Monday , 17 December 2018
update
Pramoedya Ananta Toer, Sang Pujangga Sastra

Pramoedya Ananta Toer, Sang Pujangga Sastra

Pramoedya Ananta Toer lahir pada 1925 di Blora, Jawa Tengah, Indonesia. Hampir separuh hidupnya dihabiskan dalam penjara – sebuah wajah semesta yang paling purba bagi manusia-manusia bermartabat : 3 tahun dalam penjara Kolonial, 1 tahun di Orde Lama, dan 14 tahun yang melelahkan di Orde Baru (13 Oktober 1965-Juli 1969, pulau Nusakambangan Juli 1969-16 Agustus 1969, pulau Buru Agustus 1969-12 November 1979, Magelang/Banyumanik November-Desember 1979)tanpa proses pengadilan.

Pada tanggal 21 Desember 1979, Pramoedya mendapat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat dalam G30S/PKI tetapi masih dikenakan tahanan rumah, tahanan kota, tahanan negara sampai tahun 1999 dan wajib lapor ke Kodim Jakarta Timur satu kali seminggu selama kurang lebih 2 tahun. Beberapa karya yang lahir selama masa penahanan ini di antaranya Tetralogi Buru (Bumi manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca).

Penjara tak membuatnya berhenti sejengkal pun untuk menulis. Baginya, menulis adalah tugas pribadi dan nasional. Dan ia konsekuen terhadap semua akibat yang ia peroleh bahkan meski berkali-kali karyanya dilarang dan dibakar.

Dari tangannya yang dingin telah lahir lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 45 bahasa asing. Lantaran kiprahnya di dunia sastra dan kebudayaan ia kerap mendapat penghargaan. Pramoedya mendapat penghargaan internasional di antaranya The PEN freedom-to-write Award 1988, Ramon Magsaysay Award 1955, Fukuoka Cultur Grand Price Jepang pada tahun 2000, The Norwegian Authors Union dan tahun 2004 Pablo Neruda dari Presiden Republik Chile Senor Ricardo Lagos Escobar.

Sampai akhir hidupnya ia adalah satu-satunya wakil Indonesia yang namanya berkali-kali masuk dalam daftar kandidat pemenang nobel sastra.

Diambil dari kata pengantar Penerbit Lentera Dipantara dalam buku Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer.

SCE

Leave a Reply

Scroll To Top