Saturday , 24 June 2017
update
Priority Seat yang Terabaikan

Priority Seat yang Terabaikan

Angkutan umum Transjakarta adalah sahabat utama bagi masyarakat Jakarta dan sekitarnya yang memanfaatkan jasa ini dalam menempuh perjalanan di Jakarta. Sejak awal beroperasinya, Transjakarta membawa harapan tersendiri bagi masyarakat Jakarta dalam menghadapi problem transportasi ataupun lalu lintas yang amat padat di ibukota ini.

Menggunakan jasa transportasi Transjakarta saya lihat mulai ada beberapa perkembangan dari segi pelayanan. Meski masih banyak yang perlu dibenahi seperti halnya jumlah muatan penumpang yang sering dibiarkan membeludak terutama di pagi dan sore hari (jam berangkat dan pulang kerja), kendaraan ini juga terkadang banyak yang mengalami kerusakan AC (air conditioner). Bayangkan saja, di saat berhimpitan manusia di dalam kendaraan yang meski sudah cukup besar untuk ukuran bus ini, AC bus mati atau rusak. Hal ini tentu sebuah petaka tersendiri bagi penumpang. Bagaimana kalau di antara penumpang ada yang tiba-tiba sesak napas, atau malah memang mengidap sesak napas. Bukan tanggung-tanggung, nyawalah yang jadi taruhannya.

Pada surat pembaca kali ini sebenarnya yang ingin menjadi fokus saya di antara sekian hal yang ingin saya keluhkan sebagai penumpang bus Transjakarta adalah soal priority seat. Saya seorang wanita yang bersyukur dengan adanya kebijakan prioritas atas tempat duduk di dalam bus tersebut. Akan tetapi, memang tak banyak yang sadar dan mau ikhlas melaksanakan apa yang tertera di gambar stiker Priority Seat yang biasanya ditempel di kaca bus tersebut.

Masih saja saya lihat baik wanita terlebih laki-laki yang cuek dengan adanya penumpang yang masuk kategori priority seat. Tak jarang saya lihat lelaki muda yang bugar badannya acuh saja berebut kursi duduk saat di dekatnya ada ibu-ibu paruh baya yang sejatinya jauh lebih membutuhkan duduk. Terlebih lagi jika tak ada satu penumpang pun yang merelakan untuk berdiri saat ada ibu hamil atau yang membawa bayi hendak duduk. Barulah mau berdiri saat petugas bus meminta kesediaannyanya pada penumpang.

Bukan. Bukan saya tak mengerti akan kelelahan semua penumpang bus Transjakarta. Saya yakin tak ada penumpang yang tak lelah. Hanya saja, marilah kita sama-sama menunjukkan pada diri kita dan sekitar bahwa masih ada masyarakat Jakarta yang peduli. Mari kita berbangga menyatakan bahwa Jakarta tak sekejam yang dirumorkan. Masih banyak kita yang mau berbagi, ringan membantu, murah senyum dengan ikhlas dan tulus menolong. Saya juga mengimbau pada pemerintah untuk ketat dalam menyediakan fasilitas aman dan nyaman dalam hal transportasi bagi warganya. Jangan pernah lupakan visi menjadikan Transjakarta sebagai transportasi yang berskala internasional. Maka implementasinya kami, warga Jakarta, nantikan dengan sabar.

Bukankah menciptakan Jakarta yang ramah adalah tugas dan mimpi kita bersama?

 

Penulis : Tika Ara, pengguna bus Transjakarta
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top