Wednesday , 18 October 2017
update
Nostalgia Bunga Kamboja

Nostalgia Bunga Kamboja

Kubuka jendela kamar yang berwarna putih kehijauan. Sekejap kurasakan udara pagi yang segar menyeruak masuk kedalam. Sinar mentari yang berwarna keemasan ikut menerobos masuk melalui selah-selah kamar. Burung-burung kecil pun terdengar bersahut-sahutan. Salah satu jenis burung itu ada burung prenjak. Aku jadi ingat kata ibuku kalau ada burung prenjak berkicau di sekitar rumah maka akan ada tamu yang datang. Namun aku yakin itu hanya mitos, bila memang itu benar mungkin hanya kebetulan.

Aku tersenyum. Indah sekali kuasa Allah ini. Kulayangkan pandanganku pada bunga kamboja yang tumbuh di dekat jendela. Pohonnya lumayan tinggi, bunganya pun rindang bermekaran. Indah kupandang namun selalu berkesan duka. Berbeda dengan bunga mawar di ujung pagar itu, meski hanya berbunga beberapa tangkai namun selalu berkesan bahagia dan penuh dengan cinta.

Kupejamkan mata, mencoba merasakan perasaan bunga kamboja. Kuhayati dan terus kuhayati, namun tetap saja selalu kurasakan kesan sedih dan pilu. Kubisikkan harap pada Tuhanku, Ya Allah.. berikan keadilanmu pada bunga kamboja ini, agar ia tidak selalu merasa terkucilkan dan terzalimi. Berikan ia kesempatan seperti bunga mawar walau hanya sekali, tumbuh bahagia dengan cinta di hati.

Kubuka mata ini bersamaan dengan terdengarnya lirik lagu Ebiet G Ade yang sengaja disetel adikku. Meski lirik lagu itu hanya sayup-sayup terdengar namun aku dapat merasakan pesan dalam yang disampaikannya.

Di matamu masih tersimpan selaksa peristiwa

Benturan dan hempasan terpahat di keningmu

Kau nampak tua dan lelah, keringat mengucur deras namun kau tetap tabah

Meski nafasmu kadang tersengal

Memikul beban yang makin  sarat kau tetap bertahan

Engkau telah mengerti hitam dan merah jalan ini

Keriput tulang pipimu gambaran perjuangan

Bahumu yang dulu kekar legam terbakar matahari kini kurus dan terbungkus

Namun semangat tak pernah pudar meski langkahmu kadang gemetar kau tetap setia

Ayah…. Dalam hening sepi kurindu        

Untuk menuai padi milik kita tapi kerinduan tinggal hanya kerinduan

Anakmu sekarang banyak menanggung beban                                 

Lirik lagu yang dinyanyikan oleh Ebiet G Ade itu mampu membuat mata ini gerimis. Butir bening di kelopak mataku tak mampu lagi kutahan. Terbayang jelas kenangan masa lalu bersamanya. Sungguh penuh romansa. Aku pun terbawa pada sepotong episode masa lalu saat ruang dan waktu di mana aku bisa melihat senyum manisnya…

                                                             *****

“Sini naik ke pangkuan ayah, anak ayah sebentar lagi sudah gadis lho,” kata ayah padaku. Kulihat senyum khas miliknya. Aku tersipu malu.

“Yah, kalo Nanda sudah besar nanti Nanda pengen kasih hadiah ke ayah.” kataku.

Kulihat mata ayah berbinar. Wajahnya pun berseri-seri.

            “Oh ya? Nanda mau kasih apa sama ayah?” tanya ayah terkaget-kaget.

            “Nanda mau kasih piala sama ayah, persembahan dari Nanda,” kataku serius.

            “Wah bagus itu, ayah pasti seneng banget. Iya kan, yah?” Ibu yang dari dapur datang menimpali. Ayah tersenyum kemudian tertawa.

            “Beneran ya?” ledek ayah padaku meminta keseriusan.

Aku mengangguk mantap. Ayah kemudian mengelus kepalaku dengan sayang.

            Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Aku pun kini beranjak dewasa. Dan ayah masih tetap sama dengan kasih sayang dan senyum khasnya. Dan aku pun juga masih tetap kukuh akan memberikan yang terbaik untuk ayah. Entah kapan, semoga Allah memudahkan.

Sore semakin temaram saat aku pulang dari kampus. Aku turun dari motor bututku dengan senyum mengembang dan menyapa dengan ramah pada seluruh penghuni rumah. Inilah salah satu trik agar keluargaku tidak mengomel ketika aku pulang kesorean. Aku berharap dengan senyum dan sapaku ini, keluargaku juga akan menyambutku dengan senyum yang lebih indah dan kehangatan kasih sayang sehingga tidak ada masalah meski aku selalu pulang kesorean.

