Thursday , 20 September 2018
update
Nurul Izzah Anwar: Inspirasi Tokoh Muda ASEAN

Nurul Izzah Anwar: Inspirasi Tokoh Muda ASEAN

Sekolah HAM Mahasiswa
Inisiatif untuk melakukan penyebarluasan mengenai pemahaman dan perlindungan hak asasi manusia juga aktif dilakukan di kalangan generasi muda. Pada hari Kamis (22/8/2013) lalu Komisi Untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) meluncurkan Pembukaan Sekolah HAM Untuk Mahasiswa (SEHAMA).
Haris Azhar, Koordinator Kontras, mengatakan dalam sambutannya, “Kegiatan SEHAMA ini telah dilakukan selama lima tahun, kali ini Kontras bekerjasama dengan Kedutaan Besar Kanada, Kedutaan Besar Swiss dan The Asia Foundation.
Tujuan diadakannya kegiatan ini adalah untuk mempromosikan pemahaman hak asasi manusia dan melakukan regenerasi aktivis hak asasi manusia di kalangan generasi muda Indonesia.”
Kegiatan yang bertema “Ekspresi Anak Muda adalah Hak Asasi Manusia” ini diikuti oleh perwakilan mahasiswa dari seluruh Indonesia, terdapat perwakilan mahasiswa Aceh, Makassar, Papua dan daerah lainnya.
Haris Azhar melanjutkan, “Kontras pada saat ini telah berkomitmen untuk melakukan internasionalisasi isu perlindungan HAM, dan akan terlibat aktif dalam pengawalan isu HAM di kawasan Asia Tenggara”.
Mengenai diskusi yang akan menghadirkan Nurul Izzah Anwar, Wakil Presiden Partai Keadilan Rakyat Malaysia, Haris Azhar menegaskan, “Mengapa Kontras mengundang Nurul Izzah? Karena kami menganggap bahwa ia adalah orang yang konsisten dan berani untuk beroposisi sejak awal. Kami berharap kehadiran Nurul Izzah akan menginspirasi perjuangan generasi muda Indonesia dalam melakukan proses demokratisasi dan perlindungan hak asasi manusia”.
Agenda ini juga kemudian dibuka oleh perwakilan kedutaan besar, diantaranya adalah delegasi kedutaan besar Swiss dan kedutaan besar Kanada. Mereka menegaskan komitmen masing-masing negara dalam upaya penegakan hak asasi manusia dalam setiap level masyarakat.
Inspirasi Nurul Izzah
Nurul Izzah mengawalinya diskusinya kali ini dengan cerita mengenai dinamika politik yang terjadi di Malaysia. Pihak Oposisi Malaysia mendapatkan kesulitan dalam melakukan kritik dan kebebasan dalam melakukan ekspresi politik akibat kebijakan Sedition Act yang diterapkan oleh pemerintahan Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Najib Razak.
Melihat antusiasme yang ditunjukkan oleh para mahasiswa, Nurul Izzah mengatakan, “Sekolah hak asasi manusia seperti ini mengingatkan akan pengalaman saya dahulu mendapatkan tutorial politik oleh para tokoh oposisi Malaysia. Banyak hal yang saya dapatkan dari kegiatan tersebut”.
Kemudian Nurul Izzah juga memberikan komentarnya mengenai perkembangan demokratisasi yang terjadi di Malaysia dalam kurun dekade belakangan ini.
“Malaysia sudah mencapai titik dimana reformasi politik, reformasi ekonomi harus segera dilaksanakan. Pihak oposisi harus berani melakukan koreksi politik jika terjadi kasus korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan, meskipun itu dilakukan oleh pihak kerajaan sekalipun,” tambahnya.
“Aktivis mahasiswa dan pelajar di Malaysia mengalami kesulitan untuk melakukan ekspresi dan kebebasan politik dikarenakan adanya College Act yang diterapkan oleh rezim pemerintah. Saat ini ada beberapa kawan aktivis mahasiswa yang terus berjuang dan melakukan demonstrasi damai agar kebebasan dalam ekspresi dan partisipasi politik mahasiswa kembali dibuka”, ungkap Nurul Izzah.
Terkait dengan proses reformasi politik yang terjadi di Indonesia, Nurul Izzah menekankan, “Gerakan Reformasi 98 yang terjadi di Indonesia merupakan inspirasi perjuangan bagi kami dan reformasi diadaptasi oleh gerakan oposisi Malaysia dalam upaya melakukan transformasi politik terhadap rezim pemerintahan yang korup”.
Nurul Izzah tidak lupa memberikan semangat kepada para mahasiswa dan memberikan mereka motivasi agar terus berjuang dan berkarya, “Young people must to be brave, be courageous and be confident to show your true identity”.
Ia kemudian menutup pernyataanya dengan sajak “Karawang-Bekasi” karya penyair legendaris Indonesia, Chairil Anwar. Hal ini mendapatkan apresiasi positif oleh audiens dan direspon Nurul Izzah, “Chairil Anwar is not belong only for you, his belong to people to all entire region of Southeast Asia”.
“Berilah kami arti, berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian”, pungkas Nurul Izzah mengakhiri pidatonya.
Adhe Nuansa Wibisono, S.IP (Cand) M.Si
Editor : Nur Afilin

Leave a Reply

Scroll To Top