Wednesday , 19 September 2018
update
Pahlawan : Bukan (Sekadar) Semboyan

Pahlawan : Bukan (Sekadar) Semboyan

Hari ini, tanggal 12 November 2014 adalah hari yang bertepatan dengan Hari Kesehatan Nasional yang ke-50. Pada hari ini, seperti tahun-tahun sebelumnya, para insan Indonesia memperingati Hari Kesehatan Nasional ini, terutama insan Indonesia yang kehidupannya berhubungan dengan dunia kesehatan. Namun, semoga 12 November bukan hanya sekadar ritual tahunan semata, tapi ritual yang didalamnya terkandung makna ya lebih mendalam yaitu penghayatan Hari Kesehatan Nasional dan sekelumit pertanyaan mengenai “Apa Kabar Kesehatan Indonesia?”. Saya yakin, Hari Kesehatan Nasional bukan hanya sekadar hari biasa tanpa makna dan goresan sejarah, tapi Hari Kesehatan Nasional adalah hari yang telah dibangun oleh keringat dan perjuangan pahlawan-pahlawan Bangsa yang merasa bahwa Kesehatan Indonesia sama pentingnya dengan Keberadaan Negara Indonesia. Tanpa adanya orang-orang yang sadar akan pentingnya Kesehatan Indonesia, pastilah Hari Kesehatan Nasional tidak akan pernah muncul ke permukaan. Hal tersebut berlaku pula untuk pahlawan, tanpa adanya kesadaran membangun bangsa, pastilah pahlawan tidak akan pernah muncul ke permukaan untuk memperbaiki kondisi bangsa menjadi bangsa yang bermartabat.

Sayangnya, hari ini saya tidak terlalu merasakan hawa heroiknya Hari Kesehatan Nasional. Mungkin ini hanya perasaan saya saja atau memang tidak ada yang mengingat hari bersejarah itu. Mungkin, karena telah menjadi agenda ritual tahunan, akhirnya Hari Kesehatan Nasional hanya dianggap sebagai ritual semata dan akhirnya menjadi tidak penting. Herannya, bahkan di Fakultas Rumpun Kesehatan di salah satu Universitas di Indonesia tidak terdengar suara-suara atau tindakan perayaan dan pemaknaan Hari Kesehatan Nasional kecuali di Fakultas tempat saya belajar di mana saya dan kawan-kawan seperjuangan saya menjadi pelaku perayaan Hari Kesehatan Nasional dan pemberitahuan kepada civitas akademia bahwa hari ini adalah Hari Kesehatan Nasional. Bisa jadi, hal ini terjadi karena pengetahuan tentang sejarah sudah mulai menurun atau tidak diturunkan sehingga pemaknaan terhadap Hari Kesehatan Nasional semakin memudar.

Untuk memanggil kembali ingatan kita, coba saya ulas kembali terkait sejarah adanya Hari Kesehatan Nasional. Sejarahnya, sekitar tahun 1960-an, malaria menjadi penyakit yang berkembang subur di masyarakat Indonesia hingga menyebabkan ratusan jiwa mati karena malaria. Pada bulan September 1959 dibentuklah Dinas Pembasmian Malaria (DPM) yang kemudian pada bulan Januari 1963 diubah menjadi Komando Operasi Pembasmian Malaria (KOPEM) untuk membasmi Malaria di Indonesia dengan bantuan USAID dan WHO. Pada akhir tahun 1963 telah dijalankan penyemprotan rumah-rumah di Jawa, Bali, dan Lampung dalam rangka pembasmian malaria dengan racun serangga DDT. Usaha tersebut berhasil menurunkan “parasite index” dengan cepat, yaitu dari 15% menjadi 2%. Kemudian, tepatnya tanggal 12 November 1964, Bung Karno selaku Presiden Republik Indonesia melakukan penyemprotan secara simbolis di desa Kalasan, Yogyakarta. Yang dilakukan saat itu tidak hanya penyemprotan, tapi juga memberikan pendidikan atau penyuluhan kepadamasyarakat. Sejak saat itu, tanggal 12 November dikenal sebagai Hari Kesehatan Nasional. Begitulah sejarah yang cukup menggetarkan hati bagi orang-orang yang tergerakkan hatinya. Hanya orang-orang yang merasa ada masalah kesehatanlah yang akan tergerak untuk memperbaiki kondisi kesehatan bangsa.