Realitas kurangnya komunikasi dengan keluarga inilah yang banyak dialami seorang aktivis hingga akhirnya berujung pada dibatasinya gerak aktifitas yang akan dilakukan. Karena memang hampir setiap hari aku berangkat pagi dan pulang sore dengan alasan ada aktifitas dakwah atau ada syuro. Adanya komunikasi yang baik dengan keluarga inilah yang akhirnya membuat mereka faham dan percaya dengan aktivitasku. Terlebih ayahku. Bahkan ayah sangat-sangat percaya apapun yang akan aku lakukan. Tak pernah sekalipun aku melihatnya ragu.

Pernah suatu kali aku mendengar percakapan ayah dengan pak amron, tetanggaku yang anaknya juga kuliah di kampus yang sama denganku. Anaknya setiap hari berangkat kekampus hanya untuk kuliah, berbeda dengan diriku.

            “Nanda setiap hari pulang jam berapa, lik?” tanya Pak Amron pada ayah.

            “Jam enam…” jawab ayahku.

            “Tiap hari Nanda pulang jam enam? Apa saja sih yang selalu dikerjakannya? Kuliah?” tanya Pak Amrom sambil mengerutkan kening.

            “Lho kau ini ndak tau, Ron.. Nanda kan mau jadi ustadzah. Kata anakku, Nanda sering mengisi pengajian di kampus,” terang Pak Soleh. Pak Soleh juga punya anak yang juga kuliah ditempat yang sama denganku tetapi satu tingkat di bawahku. Namanya Meta.

            “Lah mestinya kan kalau kuliah nanti jadi guru, atau jadi pekerja di kantoran. Lha ini malah mengisi pengajian,” kata Pak Amron heran.

            “Anaknya Malik ini aneh, Ron..”

Pak Amron dan Pak Soleh  tertawa, ayah hanya tersenyum mendengarkan percakapan mereka.

            “Nanda melakukan itu untuk belajar dan dakwah, Ron, Leh.. bukan hanya dunia yang dikejar tetapi akhirat juga. Karena dunia ini bukan segala-galanya. Memang kita harus  bekerja untuk dunia tapi kita juga tak boleh melupakan akhirat. Aku percaya Nanda melakukan yang terbaik. Jadi aku hanya mengarahkan yang memang bisa terbaik untuknya. Karena itu, aku mengizinkannya untuk ikut organisasi dan pulang sore.”

Pak Amron dan Pak Soleh tersenyum sinis, tapi ayah tak terlalu peduli. Yang terpenting bagi ayah adalah memberikan yang terbaik untukku. Ayah tak pernah berkeluh kesah.

Aku kagum pada ayah. Ayah berbeda dengan orang tua kebanyakan. Meski ayah bukan orang yang berpendidikan tinggi, visi ayah untuk anak-anaknya patut diacungi jempol. Untuk menguatkannya aku sering memberikan harapan padanya. “Ayah, jika nanda sekarang belum bisa memberikan apa-apa untuk ayah, ayah jangan berkecil hati. Nanda akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk ayah. Jika memang ayah tidak bisa merasakannya hari ini, yakinlah doa nanda untuk ayah tak akan pernah kurang dan habis. Nanda akan menjadi tabungan amal yanga akan melancarkan jalannya ayah menuju syurga nanti.”

Masih kurekam jelas semua itu. Bahkan ketika senyumnya merekah, saat doanya mengiringi langkah, kala ridhonya menghampiri, semua itu menjadi kebahagiaan yang tak terbeli oleh materi. Aku masih ingat, sangat ingat malah.

                                                            *****

Hari masih siang ketika hp bututku berdering.

Tiruiiit..tiruiiit.. tanda ada pesan masuk. Maka segera kuraih hp itu dari kantong baju batikku. Begitu sms itu kubuka, aku terpaku. Tak mampu kuucap sepatah kata pun. Dunia seakan berhenti berputar, waktu seakan tak lagi berdetak, dan langit tiba-tiba mendung.

“Astaghfirullah…”aku tercekat. Hatiku terasa hancur. Kelam dan pekat.

Namun kemudian aku tersadar. Semuanya allah yang berencana, aku harus tetap bersabar dan tetap tegar. Maka segera ku bergegas menuju ke suatu tempat sesuai kabar yang barusan aku terima.

                                                            *****

Aku berjalan memasuki areal rumah sakit dengan tergesa-gesa. Kabar yang kuterima siang ini membuatku shock. Lemas tak bertenaga.

Ayah masuk rumah sakit, begitu bunyi sms dari abangku.

Sms yang singkat tetapi syarat dengan makna yang dalam. Hatiku mulai bertanya-tanya, seberapa parahkah sakit ayahku hingga harus dibawa kerumah sakit. Pagi tadi ketika aku akan berangkat kuliah masih kulihat senyum tulus itu, senyum khas milik ayahku. Tetapi  kemudian lagi-lagi aku tersadar, laa haula walakuwwata illa billah.. tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah.

