Saturday , 24 June 2017
update
Nasib Rumah Allah di Rumah Makan

Nasib Rumah Allah di Rumah Makan

Dini hari (25/5) tadi bus Dedy Jaya Jakarta-Pekalongan yang saya tumpangi tiba di Rumah Makan Dian Sari, Indramayu, Jawa Barat. Rumah makan ini memang sudah menjadi partner bagi Perusahaan Otobus (PO) Dedy Jaya. Artinya, semua armada PO dengan jurusan ke seluruh daerah Jawa Tengah pasti memilih rumah makan ini sebagai tempat istirahat sejenak sembari menikmati ragam makanan atau minuman yang dijajakan. Tak hanya Dedy Jaya, PO lain pun sepanjang pengetahuan saya memiliki partner rumah makan masing-masing. Dan hal ini adalah wajar dalam dunia bisnis transportasi darat.

Di sini saya ingin saya menyoroti perihal keadaan mushola di sana. Pertama, kawanan kepik hitam (bahasa Jawa: lembing) terlihat memenuhi lantai depan dan dalam mushola. Siapa tak mengenal hewan ini? Hewan dari kelas serangga ini dikenal jamak sebagai penghasil bau tak sedap nan menyengat jika disentuh. Tak kalah ironis, hanya dua keran air yang berfungsi dari sekitar lima atau enam yang tersedia. Lantai tempat wudhu pun tampak tak terurus. Jadilah penampakan mushola tak sedap dipandang mata. Herannya tak ada satu pun petugas yang terlihat di sekitar mushola tersebut. Sebaliknya, justru dua orang petugas sibuk menghitung uang di depan kotak infak toilet yang berjarak kurang dari 100 meter.

Ihwan kepik mungkin masih sedikit bisa ditoleransi dengan dalih fenomena alam. Sebagaimana diketahui, kepik acap muncul pasca musim panen di area yang terang sekitar persawahan. Namun, menurut saya, sebenarnya hal ini bisa diatasi diminimalisir dengan tanpa memberantas. Misalnya dengan pengaturan lampu penerangan di mushola dan sekitarnya. Teknisnya, kita bisa mematikan lampu mushola ketika sepi penumpang yang memakai fasilitas ini. Pada waktu bersamaan, kita pasang penerangan lebih di area luar yang agak jauh dari mushola. Dengan ini, besar kemungkinan kepik akan hijrah dari mushola ke tempat terang tadi. Atau kita juga bisa tetap menghidupkan lampu mushola namun dengan daya terang lebih kecil daripada daerah “perangkap” yang diberi lampu jauh lebih terang.

Adapun perkara kebersihan mushola memang sudah semacam problema massal sebagian masyarakat. Entah lalai atau acuh, fasilitas umum mushola kerap menjadi korban. Namun, dengan pemasukan infak pengunjung yang saya kira cukup melimpah mestinya kejadian ironis ini segera bisa diakhiri. Mungkin di mata pengelola fasilitas lain, toilet misalnya, lebih menjanjikan fulus daripada sekadar mushola. Hal ini semakin menggambarkan betapa materialisme sudah akut menjangkiti sebagian benak masyarakat negeri yang katanya religius ini.

Akhirnya, melalui sedikit ulasan kritik ini saya ingin menyampaikan pesan bahwa selaku umat beragama mestinya perilaku tak adil ini segera dihentikan. Kepada pengelola rumah makan atau PO terkait, hendaklah berpikir lagi bagaimana mengatasi prolem umat ini. Jangan sampai cuma karena profit usaha rumah makan dan pernak-perniknya membuat kita menelantarkan rumah Allah. Semoga bermanfaat. (NA)

 

2 comments

  1. Sip gan…posting menarik…thanx infonya.. :)

Leave a Reply

Scroll To Top