Wednesday , 21 November 2018
update
Pelita Peradaban, Guru

Pelita Peradaban, Guru

Alangkah mulia profesi guru. Tidak hanya bekerja demi nafkah, tetapi juga panggilan jiwa. Di pundak guru, terletak masa depan bangsa. Menjadi guru tidak cukup hanya berbekal kemauan. Menurut Pasal 40 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, “Guru harus mampu menciptakan suasana pendidikan menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis.”

Tidak mudah menyandang profesi guru. Apalagi profesi yang dulu dikenal “pahlawan tanpa tanda jasa” ini tidak lagi dipandang sebelah mata. Pemerintah telah mengucurkan sejumlah fasilitas dan kemudahan, seperti beasiswa pendidikan, tunjangan profesi, dan lainnya. Berbagai fasilitas itu tentu akan melahirkan tuntutan yang harus dapat diwujudkan.

Mampukah guru memacu kualitas diri untuk meningkatkan mutu pendidikan? Tugas pendidikan tidak semakin ringan. Lihatlah tawuran antarmurid yang kerap menjadi hiasan media. Belum lagi kejatuhan moral akibat dampak buruk media. Guru dituntut mampu mengais wawasan dan pengalaman untuk mengatasi irama kehidupan. Tampil sebagai pelita peradaban di garda terdepan.

Dilihat dari risiko tugas yang diemban, guru bukan sekadar dokter. Risiko kesalahan dokter adalah cacat atau kematian. Tetapi kesalahan guru akan berakibat fatal seumur hidup. Kesalahan pendidikan hari ini akan menyebabkan kehancuran murid di masa mendatang. Guru curang akan melahirkan koruptor. Guru malas akan melahirkan pecundang. Guru kasar akan melahirkan preman.

Inilah yang harus disadari guru. Tetapi, tampaknya kualitas guru kita hari ini masih belum memenuhi harapan. Setiap dilakukan uji kompetensi awal (UKA) guru, hasilnya sering jauh dari membanggakan. Tidak heran, Prof. Dr. Suyanto, dalam kolomnya di Gatra No 21 Tahun XVII, membandingkan kualitas guru di Indonesia dengan di Singapura. Hasilnya, guru kita kalah mutu dibanding guru di negeri singa itu.

Sebagian orang boleh saja beranggapan ini hanya soal kesejahteraan. Maksudnya, kesejahteraan guru di Singapura sangat terjamin, sehingga sehari-hari bisa fokus memikirkan pendidikan. Sebaliknya, guru di Indonesia bergaji rendah sehingga masih perlu bekerja sambilan untuk menutup nafkah keluarga. Tetapi, jika mau jujur, pangkal masalah yang sesungguhnya terletak pada kemauan dan kemampuan.

Banyak di antara guru kita yang mampu mengemban tugas sebagai guru. Hanya, lebih banyak lagi yang sekadar berperan sebagai pengajar tinimbang pendidik. Sehari-hari menyampaikan materi yang menjadi tugasnya lalu pulang. Lebih ironis, malah ada sebagian orang yang memilih profesi guru semata karena sulit mendapatkan pekerjaan atau tergiur tunjangan.

Jangan heran, tradisi membaca di kalangan guru sangat rendah. Apalagi budaya menulis. Bukan rahasia, tidak banyak guru, di sekolah elit sekalipun, yang mampu menghasilkan karya tulis berupa artikel di media atau buku. Ilmu yang disampaikan adalah stok lama. Dengan demikian, peran guru tidak ubahnya karyawan. Yang terpenting bekerja memenuhi tuntutan atasan dan menunggu gajian.

Pusing amat soal keikhlasan dan pengabdian. Akhirnya, kerap dijumpai guru berunjuk rasa menuntut gaji dan minta diangkat status menjadi pegawai negeri. Kondisi demikian tentu sangat membahayakan. Guru menjadi mirip pedagang. Bekerja bukan lagi atas panggilan nurani, melainkan kepentingan materi. Tidak usah heran jika kualitas moral dan intelektual murid kita semakin memilukan.

Hari ini, betapa mudah menjumpai alumni madrasah yang gagap membaca Kitab Suci. Pemahaman dan pengamalan ibadahnya juga masih mentah. Jangan lagi beribadah sunnah, melafalkan doa ibadah wajib sehari-hari saja susah. Bagi madrasah, kondisi demikian tentu merupakan kegagalan nyata. Karena, visi dan misi madrasah itu tidak cuma melahirkan generasi yang cerdas ilmu, tetapi juga cerdas akhlak dan ibadah.

Di sinilah guru dituntut memiliki kapabilitas dan kredibilitas mumpuni. Adalah tepat jika mendongkrak mutu sebuah lembaga pendidikan harus dimulai dengan meningkatkan mutu pengetahuan, keterampilan, semangat, ketulusan, dan profesionalisme gurunya. Bab IV Pasal 8 UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen berbunyi, “Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.”

Di tengah zaman informasi yang semakin membanjir ini, tugas guru di sekolah tidak boleh lagi sekadar mendeskripsikan dan mengajak murid menangkap nilai-nilai positif yang tersirat dalam buku pelajaran. Agar semakin cerdas dan berpengetahuan luas, murid harus selalu diajak untuk bersama-sama mencari, menangkap, mengejar, bahkan turut berpartisipasi dalam menciptakan temuan-temuan baru.

Untuk dapat memenuhi tuntutan itu, tentu saja guru harus terus mengakrabi berbagai sumber informasi, seperti internet, majalah, koran dan televisi. Bukan asal memerintah, tetapi juga menjadi teladan dalam keseriusan dan kegigihan dengan melatih ketajaman ilmu dan hati tanpa kenal henti. Ilmu dilatih dengan banyak membaca, berpikir, dan menulis. Mata hati diasah dengan banyak beribadah dan berdoa.

Inilah era dimana perubahan jangan lagi sekadar diatasi, tetapi harus diantisipasi jauh-jauh hari. Yang kita butuhkan adalah sosok guru yang benar-benar dapat menjadi lentera peradaban. Bukan guru yang tergolong kelas “labil ekonomi” (mengajar untuk hidup), apalagi dari kalangan yang sudah “konspirasi kemakmuran” (kaya tetapi serakah). Meskipun anggaran pendidikan naik menjadi 20 persen dari APBN, kalau gurunya tidak memiliki komitmen untuk mencerdaskan anak bangsa, kenaikan anggaran itu tidak banyak maknanya.

Penulis : M. Husnaini
Penulis Buku ‘Menemukan Bahagia’. Alamat Email: hus_surya06@yahoo.co.id
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top