Monday , 10 December 2018
update
Orang-Orang Pulau, Sebuah Resensi

Orang-Orang Pulau, Sebuah Resensi

Judul: Orang-Orang Pulau
Penulis: Giyan
Tebal: xii+332 hlm
Penerbit: Beranda
Terbitan: Desember 2013
ISBN: 978-602-99277-7-1

Ketika cinta dihadapkan pada perseteruan kelas sosial dan panggung budaya yang masih klise, kemana cinta akan menemukan titik akhir atas perjuangan melawan pemikiran-pemikiran primitif. Dalam perjalanannya, cinta tak jarang dihadapkan pada trah dan kekuasaan di mana status sosial masih dibeda-bedakan. Kasta masih berlaku. Kelas rendah dipandang sebelah mata. Dan, cinta hanya (harus) melihat status sosial. Kelas atas dan kelas bawah tidak akan menemukan titik temu karena cinta tak dapat menyatukan dua kelas yang berbeda, sekalipun jodoh ada di tangan Tuhan. Memang klise, tapi inilah yang ada dalam novel ini. Sebuah novel yang bercerita tetang cinta yang masih dipandu trah dan kekuasaan.

Novel dengan judul “Orang-Orang Pulau” ini menceritakan seorang pemuda bernama Darso dengan kehidupannya sebagai salah satu masyarakat yang menyandang status kelas bawah. Ia hidup bersama neneknya yang sudah tua. Di awal cerita neneknya lebih dulu menghadap Ilahi. Tinggallah ia sebatang kara menjalani liku-liku hidup dan tak jarang berhadapan dengan duri-duri kehidupan. Ditinggal seorang nenek yang selama ini menemaninya maka mulailah ia berjuang mempertahankan hidupnya dalam kesendirian dan kemiskinan. Sedangkan di sisi lain orang-orang ningrat makin berkuasa atas orang miskin.

Pergulatan batin dimulai ketika Darso harus bersentuhan dengan keluarga ningrat. Ia dihadapkan pada cinta yang datang dari seorang gadis keturunan dari keluarga ningrat untuk dirinya. Gadis bernama Supini itu adalah kembang desa yang dipuji-puji masyarakat karena kecantikan dan kebaikannya. Siapa yang mengira Supini akan mencintai pemuda miskin bernama Darso yang tak selevel dengannya. Tapi inilah cinta. Cinta tak memandang bulu dan trah. Ketika cinta datang siapa yang bisa menghalanginya. Sedangkan Darso sendiri tidak bisa mengelak cinta yang juga mulai bersemi di hatinya. Ia berusaha jujur pada kehendak hatinya meski harus bertentangan dengan kasta yang berlaku. Mulailah ia memperjuangkan cinta yang berdiri di atas perbedaan kasta. Bukan hanya cinta yang ia perjuangkan, melainkan juga harus melawan kemiskinan hidup dan pemikiran-pemikiran primitif masyarakat yang masih terbelakang dan klise.

Cinta dan kemiskinan bergelut menerjang hidup Darso. Kelas atas selamanya duduk di atas. Pemikiran seperti itu ditentang oleh Darso. Ia tidak setuju dengan anggapan-anggapan masyarakat yang mengagungkan keturunan ningrat. Di samping mendapat tantangan hidup karena hidupnya dalam kemiskinan, ia juga mendapat ancaman dari keluarga Supini. Masalah menjadi lebih runyam ketika Supini dilamar dua pemuda sekaligus yaitu Rozaki dan Feri yang keduanya sama-sama keturunan dari keluarga ningrat. Ancaman bertubi-tubi menghampiri Darso, bukan hanya dari keluarga Supini tapi juga dari dua keluarga yang sama-sama berambisi mendapatkan Supini. Di sisi lain, cinta Supini dan Darso semakin membara. Dua sejoli itu tidak bisa dipisahkan sekalipun maut menghadang. kisah cinta yang berdiri di atas perseteruan keluarga. Inilah kisah cinta yang sangat menggetarkan.

Novel ini didukung oleh setting tempat yang benar-benar nyata dan penulis mendeskripsikan dengan nyata pula. Bukan hanya segi geografis melainkan juga sosio-antropologisnya. Yaitu sebuah kampung bernama Katapang, salah satu kampung di pulau Ra’as. Katapang adalah sebuah kampung yang masih jauh dari pendidikan karena masyarakatnya lebih mementingkan materi dari pada pendidikan. Sebuah kampung yang masih terbelakang dari peradaban dan perkembangan. Penulis mendeskripsikannya dengan detail, didukung identitas penulis sendiri yang memang dilahirkan di pulau Ra’as. Sangat mendukung.

Membaca novel ini membuat kita seakan-akan menjadi bagian dalam ceritanya. Kata-kata yang digunakan penulis mengalir meski di awal terkesan dipaksa. Akan tetapi, novel ini sarat dengan makna dan perjuangan menjalani hidup yang kadang di atas kadang di bawah.

Novel yang diterbitkan oleh Beranda ini kaya dengan semangat hidup dan nilai-nilai kemanusiaan yang dibingkai dalam berbagai suasana menggetarkan. Selain menyajikan fakta-fakta sosial tentang masyarkat Katapang mulai dari tradisi pesta keluarga ningrat untuk melanggengkan keningratannya yang kemudian dari pesta inilah muncul konflik, kebiasaan masyarakat pada bulan Ramadhan dengan mengadakan lomba thung-thung antar desa, lagu-lagu daerah, dan tradisi bersalam-salaman menjelang lebaran, novel ini juga menyajikan perjuangan orang pulau dalam meniti arus kehidupan yang kadang mengalami pahit-getir penuh duri.

Novel ini layak dibaca oleh para pemuda guna menstimulasi jiwa dalam menumbuhkan semangat perjuangan dalam mengarungi kegetiran hidup ketika dihadapkan pada fakta sosial. Terutama orang-orang pulau wajib hukumnya membaca novel ini. Selamat membaca!

Peresensi: Elliya Nuril Karimah
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top