Wednesday , 24 October 2018
update
Perlunya Daya Tahan Politik Aktivis

Perlunya Daya Tahan Politik Aktivis

Terdapat sabuah tulisan di Kompas (Senin, 13/5/2013) pada kolom Politik & Hukum tentang “Aktivis Perlu Daya Tahan Politik”. Tertera jelas di bawah judul pernyataan “Tak Semua Idealisme Bisa Diperjuangkan di DPR”.

Tulisan Kompas ini banyak mengangkat tentang alasan fenomena masuknya aktivis dalam panggung politik tanah air. Bukan hal baru memang. Bahkan tak hanya aktivis yang memang semasa kuliah getol (massif) dengan pergulatannya seputar politik dan pemerintahan. Artis pun yang memberangkatkan diri dalam dunia hiburan berbondong migrasi ke panggung politik tanah air.

Disparitas latar belakang yang dimiliki aktivis yang masuk ke dunia politik banyak disoroti dalam tulisan ini. Kebanyakan para aktivis merupakan mereka dengan kemampuan pengelolaan organisasi dan massa yang tinggi namun minim pendanaan. Sebaliknya, Kompas mengkomparasikan dengan anggota dewan (politikus) yang berangkat dari pengusaha yang kaya suplai dana namun kerap kalah dalam hal organisasi.

Hal menarik lain yang diungkap dalam tulisan ini yakni tentang latar belakang majunya aktivis ke muka politik. Hal itu di antaranya memperbaiki kondisi bangsa ataupun mengeksekusi idealisme. Dua hal ini menjadi kewajaran latar belakang kenapa aktivis naik ke meja politik. Meski demikian, terkadang tidak luput tujuan aktivis masuk ke politik yakni demi pragmatisme uang dan jabatan. Hal ini dalam tulisan disorot sebagai hal yang dibutuhkan untuk dicounter, yakni dengan daya tahan aktivis.

Soe Hok Gie, sosok aktivis demonstran yang teguh dalam jalur di luar parlemennya, menjadi contoh aktivis dengan daya tahan politik. Gie bersama teman-teman satu visi pernah menghadiahi bingkisan pada rekan-rekan mereka mahasiswa dulu yang duduk di kabinet DPR-GR (Dewan Pimpinan Rakyat Gotong Royong). Bingkisannya sangatlah unik yakni satu perangkat alat kosmetik yang terdiri dari lipstick, bedak, dan teman-temannya. Intinya satu, ini merupakan bentuk sindiran dan protes Hok Gie terhadap teman-teman yang dulunya satu perjuangan. Hok Gie maksudkan alat kosmetik itu bisa membantu teman-teman aktivis di parlemen untuk selalu ‘tampil cantik’ di hadapan pemerintah orde baru agar tak dipecat dari kabinet.

Inti tulisan ini adalah tentang adanya daya tahan itu sendiri. Daya tahan itulah yang semestinya dibangun sejak awal. Daya tahan itulah yang semestinya terus dipupuk dan dikonsistenkan. Tentu saja, daya tahan individu takkan bisa berbuat banyak. Gempuran politik terang saja akan kuat mendobrak daya tahan itu apalagi daya tahan yang tak pernah diperbarui. Maka mentrnasformasikan daya tahan individu aktivis yang berkecimpung di parlemen menjdi daya tahan aktivis kolektif adalah sebuah keharusan.

Adalah pula tantangan bagi aktivis yang terjun dalam dunia politik untuk menunjukkan pada masyarakat keteguhan aktivismenya. Idealisme, keteguhan, kekuatan, kebersihan nurani, dan semangat juang yang dimilikinya saat masih menjadi ‘outsider’ mampu terus dipupukkembangkan saat ia menjadi ‘insider’ atau masuk dalam parlemen. Semua ini jelas tidak mudah, namun bukan berarti tidak mungkin. Maka menjaga dan memperhatikan ‘asupan’ para aktivis bisa menjadi salah satu hal konkret untuk menghasilkan daya tahan politik bagi aktivis yang dibutuhkan agar jangan sampai aktivis itu sakit.

Penulis : Sofistika Carevy Ediwindra

Leave a Reply

Scroll To Top