Poin penting saya di sini bukanlah tentang Hari Kesehatan Nasional atau sejarahnya, tapi poin penting saya adalah mengenai siapa pahlawan yang telah melahirkan Hari Kesehatan Nasional dan siapa pahlawan penerusnya. Seperti kalimat yang selalu kita dengar terkait pahlawan bahwa bangsa yang baik adalah bangsa yang mengingat jasa para pahlawannya. Artinya, sebagai bagian dari bangsa Indonesia generasi penerus bangsa, sudah sepantasnya kita bisa menghargai jasa para pahlawan Indonesia. Salah satu caranya adalah dengan mengingat kontribusi apa yang telah mereka berikan untuk bangsa ini. Dan hari ini, saya pun mulai mendefinisikan kembali apa makna pahlawan.

Pembelajaran yang saya dapat pada Hari Kesehatan Nasional yang ke-50 ini terkait dengan kepahlawanan bahwa pahlawan adalah pribadi yang akan bergerak ketika yang lain belum bergerak, yang akan berbicara ketika yang lain belum berbicara, yang akan konsisten ketika yang lain berbelok atau berbalik arah, dan yang akan berjuang ketika yang lain menyerah. Mengapa bisa begitu? Menerawang dari sudut pandang mahasiswa di mana mahasiswa mempunyai peran sebagai agent of change, moral force, dan iron stock, maka sudah seharusnya ketiga peran tersebut secara tersirat adalah peran kita untuk menjadi pahlawan masa depan. Hari ini, saya dan teman-teman dari Kajian dan Aksi Strategis BEM IM FKM UI 2014 memilih untuk mencoba menjadi pahlawan kesehatan yang memanfaatkan momentum Hari Kesehatan Nasional pada hari ini.

Pada tanggal 12 November 2014 ini kami tidak ingin melewatkan momentum sakral kesehatn ini begitu saja sehingga kami memutuskan untuk memanfaatkannya dengan memberikan penuansaan dan pengingatan Hari Kesehatan Nasional kepada warga FKM maupun luar FKM melalui koridor bercerita bertema Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Di sini kami melakukan teatrikal patung bercerita melalui factsheet yang kita pampang yang hendak memberitahukan permasalahan JKN yang masih harus diselesaikan, antara lain masalah pelayanan kesehatan yang masih belum maksimal, fasilitas kesehatan yang belum memadai, sosialisasi JKN yang belum merata, dan Program Kartu Indonesia Sehat yang membuat masyarakat Indonesia semakin bingung dengan program kesehatan yang dibuat oleh pemerintah karena ketidakjelasannya. Selama masa teatrikal ini, saya pun mendengar celetukan-celetukan dari orang-orang yang lewat di depan kami, misalnya mereka bilang “Wah, hari ini Hari Kesehatan Nasional ya?”, “Oh iya ya, hari ini kan Hari Kesehatan Nasional”, “Wah, ternyata dokter di Indonesia masih sedikit ya”, “Iya tuh, apa sih Kartu Indonesia Sehat? Apa bedanya sama Jaminan Kesehatan Nasional?”. Bahkan, cibiran-cibiran buruk pun juga kami terima, misalnya “Kalian ngapain di sini?”, “Nggak malu apa ya ngelakuin ini?”. Mendengar cibiran itu pun, kami memutuskan untuk tidak memikirkannya. Kami akan lebih mengingat pendapat yang bisa membuat kami lebih bersemangat dan itu pun terbayar dari perkataan orang-orang yang merasa teringatkan tentang Hari Kesehatan Nasional dan permasalah Jaminan Kesehatan Nasional. Untuk mereka yang menghargai usaha kami dalam menuansakan Hari Kesehatan Nasional, kami mengucapkan terima kasih kepada mereka. Kami berharap mereka semakin tahu dan menjadi barisan pahlawan kesehatan yang memperjuangkan kesehatan Indonesia menjadi lebih baik. Untuk yang mencibir kami, kami hanya bisa berkata, “Terima kasih atas pendapatnya. Kami sudah melakukan usaha terbaik kami untuk mencoba memperbaiki Kesehatan Indonesia. Apa yang sudah kalian lakukan?”.

Dari sini, saya pun mendapatkan definisi lagi mengenai pahlawan yang sesungguhnya bahwa pahlawan layaknya pohon yang akan tetap berdiri tegak meskipun yang lain mencoba menumbangkan. Ketika yang lain mencoba menurunkan semangat kami dengan cibiran mereka, kami akan tetap berdiri memperjuangkan apa yang kami yakini benar. Pahlawan bukanlah orang-orang yang hanya bernarasi besar tapi tidak mempunyai tindakan. Namun, pahlawan juga bukanlah orang-orang yang hanya bisa bertindak tanpa oernah berpikir. Pahlawan adalah sosok hebat yang bisa memadukan keduanya secara bijaksana. Dan bagi saya, Indonesia butuh Pahlawan Kesehatan yang secara total mau memperbaiki kesehatan Indonesia dan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia.

 

Penulis : Evi Dwi Yanti
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top