Wednesday , 14 November 2018
update
Pengajian Sastra FLP Jakarta Raya Edisi November

Pengajian Sastra FLP Jakarta Raya Edisi November

JAKARTA—Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Jakarta Raya menggelar Pengajian Sastra  di Ruang Audiovisual Museum Mandiri, Jakarta, Ahad (24/11). Puluhan anggota FLP se-Jabodetabek dan sekitarnya memenuhi ruangan yang disediakan panitia.

Agenda rutin bulanan itu mengangkat tema “Jalan Kreatif Sastra Profetik”. Hadir sebagai pembicara sastrawan senior Prof. Abdul Hadi WM, penulis ternama Naning Pranoto, dan M. Irfan Hidayatullah.

Prof. Abdul Hadi yang banyak dianggap sebagai salah satu pelopor sastra profetik Indonesia mendapat giliran pertama untuk berbicara.

“Sastra profetik itu bersumber dari penggambaran ayat-ayat Tuhan. Adapun ayat-ayat Tuhan sendiri bias dibagi menjadi tiga, yakni yang terdapat dalam kitab suci, diri manusia, dan segala yang ada di dunia ini termasuk peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya,” kata Prof. Abdul Hadi yang pernah mengambil studi International Writing Program di University of Iowa, Amerika Serikat.

Dia menambahkan, perbedaan antara sastra profetik dengan sastra lain terletak pada aspek ajaran, amanat, dan pesan moral yang mendalam.

Sesi kedua, giliran M. Irfan Hidayatullah yang merupakan dosen Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran Bandung memaparkan materi.

“Menurut saya sastra profetik atau mungkin bias disebut sastra keagamaan tidak akan pernah hilang, walaupun ada saja kelompok orang yang melakukan dekonstruksi terhadap agama. Hal ini disebabkan, salah satunya, karena ia lahir dengan dorongan kebutuhan menyebarkan kebaikan,” kata Irfan yang juga penulis novel “Sang Pemusar Gelombang”.

Kebutuhan menyebarkan kebaikan itu, lanjut Ketua Umum FLP Pusat 2005-2009 itu, lahir setelah melalui proses internalisasi nilai-nilai yang penulis dapatkan dari mengkaji banyak hal.

Sementara Naning Pranoto yang sempat mengambil studi creative writing di Australia banyak memberi kritikan dan masukan khusus bagi FLP. Dia juga berbagi beberapa tips menulis.

“Modal penulis itu hanya kata-kata, tapi bukan sembarang kata. Kata-kata yang keluar adalah serangkaian kata pilihan yang memiliki makna mendalam,” kata Naning.

Ihwal sastra profetik, penulis yang kerap menjadi juri di banyak perlombaan ini sepakat akan pentingnya sastra profetik.

“Berkarya tanpa menyertakan ajaran-ajaran “kelangitan” adalah sia-sia. Perlu ada keseimbangan antara unsur “kebumian” dan “kelangitan” dalam karya sastra,” tambahnya.

Usai materi, agenda dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan pembagian doorprize. Acara ditutup dengan beberapa pengumuman dari pengurus FLP Wilayah Jakarta Raya.

Nur Afilin

Leave a Reply

Scroll To Top