Monday , 16 July 2018
update
Ramadhan Bulan Syukur dan Sabar

Ramadhan Bulan Syukur dan Sabar

Kurang lebih sepekan lagi bulan Ramadhan akan datang. Ragam perasaan membuncah dalam diri kaum Muslimin. Sebagian ada yang mungkin agak menyayangkan datangnya Ramadhan. Sebulan nanti tak ada lagi sarapan dan siang sebagaimana biasanya. Mungkin itu yang ada dalam benak seorang Muslim yang masih lemah imannya. Sebaliknya, ada yang menyambut bulan suci dengan perasaan gembira. Baginya, Ramadhan berarti kenikmatan. Biarlah Allah SWT cabut sementara nikmatnya sarapan dan makan siang. Sebagai gantinya, Allah siapkan curahan nikmat lain yang tak terhingga bilangannya serta tak tergantikan keberadaanya. Nikmat apalagi yang lebih agung daripada merasakan manisnya ibadah kepada Allah dalam bingkai iman dan takwa kepada-Nya? Begitu prinsip seorang Muslim yang benar-benar teguh keimanannya.

Ramadhan yang menjelang menyapa kita memang bulan penuh keistimewaan. Tercatat beberapa nama lain yang menggambarkan watak bulan yang satu ini. Sebut saja syahrul ash-shiyam (bulan puasa), syahrul qur’an (bulan Al-Qur’an), syahru at-tarbiyah (bulan pendidikan/ pelatihan), syahrul mubarak (bulan keberkahan), syahrul maghfirah (bulan pengampunan), syahru ash-shabr (bulan kesabaran), dan lain-lain. Menurut hemat saya, hendaknya kita tidak berhenti pada mengetahui nama-nama lain tersebut. Lebih lanjut, jika kita ingin tiap detik Ramadhan makin bermakna hendaknya kita pahami benar-benar, hayati, dan aplikasikan makna-makna di balik nama tersebut.

Bulan kesabaran. Itulah satu dari sekian nama lain bulan Ramadhan. Berbicara ihwal sabar, akan hambar jika tak disandingkan dengan pasangannya, yakni syukur. Keduanya (sabar dan syukur) bagi orang beriman ibarat dua sisi mata uang. Tak terpisahkan. Keduanya ialah identitas paten dan inheren dalam diri seorang beriman. Sabar dan syukur ialah hal ajaib yang hanya dimiliki orang beriman, begitu kata Rasulullah. Dalam kesempatan lain, beliau beliau menyatakan bahwa iman itu terbagi menjadi dua, yang pertama terletak pada syukur dan satunya lagi pada sikap sabar.

Saking agungnya sabar ini kelak malaikat pun akan menyambut penghuni surga dengan ucapan: Salaamun ‘alaikum bimaa shabartum (Keselamatan atas kamu berkat kesabaranmu). Adapun syukur, adalah sikap agung yang Rasulullah amat perjuangkan selalu ada pada dirinya. Masih ingatkah kita sabda beliau, “Afalaa akuuna ‘abdan syakuuran” (Tidak bolehkah aku menjadi hamba yang bersyukur?) Jawaban berupa pertanyaan itu beliau lontarkan tatkala ‘Aisyah r.a. bertanya, “Mengapa engkau sampai begitu rajin Qiyamul Lail padahal Allah telah menjamin surgamu?” Begitulah pentingnya sabar dan syukur yang akan kita latih Ramadhan nanti.

Sebagai suplemen hati agar lebih yakin akan pentingnya sabar dan syukur, berikut ada sebuah kisah nyata terkait kedua akhlak mulia ini:

Namanya Pak Toni. Suatu hari, ia menjemput Ust. Bobby untuk mengisi pengajian di rumahnya. Di awal pertemuan Pak Toni langsung berujar pada Ust. Bobby, “Maaf Ustadz, saya jemputnya pake mobil seperti ini,” ungkapnya sambul tersipu malu.

“Itu tak jadi soal. Tak usah dijemput pun saya bisa berangkat ke sana kok sebenarnya. Asalkan paham alamatnya saja sudah cukup,” timpal Ust. Bobby.

Selama perjalanan Pak Toni tak banyak bicara. Entah kenapa ia bersikap seperti itu. Maka, Ust. Bobby berinisiatif membuka percakapan.

“Bagaimana kabar Bapak dan sekeluarga?” tanyanya.

Pak Toni tak lantas menjawab. Ia menarik nafas sejenak dan kemudian berkata, “Alhamdulillah sekali Ustadz, kami sekeluarga masih dilimpahi nikmat Allah yang berlimpah. Salah satunya ialah mobil ini. Alhamdulillah, mobil ini masih belum lama baru bisa kami beli,”

Usai menjawab, Pak Toni nampak murung. Ust. Bobby penasaran.

