Wednesday , 14 November 2018
update
Ngabuburit FOZ – Eramadina

Ngabuburit FOZ – Eramadina

Menurut Mohammad Natsir ada tiga pilar yang menjadi benteng pembangunan umat, yaitu Masjid, Pesantren dan Kampus. Perpaduan dan sinergitas tiga pilar itu bukan semata-mata bersifat fisik, tapi perpaduan pemikiran dan amaliyah. Peran almarhum Pak Natsir selaku tokoh dunia Islam yang memiliki akses sangat baik dengan negara-negara Islam di Timur Tengah berhasil mewujudkan berdirinya sejumlah masjid kampus di Indonesia, setelah Masjid Salman ITB, masjid kampus pertama di tanah air.

Kegiatan yang monumental dari program Bina Masjid Kampus di Salman adalah LMD (Latihan Mujahid Dakwah), diadakan sejak 1974 dan dipimpin oleh Muhammad Imaduddin Abdulrahim atau dikenal dengan Bang Imad. LMD mulanya dilaksanakan di Masjid Salman ITB, selanjutnya menyebar ke setiap kampus. Kepada peserta LMD almarhum Bang Imad pernah berpesan, “Nasi yang saudara makan itu berasal dari infaq dan sedekah umat, dan saudara akan mempertanggungjawabkannya di akhirat nanti.”

Dalam buku “Kumpulan Materi LMD dan SII” (editor Yan Orgianus) yang diterbitkan oleh Bagian Kaderisasi YPM Masjid Salman ITB tahun 1987. Salah satu materi LMD dan SII (Studi Islam Intensif) pada bab “Esensi Islam” ialah materi tentang zakat yang disajikan secara ilmiah dan sistematis.

Masjid kampus merupakan wadah aktivitas komunitas mahasiswa muslim yang tercerahkan dengan pemahaman dan wawasan Islam modernis. Sebagaimana diketahui, para aktivis masjid kampus adalah calon sarjana dan intelektual muslim yang pada waktunya diharapkan tampil memberi kontribusi bagi kemajuan umat dan bangsa.

Selain berperan dalam kaderisasi kepemimpinan umat, masjid kampus memiliki kontribusi nyata dalam gerakan zakat. Salah satu best practices gerakan zakat berbasis masjid kampus ialah Rumah Amal Salman ITB, yang sebelumnya bernama Lembaga Wakaf dan Zakat (LWZ) Salman ITB. Di samping itu pengelolaan zakat di lingkungan Masjid Fathimatuzzahra Kompleks Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) Purwokerto juga patut diapresiasi. Juga beberapa kampus lain.

Di tempat lain, terdapat gerakan mahasiswa Islam seperti KAMMI, HMI, PMII, PII, maupun kepemudaan seperti IPNU, IPPNU, GPI, dan sebagainya. Mereka—dalam semangat kemudaaannya—melakukan aktivitas advokasi pemberdayaan masyarakat melalui berbagai bentuk. Misalnya yang dilakukan KAMMI Madani, mereka mendampingi Kampung Pemulung di Pancoran Buntu. Juga HMI yang membuka wilayah binaan di Jakarta Utara. Kegiatan pemberdayaan berjalan dengan ditopang semangat dan keikhlasan.

Sekaligus, kekhawatirannya adalah tidak berlanjutnya aktivitas pemberdayaan itu karena sustainabilitas finansialnya mengandalkan sumbangan tidak tetap. Di titik inilah pentingnya membuat sinergi yang kuat antara gerakan aktivitas zakat (baik LAZ maupun LAZ kampus) dengan para aktivis gerakan mahasiswa ekstra. Agar potensi kebaikan berkumpul dalam satu wadah dan bisa menopang satu sama lain.

Penting untuk mengadakan forum yang memfasilitasi sharing pengetahuan dan pengalaman dalam pengelolaan dana umat ini. Gerakan mahasiswa yang cenderung tidak memiliki dukungan finansial kuat, kadang menjadikan aktivitas mereka berkutat pada menara gading. Berkutat asyik pada dunia mereka sendiri, namun terlepas dari realitas masyarakat yang merupakan ibu kandung tempat mahasiswa kembali usai dari kampus.

Tentu bukan hanya memandang mahasiswa sebagaiobyek pengaluran zakat. Maksudnya mahasiswa sebagai penerima bantuan, baik beasiswa maupun ongkos hidup selama belajar. Namun sekaligus menjadikan mahasiswa sebagai aktivis filantropi Islam: mencari dan membuka peluang, menyalurkan dana dan memberdayakan masyarakat. Di sinilah peran Forum Zakat (FOZ) untuk membuat ruang temu melalui FGD ini.

Tema

“Sinergi Gerakan Zakat dan Gerakan Mahasiswa

untuk Pemberdayaan Masyarakat”

 

Waktu dan Tempat
Hari/Tanggal         : Selasa, 30 Juli 2013 / 22 Ramadhan 1434 H
Pukul                         : 15.30 – 18.00 WIB
Tempat                     : Kantor Forum Zakat (FOZ),  Jalan Lenteng Agung Raya No 60, Jakarta Selatan,  Telpon 021-78883889

Narasumber:

  1. Amirul Hasan (Supervisor Corporate Communication Dompet Dhuafa)
  2. Shopia Mulyani (aktivis Kampung Pemulung Pancoran)

 

by : FOZ (Amin Sudarsono)

Leave a Reply

Scroll To Top