAW juga bersabda:

«مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ»

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan padanya niscaya Allah akan memahamkannya dalam agama.”()

Untuk itulah Imam Al-Bukhori juga menegaskan dalam kitab Shohih Al-Bukhori bab Al-‘Ilmu Qobla Al-Qoul wal ‘Amal (ilmu itu sebelum berkata dan bertindak). Imam Hasan Al-Banna juga menempatkan Al-Fahmu (pemahaman) di urutan pertama dari arkaanul bai’ah.

2. Kemampuan bahasa dan sastra

Paling tidak ada 2 bahasa yang harus kita kuasai dengan baik (tentunya selain bahasa ibu kita), yaitu:

a. Bahasa Arab

Bahasa ini sangat penting sekali dikuasai oleh para aktivis islam. Karena bahasa ini adalah bahasa Al-Quran, As-Sunnah dan bahasa yang terdapat pada kitab-kitab syari’ah. Bagaimana mungkin kita akan menjadi aktivis muslim yang tangguh yang akan menyebarkan islam ini sementara alat untuk memahami sumber-sumber islam tidak kita pahami?

Banyak orang mengatakan bahwa bahasa arab itu susah, sehingga sangat tidak mungkin bagi orang non-arab untuk bisa bahasa arab dengan baik. Ini tentu perkataan yang sesat dan menyesatkan. Kita mungkin pernah mengenal Salman Al-Farisi, Imam At-Tirmidzi, Abu Ali-Al-Faarisi, Imam Al-Bukhori, Syekh Nashiruddin Al-Albani, Syekh Nawawi Al-Bantani dan masih banyak lagi ulama yang lain yang mereka sangat paham bahasa arab walaupun bukan orang arab.

b. Bahasa Inggris

Bahasa ini sangat penting dikuasai karena hampir semua negara paham bahasa ini. Kita bisa menyebarkan islam kepada orang non-arab yang berbeda bahasa dengan kita, dengan menggunakan bahasa ini. Tapi apa yang terjadi? Selama 6 tahun kita belajar bahasa inggris atau mungkin lebih, tapi tak satupun yang nyangkut di alam pikiran kita kecuali sedikit saja.

Padahal dahulu Zaid bin Tsabit mempelajari bahasa asing (bahasa suryani) hanya dalam waktu 17 hari.

قَالَ زَيْدٌ: قَالَ لي رسول الله: “أَتُحْسِنُ السُّرْيَانِيَّةَ”. قُلْتُ: لاَ, قَالَ: “فَتَعَلَّمْهَا” فَتَعَلَّمْتُهَا فِي سَبْعَةَ عَشَرَ يَوْماً

“Zaid mengatakan,”Rosulullah SAW bertanya kepadaku,”Apakah kamu menguasai bahasa suryani? Aku menjawab,”Tidak” Beliau SAW mengatakan,”Pelajarilah bahasa suryani, maka aku pun mempelajari bahasa suryani dalam waktu 17 hari.”()

3. Kekuatan Media dan Teknologi

Tidak bisa kita pungkiri bahwa kekuatan media itu sangat dahsyat. Sampai saat ini, baik media cetak maupun elektronik lebih didominasi oleh barat. Untuk itu, umat islam harus mempunyai media yang sangat masif dalam bergerak yang tidak hanya menjangkau suatu wilayah tertentu saja tapi sampai melewati batas negara bahkan batas benua. Untuk mewujudkan media yang handal tersebut, tentu umat islam juga harus mempunyai SDM yang melek teknologi terutama aktivis islam dan para ulamanya agar da’wah islam ini tidak hanya berkutat pada radio FM dan koran atau majalah saja tapi tv satelit, radio streaming, internet dsb.

4. Kekuatan Finansial

Untuk mendukung dan mensukseskan ketiga poin diatas, tentu kita butuh dana yang besar untuk mewujudkannya. Kita butuh dana yang besar untuk mendidik generasi muslim yang tangguh yang memiliki visi dan misi keislaman yang kuat lewat sekolah-sekolah dan universitas-universitas. Kita juga butuh dana untuk membangun stasiun-stasiun televisi yang siap memancarkan ke seluruh penjuru dunia, membangun percetakan-percetakan untuk menerbitkan buku, majalah, koran dsb. Kita butuh dana yang besar untuk itu. Namun, kadang masalahnya adalah orang sholihnya tidak mau kaya dan orang kayanya tidak mau sholih.

Padahal Rosulullah SAW pernah mengingatkan ‘Amru bin Al-‘Aash

«يَا عَمْرُو، نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِح لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ»

“Wahai ‘Amru, sebaik-baiknya harta adalah harta yang ada pada orang sholih.”()

Lalu…, sejauh mana kita mempersiapkan diri menjadi salah satu dari instrumen kemenangan islam? Tanyakan pada hatimu! Semoga bermanfaat….

Faridi Abdul Mukti, Aktivis KAMMI UMS

Leave a Reply

Scroll To Top