“Kenapa Bapak tampak murung sedangkan kondisi Bapak dalam kelimpahan nikmat Allah?” Ust. Bobby kembali bertanya.

Tak lama kemudian, mengalirlah cerita itu dari lisan Pak Toni. Dia bercerita bahwa dulu ia adalah seorang penguasaha kaya raya yang memiliki banyak peruasahaan. Namun, saat itu dirinya amat sombong. Masih diingatnya, bahwa pada tahun 1994 ia pernah mengucapkan pernyataan yang hingga kini ia terus sesali. Ketika itu memang usahanya tengah di atas angin. Tak ada satu pun mobil dengan merek terbaru saat itu, melainkan ia pasti membelinya. Rumah mewahnya pun ada dimana-mana.

Suatu hari masih di tahun 1994, ia mendengar salah seorang karyawannya baru membeli mobil yang tergolong merek murahan. Baginya, mobil macam itu samasekali tak berharga jika dibandingkan mobil-mobilnya. Maka, ia pun nyeletuk, “Amit-amit saya naik mobil kayak gitu.”

Tibalah di tahun 1997 krisis moneter (krismon) mulai merajalela. Puncaknya, semua perusahaan Pak Toni gulung tikar. Rumah, mobil, dan kekayaan lainnya terpaksa dijual. Hanya satu rumah yang masih tersisa dan diperjuangkan sebagai satu-satunya tempat berteduh. Ekonomi rumah tangga sehari-hari pun mendadak kolaps.

Dalam keadaan seperti itu, suatu hari entah mengapa ia terbangun dari tidurnya saat adzan Subuh berkumandang. Baginya, itu adalah adzan terindah yang pernah ia dengar. Selama ini panggilan Allah sama sekali tak menarik perhatiannya. Pak Toni bersegera berangkat ke masjid terdekat. Ia pun menjadi makmun shalat Subuh berjama’ah setelah sekian lama ia acuh terhadap shalat.

“Alhamdulillah. Saat itu saya merasa amat menikmati shalat Subuh tersebut. Hingga pada saat sujud rakaat terakhir yang cukup lama, saya merenung dalam hati. Saya merasa bahwa

sujud inilah yang selama ini ia lupakan. Ia lupa bahwa segala nikmat sekecil apapun berasal dari Allah dan harus disyukuri,” ujarnya terharu.

Hingg setelah kejadian itu, lanjut Pak Toni, ia mulai membenahi ibadah, akidah, dan ilmunya serta anggota keluarganya. Tiap malam ia bangunkan anak dan istrinya untuk shalat Tahajjud berjama’ah. Ia pun gemar mengikuti majelis ilmu. Tak lupa ia juga segera merintis usaha baru kecil-kecilan. Dengan kesabaran ekstra ia dan keluarga jalani hidup yang kontras dengan kehidupan sebelumnya. Hasilnya, alhamdulillah kini usaha Pak Toni mulai menampakkan hasilnya. Salah satunya ialah ia bisa membeli mobil yang kini ia naiki bersama Ust. Bobby.

Di akhir cerita, ia berkata, “Jika dulu saya menyatakan amit-amit naik mobil seperti ini. Maka, wahai Ustadz, saksikanlah bahwa sekarang saya nyatakan bahwa naik mobil ini jauh lebih nikmat ketimbang mobil-mobil mewah saya dulu karena rasa syukur saya kepada Allah adalah landasannya.”

Akhirnya, mari kita jadikan Ramadhan nanti sebagai bulan sabar dan syukur. Yakinilah bahwa tidak ada syariat dan ketentuan Allah sekecil apapun melainkan pasti mengandung kebaikan bagi kita di dalamnya. Percayalah bahwa ada kalanya Allah membayar langsung sikap sabar dan syukur kita di dunia tanpa menunggu kita menghadap-Nya. Selanjutnya, jadikan pula Ramadhan tahun ini lebih bermakna dari tahun-tahun sebelumnya. Maknai tiap satuan waktunya sebagai aset berharga bagi hidup kita di dunia dan akhirat kelak. Selamat menyambut bulan suci Ramadhan 1434 H. Ramadhan di hati, Ramadhan dinanti.

 

*Diadaptasi dari ceramah Tarhib Ramadhan oleh Ust. Bobby Herwibowo, Lc. (pemimpin Majlis Kauny dan trainer program Menghafal Al-Qur’an Semudah Tersenyum) pada Senin (1/7) di Aula Gedung Jasindo Pusat, Pancoran Jakarta Selatan.

Penulis : Nur Afilin

Leave a Reply

Scroll To Top