Tuesday , 26 June 2018
update
Pancasila Anti Islam, Benarkah?

Pancasila Anti Islam, Benarkah?

Judul Buku: Pancasila Bukan untuk Menindas Hak Konstitusional Umat Islam: Kesalahpahaman dan Penyalahpahaman terhadap Pancasila 1945-2009

Penulis: Dr. Adian Husaini

Tebal: 260 halaman

Terbitan: Maret 2010 (Cetakan ke-2)

Penerbit: Gema Insani

Kedudukan Pancasila sebagai dasar negara Indonesia adalah kesepakatan para pendiri (founding fathers) kita. Begitulah faktanya. Sayangnya hingga kini masih ada pihak yang menganggap Pancasila itu anti Islam dan sebaliknya. Benarkah demikian? Hadirnya buku “Pancasila Bukan untuk Menindas Hak Konstitusional Umat Islam: Kesalahpahaman dan Penyalahpahaman terhadap Pancasila 1945-2009” ini agaknya bisa menjadi rujukan tepat. Penulis yang merupakan peneliti Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) Dr. Adian Husaini mengulas tuntas relasi Islam dan Pancasila ditinjau dari aspek historis dalam karya apiknya ini.

Secara anatomi, buku ini dibagi ke dalam tiga pembahasan.   Bab I penulis beri label “Berawal dari Piagam Jakarta”. Pada bagian ini penulis merunut sejarah awal perumusan Pancasila yang ditandai dengan ditandatanganinya Jakarta Charter (Piagam Jakarta) pada 22 Juni 1945. Presiden pertama RI sendiri, Ir. Soekarno bersama delapan orang lainnya yang tergabung dalam Tim Sembilan adalah pelaku sejarah yang membubuhkan tanda tangannya. Kedelapan orang yang dimaksud—berdasarkan pengakuan Ir. Soekarno—ialah Dr. Mohammad Hatta, Mr. A.A. Maramis, Abikusno Cokrosuyoso, Abdul Kahar Muzakkir, Haji Agus Salim, Mr. Achmad Subardjo, K.H. Wahid Hasyim, dan Muhammad Yamin. (hal. 20)

Namun, pada 18 Agustus 1945 ada penelikungan oleh pihak yang tidak suka Islam menjadi spirit juang dan kepemimpinan bangsa ini. Akibatnya, tujuh kata dalam Piagam Jakarta (dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya) dihapus dan dipisahkan dari induk katanya (Ketuhanan). Dasar negara yang sedianya disiapkan berasal dari Piagam Jakarta berubah menjadi “Ketuhanan Yang Mahaesa” sejak saat itu. Dan parahnya tokoh-tokoh Islam kala itu yang mengalah demi keutuhan NKRI, seakan dikelabuhi pula dengan beberapa janji penenang.

Lebih lanjut, di bab I ini penulis tak hanya membeberkan fakta sejarah yang kerap ditutupi, tetapi juga menjelaskan makna “syariat”. Sebagaimana diketahui, istilah yang satu ini memang sering menjadi momok bagi sebagian masyarakat non Muslim Indonesia. Bahkan belakangan sebagian kaum Muslimin pun ada yang sudah gagal paham memaknai “syariat” itu sendiri. Oleh karenanya, penulis menutup bab ini dengan meluruskan paradigma syariat sesuai makna asalnya.

Adapun pada bab II (Polemik “Tafsir Pancasila”), pembahasan kemudian memasuki ranah subtansi Pancasila. Dengan kayanya literatur dari para pelaku sejarah dan para peneliti ahli, penulis mengetengahkan gagasan yang cenderung out of the box. Intinya, setelah mengkaji banyak literatur muncul kesimpulan bahwa Pancasila hakikatnya dirumuskan di atas pondasi Islam. Bukti sejarah dan unsur kebahasaan bernuansa Islam amat kental dalam tiap sila. Secara meyakinkan dikajinya sila “Ketuhanan Yang Mahaesa” dan “Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab” dengan pisau analisis ilmu sosial, khususnya sejarah dan bahasa. (hal. 131-227)

Kemudian, penulis yang juga Ketua Program Doktor Pendidikan Islam Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor ini menutup dengan apik buku setebal 260 halaman ini. Adalah bab III “Penutup: Perjuangan Belum Berakhir” yang menjadi pendinginan dari buku ini. Melalui bab ini penulis hendak menyampaikan pesan bahwa meski faktanya Islam saat ini dipinggirkan dari pentas kehidupan berbangsa dan bernegara, perjuangan kita semestinya tidak surut. Demi menjelaskan kaidah bahwa perjuangan tanpa henti ini, penulis banyak mengacu pada buku Hakadza Zhahara Jiilu Shalahuddin wa Hakadza ‘Aadat al-Quds karya Dr. Madjid Irsan al-Kilani. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul “Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang Salib: Refleksi 50 Tahun Gerakan Dakwah Para Ulama untuk Membangkitkan Umat dan Merebut Palestina ”. Menurut Dr. Madjid, sebagaimana dijabarkan penulis, keberhasilan Shalahuddin al-Ayyubi mengembalikan Jerusalem ke pangkuan umat Islam pada tahun 1187 (sebelumnya berada di bawah kekuasaan pasukan Perang Salib sejak tahun 1099) bukanlah kerja instan dan individu. Kemenangan itu adalah produk sebuah generasi baru yang telah disiapkan oleh para ulama yang hebat. (hal. 239)

Oleh karena itu, lanjut penulis, diperlukan kerja kolektif yang terarah dan integratif. Tak bisa kita menaruh harapan hanya pada bidang politik dan ekonomi. Bahkan lebih penting daripada itu, menyiapkan generasi penerus yang unggul keimanan, ilmu, dan akhlak adalah kunci menyongsong kemenangan yang gilang-gemilang.

Peresensi: Nur Afilin

 

 

Leave a Reply

Scroll To Top