Monday , 17 December 2018
update
Pembangunan Berkelanjutan Menurut Emil Salim

Pembangunan Berkelanjutan Menurut Emil Salim

Siapa tak kenal Prof. Dr. Emil Salim? Ya, tokoh senior yang satu ini memang dikenal sebagai sosok pemerhati lingkungan hidup. Ia menekuni secara serius bidang ini sejak ditunjuk Presiden Soeharto sebagai Menteri Negara Lingkungan Hidup pada 1978. Meski berlatar belakang pendidikan Ekonomi, kegigihannya berkiprah dalam dunia lingkungan hidup mengundang decak kagum. Alhasil, pada 14 September 2012 lalu World Wide Fund for Nature (WWF) menganugerahkan penghargaan bergengsi “The Leader for the Living Planet Award” kepadanya. Ini merupakan penghargaan yang diberikan WWF bagi individu di dunia yang berkontribusi secara signifikan terhadap pelestarian alam dan pembangunan berkelanjutan (sustainable development).

“Pembangunan nasional kita selama ini memang belum sustainable” singgung Guru Besar FEUI ini di studio TVRI Kamis (22/5) sore tadi.

Dijabarkannya bahwa upaya pembangunan idealnya mengacu kepada tiga arus (triple lines) yang  seimbang satu sama lain. Ketiga arus yang dimaksud yakni ekonomi, sosial, dan lingkungan. Menurutnya, hingga kini pembangunan kita cenderung berat sebelah. Bidang ekonomi kelihatan lebih dominan diperhatikan. Akibatnya, masyarakat terus terbelenggu dalam problema sosial. Dan yang tak kalah miris ialah lingkungan hidup Indonesia sering menjadi korban. Padahal, menurutnya suatu negara dikatakan maju bukan hanya lantaran pendapatannya yang tinggi. Masalah sosial yang nyata dihadapi rakyat dan keseimbangan alam pun menjadi parameter vital.

Demi meyakinkan pentingnya keseimbangan lingkungan hidup, Emil pun berbagi pengalamannya bergelut dengan dunia ini. Salah satu yang berkesan menurutnya ialah kisah heroik K.H. Basith dari Sumenep Madura dan para santrinya. Di lingkungan sekitar pondok pesantren K.H. Basith ada hutan yang cukup rindang padahal wilayah sana tergolong gersang. Usut punya usut ternyata Pak Kyai dan santrilah yang secara kontinyu menanami area tersebut selama lebih 10 tahun lamanya. Hasilnya, selain udara lebih bersih, mata air pun lebih mudah ditemukan.

Lain pula pengalaman Emil ketika berkunjung ke masyarakat Dayak Iban di Kalimantan Barat. Di sana tak ada rumah sakit dan puskesmas.

“Pak Medang, kenapa di sini tak ada tempat untuk berobat semisal rumah sakit atau puskesmas. Kalau ada warga suku Bapak yang sakit bagaimana?” tanya Emil kepada sang kepala suku.

“Hutan dan alam yang berada di hadapan Bapak inilah apotik hidup kami” ujar Pak Medang, “kami tahu bagaimana menangani orang sakit dengan memanfaatkan apa yang tersedia di alam ini” lanjutnya.

Kemudian, diberitahukan kepadanya beberapa penyakit dan obat yang sudah tersedia di alam sekitar mereka. Salah satu yang paling menarik ialah menggunakan lintah untuk terapi penyakit vertigo. Pak Medang bahkan mempraktikkan langsung pengobatan via lintah ini dan memang terbukti khasiatnya. Belakangan ketika kembali ke Jakarta Emil mencari tahu khasiat lintah ini dari intansi pemerintah tercaya dalam bidang kesehatan. Terbukti, ternyata lintah memiliki fungsi pengobatan sebagaimana diyakini masyarakat Dayak Iban.

Masih menurut Emil, tentu tak melulu berhubungan dengan kesehatan saja jika kita memperhatikan pembangunan lingkungan hidup. Nilai tambah (value added) ekonomi bisa pula didongkrak dengan memanfaatkan kekayaan alam Indonesia yang tiada duanya ini. Hanya saja perhatian terhadap prinsip “peremajaan pasca pemanfaatan” harus diperhatikan.

Terakhir, Emil menyatakan bahwa di luar paradigma pembangunan nasional ini, lingkungan hidup memang mutlak perlu dijaga. Pewarisan kepada generasi akan datang ialah salah satu alasan.

“Selain itu, sebagai makhluk sudah seharusnya kita menyeimbangkan harmoni di tiga lini, yaitu harmoni berhubungan dengan Tuhan, masyarakat, dan alam” simpul keponakan Pahlawan Nasional Indonesia H. Agus Salim ini.

 

Oleh: Nur Afilin

 

Leave a Reply

Scroll To Top