Wednesday , 13 December 2017
update
Pemuda dan Muslim Bali Gelar Dialog Kebangsaan Tolak ISIS

Pemuda dan Muslim Bali Gelar Dialog Kebangsaan Tolak ISIS

DENPASAR—Suasana  Aula Gedung Keuangan Negara I yang beralamat di Jl. Dr. Kusuma Atmaja, Renon, Denpasar pada Ahad (20/9/2015) pagi nampak begitu ramai. Ratusan mahasiswa dan pemuda muslim se-Bali berbondong-bondong menghadiri dialog kebangsaan yang diselenggarakan oleh Aliansi Mahasiswa Islam Bali.

Acara itu dimotori oleh organisasi Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) Bali, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Bali, serta didukung oleh berbagai elemen mahasiswa dan pemuda Islam lainnya seperti Unit Kegiatan Kerohanian Islam Forum Persaudaraan Mahasiswa Mahasiswa Islam Universitas Udayana (UKKI FPMI UNUD), Pusat Komunikasi Dakwah Kampus Bali (Puskomda Bali), Ikatan Mahasiswa Muslim Sekolah Tinggi Ilmu Komputer Bali (IMMUKI STIKI), Ikatan Mahasiswa Muslim Universitas Mahasaraswati Bali (M3), Muslim Community of STIKOM Bali (MCOS Bali),  Keluarga Besar Mahasiswa Muslim Politeknik Negerti Bali (KBUI PNB), Dewan Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Al Ma’ruf (Dema STAID), Pelajar Islam Indonesia (PII) Bali, Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Bali, dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Bali.

Tema yang diangkat dalam dialog kebangsaan tersebut adalah “ISIS dalam Pandangan Islam Rahmatan lil’ Alamin dan NKRI”. Hadir sebagai pembicara dari Pangdam XI Udayana, Mayor Inf. Sukijan S.Ag, MH dan akademisi dari Politeknik Negeri Bali, Muhammad Yusuf ST, M.PdI, M.Eng.

Dalam sambutannya, Ketua Aliansi Mahasiswa Islam Bali, AS Hamdi, mengatakan bahwa kegiatan itu dilaksanakan dengan tujuan untuk membuka pemikiran masyarakat Indonesia, khususnya di Bali, bahwa Islam bukanlah seperti ISIS yang anarkis dan bertentangan dengan konsep Pancasila, NKRI, dan kebhinekaan yang ada di Indonesia. Melalui kegiatan itu, ia berharap seluruh gerakan pemuda dan mahasiswa Islam bisa turut serta menangkal gerakan ISIS yang bisa mengancam keutuhan NKRI.

Sukijan memulai sesi awal dialog kebangsaan dengan materi ISIS dalam konteks NKRI. Tentara yang bertugas sebagai Kasti TUUD Bintaldam XI Udayana itu mengajak para hadirin yang hadir untuk menghayati dan mengamalkan empat konsensus berbangsa, yaitu Pancasila, UUD 1945,  NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika. Menurutnya, anak muda  harus memiliki mental bangsa Indonesia yang meliputi kejuangan, ideologi (nasionalisme), dan rohani (iman dan takwa). Bila ketiganya sudah dimiliki, maka para generasi muda tidak akan terpengaruh dan bergabung dengan gerakan ISIS.

Sedangkan Muhammad Yusuf memberikan materi ISIS dalam pandangan Islam yang rahmatan lil ‘alamin dan NKRI. Mantan aktivis organisasi FPMI UNUD dan KAMMI Bali itu mengatakan bahwa ISIS bukanlah Islam karena Islam tidak mengajarkan untuk membuat pertumpahan darah dan menebar teror. Menurut pria yang menjabat sebagai sekretaris MUI Kabupaten Tabanan, Bali itu ISIS lebih berbahaya dari organisasi teror Al-Qaeda karena gencar merekrut para anak muda yang masih belum terlalu paham memahasi Islam secara seutuhnya. Yusuf juga menambahkan bahwa dalam merekrut para anak muda ISIS kerap mengangakat isu Daulah Islamiyah dan propaganda eskatologis (klaim yang menyatakan bahwa ISIS bertempur atas dasar kebaikan untuk menumpas kejahatan, red). Selain itu, lanjut Yusuf, banyak penyimpangan yang dilakukan ISIS, misalnya adalah  mengklaim pimpinan mereka sebagai seorang khalifah.

Saat sesi tanya jawab banyak hadirin antusias untuk bertanya. Suasana diskusi berjalan dengan lancer sampai akhir acara. Di penghujung acara, masing-masing ketua organisasi Islam menandatangani pernyataan penolakan terhadap paham ISIS.

Kontributor : Herdian Armandhani, SE

Editor : Nur Afilin

Leave a Reply

Scroll To Top