Wednesday , 14 November 2018
update
Pra Nikah Handbook

Pra Nikah Handbook

Tulisan ini merupakan ringkasan dari buku “Pra-nikah Handbook” dari Leyla Imtichanah. Terspesial dibuat untuk para akhwat yang sedang menanti kehadiran sang pangeran. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat.

“Ya Alloh, jangan biarkan hamba sendirian. Hadirkanlah seseorang yang bisa menjadi imam dan bisa memperkuat iman ku kepada Engkau.”

Do’a itu sangat tak asing lagi bagi kita. Ya. Do’a dari seorang wanita yang sedang dalam masa penantian. Masa dimana kita sebagai wanita di uji kesabarannya.

Setiap orang ‘normal’ ingin merasakan apa yang dinamakan pernikahan. Begitu banyak dalil Al-Qur’an maupun Hadits yang menjelaskan tentang keutamaan menikah. Keutamaan itulah yang menjadi pemicu keinginan untuk menikah.

Tapi, nggak cukup dengan modal pengen doank, kan? Kita harus benar-benar mempersiapkan diri untuk memasuki kehidupan baru yang lebih berwarna dari sebelumnya.  Persiapan itu hendaknya dilakukan jauh-jauh hari, bahkan sebelum jodohnya datangpun kita harus sudah siap-siap.

Karena orang cenderung hanya membayangkan kebahagiaan pasca menikah dan enggan untuk melihat sisi dimana kita akan menghadapi rintangan ataupun masalah dalam sebuah bahtera rumah tangga.

Maka, sebelum memasuki dunia baru itu, kita harus cermat menentukan pasangan hidup. Jangan sampai salah memilih, karena akan timbul penyesalan seumur hidup.

Kesalahan menentukan pasangan hidup biasanya di karenakan banyak hal, diantaranya “cinta, ketertarikan fisik, usia, desakan lingkungan, dsb”.

Kenapa cinta bisa menjadi faktor kesalahan dalam menentukan pasangan? Menikah karena cinta, kita akan berikeras untuk menerima calon apa adanya. Meskipun kita tau calon pasangan kita itu mempunyai akhlak yang buruk. Biasanya wanita akan berkilah dengan bilang, “Namanya juga udah terlanjur cinta, ya udah di jalani aja”.

Salah satu faktor hadirnya cinta yaitu adanya ketertarikan fisik. Betul nggak? Ya, memang manusiawi jika kita tertarik pada seseorang. Namun jika itu yang menjadi patokan kita untuk menikah, itulah yang menjadikan sebuah kesalahan. Misalkan, kita menikah karena pasangan kita ‘ganteng’, padahal kita tau kegantengan itu akan pudar secara perlahan sejalan dengan bertambahnya usia. Bisa jadi, kegantengan itu juga yang akan menjadi bumerang hancurnya sebuah rumah tangga.

Lalu, usia dan desakan lingkungan. Sebenarnya ini lazim terjadi di kalangan kita. Biasanya lingkungan di sekitar kita baik itu orang tua, saudara dekat atupun teman-teman akan merasa cemas jika kita belum menikah di usia yang sudah matang. Padahal kita tau bahwa setiap orang itu diciptakan berpasang-pasangan.

Bisa jadi karena desakan itu juga, kita ikut cemas memikirkan jodoh yang belum datang. Hingga akhirnya, kita menyerah pada nasib yang membawa kita pada jodoh yang salah karena tak tahan dengan omongan orang.

Memang setiap orang mempunyai hak untuk menentukan criteria tersendiri dalam menentukan pasangan hidup. Namun, kita juga harus melihat kadar kualitas diri kita sendiri. Jika kita menginginkan laki-laki yang shaleh, maka kita harus berusaha memantaskan diri menjadi wanita shalihah.

Oleh karena itu, Rasulullah telah menetapkan 4 kriteria yang sekiranya bisa menjadi patokan kita dalam mencari pasangan hidup. Yaitu fisik, keturunan, harta dan agama. Dan Rasulullah lebih menekankan kita untuk memilih pasangan yang agamanya bagus. Namun, jika calon pasangan kita agamanya baik, fisiknya cakep, hartanya banyak, dan dari keturunan yang baik, maka itu merupakan anugerah bagi kita yang patut kita syukuri.

Penulis : Rima Rahmawati
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top