Thursday , 21 June 2018
update
Ramadhanku Berbeda

Ramadhanku Berbeda

Ramadhan akan datang sebentar lagi. Kurang lebih 26 hari kita akan menyambutnya.  Kata umat Islam, jika Ramadhan datang kita harus menyambutnya dengan senang hati. Persiapan harus kita lakukan baik persiapan jasmani rohani, pengetahuan, maupun materi. Persiapan itu patut dilakukan jauh-jauh hari sebelum ramadhan itu benar-benar tiba.

Tapi mohon maaf, kali ini saya hanya akan menyambut Ramadhan cukup dengan senyuman. Karena bagi saya, senyuman itu sudah cukup mewakili perasaan ini atas apa yang kami rasakan.

Ramadhan di sekolahku berbeda. Ia unik. Ia tak pernah mau bolos sekolah, meski sakit ia akan tetap memaksakan diri untuk berangkat. Bukan menurutnya belajar itu nomer satu, tidak sama sekali. Justru ia sering melewatkan waktu belajar hanya untuk bermain dan menggoda teman-temannya. Nilai-nilainya pun juga tak selalu baik, bahkan tak jarang ia mendapatkan nilai merah. Namun, Ia punya satu keyakinan unik bahwa sekolah itu: wajib. Di luar itu,  ia sudah mempunyai cita-cita. Menjadi montir, katanya.

Lagi-lagi ramadhan-ku ini berbeda. Ia sering membuat saya dan beberapa guru yang lain terkesima. Apa yang dilakukannya selalu di luar dugaan. Beberapa ulah yang dilakukannya membuat hati girang tak karuan, kadang pula membuat hati hilang kesabaran. Masih teringat jelas, saat itu ia datang ke kantor untuk membayar uang bulanan. Sambil melayani ramadhan, guru itu memberikan beberapa pertanyaan. Hingga terjadilah dialog singkat.

“Sekarang tanggal berapa, Ramadhan?

“Tanggal 15, eh 16 deng bu.”

“Oh ya, 1 minggu berapa hari?

“7 Hari”

“1 bulan berapa hari?

“25 Hari, bu”

“Yakin 25 hari?” [kita hanya tertawa tertahan sementara Ramadhan tersenyum polos]

“Ramadhan kamu anak ke berapa?

“Pertama, bu”

 “Adekmu udah sekolah?

“Udah, Bu. TK”

“Berarti sekarang kelas 1” [goda guru itu lagi]

“Iya, bu” jawabnya masih dengan mimik muka polosnya.

[kita semakin terbahak]        

Kulitnya yang gelap, Gayanya yang urakan, bajunya yang sering dikeluarkan, benar-benar mengatakan ia memang berbeda. Sifatnya yang lumayan nakal membuat kita geleng-geleng kepala. Setiap diperintah guru jika bertentangan dengan naluri menolongnya, ia akan mengawali dengan kata “Yeekk!!” dan sekarang virus ‘yeekk’ ini telah menyebar ke seantero kelas. Bahkan ada beberapa guru yang ikut terjangkit virus ini. Virus Ramadhan.

Dan yang lebih membuatnya berbeda adalah di balik sosoknya yang sok nakal itu, ternyata ia punya hati yang lembut. Kenakalannya itu akan tunduk dengan petuah ibunya. Kadangkala ia akan meneteskan air mata jika sudah mendengar ibunya memberikan nasihat.

Namanya memang Ramadhan, Ramadhan saja. Ramadhan yang berbeda. Dan kita cukup menyambutnya dengan senyuman saja.

 

Penulis : Dwi Puji Astuti, Guru SMPIT Insan Mulia Batanghari, Lampung
Editor : SCE

Leave a Reply

Scroll To Top