Thursday , 20 September 2018
update
Pilpres 2014, Belajar dari Piala Dunia 2014

Pilpres 2014, Belajar dari Piala Dunia 2014

Ada dua event besar yang terjadi pada awal pertengahan bulan ini. Yang pertama adalah berlangsungnya laga pamungkas dari Piala Dunia 2014 di Brasil. Piala Dunia yang dihelat tahun ini memang menjadi sorotan utama warga seantero jagad raya. Bukan hanya menampilkan kejutan dengan lahirnya ‘kuda hitam’ seperti Kolombia, Belgia, dan Kosta Rika, namun juga membenamkan tim-tim besar yang mempunyai tradisi serta kualitas juara sepak bola turun-temurun. Sebut saja Spanyol, yang mesti dibantai Belanda 5-0 di laga perdana, Inggris dan Italia yang pulang kampung setelah dipaksa bermain cukup keras melawan Kosta Rika, serta Portugal yang kalah 4-0 dari Jerman.

Tak hanya itu, mata kita juga dibuat terbelalak dengan dicukurnya Tuan Rumah sekaligus Juara Dunia lima kali, Brasil, oleh Jerman 7-1! Sungguh skor yang membuat hancur lembur rakyat Negeri Samba dan menjadi antiklimaks dari penyelenggaraan Piala Dunia. Jerman pun, tampil menjadi juara ajang bergengsi 4 tahunan ini setelah menaklukan Argentina.

Event yang kedua adalah Pemilihan Presiden (Pilpres) yang berlangsung pada 9 Juli 2014 lalu. Gelaran ini juga tak kalah hebohnya setelah dibumbui oleh serangkai debat capres hingga beredarnya ajakan untuk tidak memilih salah satu calon di hari-hari tenang. Dalam konstelasi pemilihan pemimpin bangsa ini, lembaga survei mendadak tenar pasca diumumkannya dua hasil quick count yang memenangkan kedua pasangan calon. Bahkan ada salah satu calon yang mengklaim menang mutlak, lalu menuduh pihak lainnya berbuat kecurangan.

Tak hanya itu, KPU pun dituding berpotensi ‘salah hitung’ bila tidak memenangkan calon tersebut. Sungguh ironis. Padahal negeri ini sering dipandang orang sebagai paling demokratis. Tapi faktanya, kini justru terjebak pada ‘pengklaiman kebenaran’ tanpa menghargai perbedaan dan hukum yang mendasar.

Dari dua event akbar tersebut, tentu kita bisa mengambil pelajaran yang berarti dari sebuah kompetisi. Dalam Piala Dunia misalnya, kita belajar bahwa tak semua negara unggulan akan melaju mulus melewati fase-fase di Piala Dunia. Bahkan Jerman sekali pun, mesti bersusah payah mengalahkan Aljazair dan Prancis, sebelum menang besar atas Brasil. Begitu pula dengan tim-tim favorit justru ‘melempem’ dan tersingkir pada kompetisi ini, termasuk Brasil selaku Tuan rumah. Ini mengajarkan kita, bahwa yang favorit belum tentu juara.

Alangkah indahnya jika pemikiran tersebut ditransformasikan ke ajang Pilpres 2014, di saat ada yang ‘dijagokan’ maka belum tentu jadi pemenang. Pilpres 2014 mengajarkan kita untuk siap menerima kekalahan alias legowo atas final count yang akan dilakukan serta diumumkan oleh KPU pada 22 Juli nanti. Bukan malah menuduh lembaga yang berwenang melakukan kecurangan/ manipulasi dan tuduhan miring lainnya. Kekurangan maupun kelemahan pasti akan ada. Oleh karenanya, kita mesti dukung penyelenggara pemilu ini agar dapat melaksanakannya tugasnya sebaik mungkin.

Sebagai rakyat Indonesia, kita tentu akan menerima siapa pun pemenang dari kompetisi ini. Hal yang mungkin tidak bisa kita terima ialah provokasi dan politik pecah belah yang merusak akal sehat anak negeri. Padahal, jalan perjuangan bangsa ini memenuhi harapan para peretas kemerdekaan masih panjang. Persatuan dan kedewasaan menjadi unsur penting dalam menjaga semangat founding father. Maka, bila ada yang mencoba merusaknya dan memperkeruh suasana, hanya satu kata: Lawan!

Achmad P. Nugroho (KAMMI Madani)

Editor : Nur Afilin

 

Leave a Reply

Scroll To Top