Kususuri lorong rumah sakit dengan tergesa-gesa. Beberapa orang yang sedang menunggu keluarganya yang sakit melihat kearahku, heran. Namun aku tak peduli dengan tatapan orang-orang itu, dipikiranku yang ada hanyalah tentang ayah.. ayah.. dan ayah.

Berbekal sms yang memberitahukan bahwa ayah dirawat di ruang syaraf di kamar Flamboyan, maka terus kususuri lorong demi lorong rumah sakit itu. Kutengok kanan kiri berharap ruang syaraf segera kutemukan. Barusan Ruang bedah sudah kulewati. Ruang anak juga sudah lewat. Ruang pernyakit dalam pun juga sudah lewat. Nah ternyata itu, ruang Syaraf hampir terletak diujung. Segera kubergegas, kupercepat langkah berharap segera kulihat wajah ayah. Begitu sampai di ambang pintu, aku disambut oleh ibuku. Kulihat wajah ibu yang mulai keriput itu, aku melihat gurat kesedihan tergambar jelas di wajahnya. Dadaku berdesir melihat gurat kesedihan itu.

Kudekati sosok ayah, kupandangi dirinya dengan berkaca-kaca. Tak dapat lagi kutahan, mataku mulai gerimis. Ayahku tergeletak tak berdaya diatas ranjang pasien. Nafasnya begitu berat sehingga dokter memberinya oksigen tambahan. Detak jantungnya pun lemah. Beliau tak sadarkan diri. Kata ibuku setelah mengetahui hasil scanning tadi, ayah mengalami pendarahan di otak. Tak pernah terbayang sebelumnya kalau ayah akan merasakan sakit yang seberat ini. Aku tak tega. Hati ini pilu.

Hari pertama ayah di rumah sakit, keadaannya begitu menyedihkan. Ayah tak sadarkan diri. Begitu tersadar, ayah hanya bisa menatapku penuh isyarat namun tak satu katapun bisa keluar dari tenggorokannya. Tangannya bergerak-gerak meraih wajahku, aku tak bisa berbuat apa-apa selain menahan air mata ini.

Baru pada hari kedua aku menjenguknya, keadaannya mulai membaik. Seluruh keluargaku berharap ini akan menjadi titik balik kesembuhan ayah. Nafasnya yang disambung oksigen kini sudah dilepas, makannya tak lagi hanya lewat infus kini sudah bisa disuap, dan tubuhnya yang lemah kini sudah mulai bertenaga. Kami benar- benar bersyukur.

Hari ketiga aku menjenguknya, keadaannya malah kembali drop. Kondisinya yang kemarin sempat membaik, kini hilang entah kemana. Satu kesimpulan, ayah kembali kritis. Dan semua melemah, keadaan ayah dan harapan kami.

Hari keempat aku menjenguknya. Tak ada lagi tanda-tanda. Hati anak mana yang tidak hancur melihat keadaan ayah yang sangat dicintainya seperti itu.

                                                                        *****

Begitu Lirik lagu yang dinyanyikan oleh Ebiet G Ade itu selesai, aku kembali tersadar. Memori yang barusan kubuka lembarnya memberikan banyak sekali pelajaran tentang kebahagiaan dan kasih sayang seorang ayah. Karena bermula dari keluargalah, energi cinta untuk bahagia itu ada. Kuseka butiran air mata ini. Tanpa sadar ku kutip sebuah puisi untuknya.

“Ayah, aku ingin mencintaimu dengan sederhana,

Dengan kata yang tak sempat diucap kayu kepada api yang menjadikannya abu

Ayah, aku ingin mencintaimu dengan sederhana,

Dengan isyarat yang tak sempat disampaikannya awan kepada hujan yang menjadikannya tiada..”

Kembali kulayangkan pandanganku pada bunga kamboja yang tumbuh kekar di dekat jendela. Kulihat bunga kamboja itu tertiup angin, dan salah satu bunga kamboja itu gugur ke tanah. Seakan bunga kamboja itu mengisyaratkan padaku bahwa meski ia selalu kesan sedih dan pilu namun ia tetap tegar. Ya, bunga kamboja itu selalu taat kepada titah tuhan yang telah menggariskan hidupnya. Ia memang berbeda dengan bunga mawar, ia lebih terlihat tegar.

Kuseka mataku dan mencoba tersenyum. Kubisikkan kata lewat angin yang bertiup pelan. Ayah, indahnya kenangan di beranda rumah kita, akan menjadi nostalgia merenda masa depanku penuh harapan.

                                                            **SELESAI**

# cerpen ini kupersembahkan untuk ayah, mengenang 1 tahun kehilangan sosoknya.

Oleh      : Dwi Puji Astuti
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top